Rutinitas seorang Penyuluh Pertanian urusan Supervisi BPP Kembang Kuning, 03 Februari 2020 bertepatan dengan jadwal konsultasi yang perorangan dari petani yang bernama Nur Cahyono Desa Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong. Kegiatan Konsultasi perorangan merupakan atas dasar permintaan atau undangan dari petani, dalam hal ini permasalahan yang dihadapi ialah serangan Hama Ulat Grayak pada tanaman Jagung. Ulat grayak yang selama ini ada di Indonesia merupakan hama asli Indonesia yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Spodoptera litura. Namun kini, diawal tahun 2019 ini muncul spesies baru yang setelah ditelaah lebih lanjut adalah bukan hama asli dari Indonesia, yakni jenis Spodoptera frugiperda. Kalau dilihat dari berbagai referensi, Spodoptera frugiperda merupakan hama tanaman jagung yang selama ini penghuni benua Amerika bagian Tengah (yang beriklim tropis). Perbedaan Spodoptera litura dengan Spodoptera frugiperda adalah pada kerakusan dalam memakan tanaman, dimana untuk ulat grayak asli Amerika Tengah ini memiliki kerakusan dalam makan tanaman hingga 10 kali lipat dibanding spesies lokal. Selama ini untuk Spodoptera litura banyak makan diwaktu malam hari saja, sedang pada siang harinya tidur dan sembunyi. Sementara Spodoptera frugiperda, selalu makan tanaman jagung di sepanjang waktu siang dan malam tak berhenti, hingga habis tanamannya dan bahkan kalau sudah habis makanannya bersifat kanibal, yakni memakan sesamanya. Mengerikan tentunya, dan melihat kerakusanya hama ini terasa seperti monster kecil bagi tanaman jagung. Dalam pengamatan bersama petani dilahan jagung petani, ditemukan jenis ulat grayak (Spodoptera frugiperda). Adapun hasil yang direkomendasi : Tindakan Pencegahan Benih dan varietas Benih yang digunakan hendaknya memiliki daya kecambah yang baik, bebas dari penyakit. Varietas tahan bisa menjadi solusi. Waktu tanam Hindari terlambatnya waktu penanaman dan waktu penanaman yang tidak seragam pada satu lahan. Hal ini akan menyebabkan terus tersedianya inang dan makanan yang disukai oleh FAW (tanaman jagung muda). Kondisi tanah Hal ini sangat penting untuk diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat. Tanaman yang sehat akan lebih baik dalam menahan serangan hama dibanding tanaman yang kurang sehat. Penggunaan pupuk anorganik yang tidak seimbang (terutama penggunaan pupuk Nitrogen yang berlebih) akan meningkatkan intensitas serangan. Keanekaragaman jenis tanaman Salah satu aspek penting dari pencegahan serangan FAW adalah dengan menjaga keanekaragaman jenis tanaman pada suatu lahan. Metode tumpangsari dapat efektif untuk mengendalikan FAW. Monitoring Petani harus berkunjung ke lahannya sesering mungkin untuk mengamati, mempelajari, dan mengambil tindakan. Dimulai saat satu minggu setelah tanam dan minimal seminggu sekali. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat berkunjung ke lahan adalah : 1) Kesehatan tanaman, 2) Kecukupan kebutuhan air, 3) Tanda serangan FAW dan 4) Kehadiran musuh alami FAW Tindakan Pengendalian Pengendalian secara mekanis Salah satu cara paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan cara mencari dan membunuh larva dan telur FAW secara mekanis (dihancurkan dengan tangan). Beberapa petani di Amerika menggunakan abu, pasir, serbuk gergaji, dan tanah pada bagian daun muda yang masih menggulung untuk mengendalikan larva FAW. Abu, pasir, serbuk gergaji dapat mengeringkan larva. Tanah dapat mengandung nematoda entomopatogenik, virus NPV, atau bakteri seperti Bacillus sp. yang dapat membunuh larva FAW. Pengendalian secara hayati Agens pengendali hayati FAW memiliki banyak musuh alami yang berperan sebagai agen pengendali hayati yang dapat mengurangi populasi FAW sehingga dapat mengurangi dampak serangan FAW. Agen pengendali hayati terdiri dari: 1) predator yang memangsa hama; 2) parasitoid yang tahap larvanya merupakan parasit serangga lain; 3) parasit dan patogen seperti nematoda, cendawan, bakteri, virus yang dapat menyebabkan kematian. Biopestisida Biopestisida dapat digunakan sebagai bagian dari pengendalian terpadu FAW. Biopestisida adalah “formulasi hidup” yang berasal dari bahan alami yang berasal dari tumbuhan, hewan (termasuk parasitoid dan predator), atau mikroorganisme, dan diperbanyak pada jumlah tertentu untuk mengendalikan hama. *Sumber referensi : Nurnina Nonci, dkk. Pengenalan Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) Hama Baru Pada Tanaman Jagung di Indonesia. Kementerian Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Serealia, dan sumber lainnya) **FAW singkatan dari Fall Armyworm, sebutan lain dari ulat grayak Penulis : Munardi, SP (Penyuluh Pertanian Urusan Supervisi BPP Kembang Kuning)