Sektor pertanian menjadi kebutuhan prioritas dalam menghadapi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Sektor ini tidak bisa dianggap remeh karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok. Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia berdampak ke semua sektor usaha, namun tidak dengan sektor pertanian. Justru, sektor pertanian menjadi pengaman dan memiliki peluang dalam menghadapi wabah Covid-19. Sektor pertanian memiliki nilai ekonomi yang mampu membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global, termasuk krisis yang diakibatkan wabah covid-19 saat ini. Hal tersebut dikarenakan sektor pertanian selalu menjadi kebutuhan sehari-hari dan pengerjaannya tidak terlalu sulit yaitu hanya memakan waktu tanam selama 3-4 bulan. Kondisi saat ini sebagai momentum untuk menggenjot produksi pertanian seperti buah dan sayur-sayuran untuk meredam laju impor. Masa Pandemi Covid-19 membuat resah para petani di Kecamatan Kaliwungu khususnya di Desa Blimbing Kidul, Gamong dan Sidorekso yang saat ini di Bulan Mei sedang panen cabai. Betapa tidak wabah ini membuat harga cabai menjadi anjlok di tingkat petani. Hingga saat ini harga cabai berada pada kisaran Rp.7000,00 – 10.000,00 per kg ditingkat petani dan ditingkat konsumen Rp.12.000,00 - 15.000,00 per Kg. Turunnya harga tersebut seperti yang dijelaskan Bapak Muhlisin selaku ketua kelompok Tani Rejo Mulyo di Desa Sidorekso, “karena sulitnya pengiriman cabai ke pasaran luar daerah biasanya pada saat panen cabai, bisa dipasarkan ke beberapa kabupaten lainnya seperti Pemalang, Cirebon, Bandung, dan Jakarta, tetapi karena imbas covid-19 ini membuat pengiriman terbatas hanya di daerah Kudus saja, sedangan hasil panen berlimpah. Padahal selama ini melonjaknya harga cabai tak lepas dari tingginya permintaan dari luar daerah,” Jelas Muhlisin. “Apalagi sekarang ada beberapa wilayah yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Harga Cabai semakin tidak terkontrol, karena susah untuk melakukan pengiriman lagi. Petani di sini rata-rata menjualnya langsung ke pedagang pengepul.” kata Edi Sulistiyanto petani milenial dari Poktan Tani Makmur Desa Blimbing Kidul. Harga cabai saat ini Rp.7000,00 – 10.000,00 per kg, membuat para petani cabai harus gigit jari. Sebab dengan harga tersebut dianggap hanya setara dengan ongkos panen dan penghasilan yang diperolehnya tidak sepadan dengan biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan” Namun kami tetap optimis dan semangat dalam melakukan produksi dan panen,” imbuh Turaikhan salah satu anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki di Desa Gamong. Luasan Panen Cabai yang ada di Desa tersebut secara berurutan yaitu Desa Blimbing Kidul 2 Ha, Desa Gamong 3 Ha, dan Desa Sidorekso 3 Ha dengan rata-rata produksi 1,2 ton/ Ha. Petani di ketiga desa tersebut melakukan panen seminggu bisa dua kali. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan masyarakat untuk tidak perlu khawatir soal pangan, sejumlah 11 komoditas bahan pokok yang salah satunya cabai akan terus dikawal secara intens. Sinergi antara petani dan pihak terkait untuk menjamin mata rantai bisnis di sektor pertanian salah satunya komoditas hortikultura terus dijalin oleh Kementan. Hal senada juga ditegaskan kembali oleh Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono dalam Focus Group Discussion virtual pada hari Rabu 22 April 2020 bertajuk Meraup Untung Bisnis Pangan Petani Milenial di Tengah Pandemi Covid-19, “mengatakan bahwa pihaknya menyiapkan tiga strategi dalam menjaga stok pangan. Strategi tersebut meliputi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. "Untuk jangka pendek, kalau ada masalah segera selesaikan. Amankan produksi dan ketersediaan kebutuhan pangan minimal sampai Mei-Agustus 2020." Momon menjelaskan secara rinci, strategi jangka pendek terdiri dari membeli ayam peternak kecil dan dititipkan di pendingin milik swasta, menaikkan harga jual gabah petani. menjaga stok aman 11 komoditas utama di setiap provinisi, dan kegiatan padat karya. Rasa semangat dan optimisme tersebut bangkit ketika ada kebijakan dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Catur Sulistiyanto memberikan arahan agar semua ASN yang ada di lingkungan SKPD membeli produk sayuran terutama cabai dari petani. Pembeliannya bisa melalui daftar nama pembelian grup media social yang nantinya akan disampaikan melalui PPL pendamping kemudian langsung ke petani. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai pemasaran di tingkat petani agar tidak dijual ke tengkulak dan sebagai pengganti kegiatan pasar tani yang senantiasa dilakukan sebulan sekali. Berhubung adanya larangan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan orang banyak maka kegiatan pasar tani untuk sementara di tunda beberapa waktu. Langkah yang diambilnya cukup efektif untuk mengurangi permasalahan petani cabai tersebut.(OKS) OK SETYANTO SETYAWAN, S.P. Penyuluh Pertanian Pertama DPD Perhiptani Kudus Bid Kaderisasi