Luasnya hamparan padi sawah di kecamatan pondidaha yang mencapai sekitar 1200 Ha tidak sebanding dengan jumlah alat panen padi combine harvester yang ada sehingga saat musim panen raya tiba, petani di kecamatan pondidaha sering mengalami kesulitan memperoleh alat panen Combine harvester sehingga hasil panen kurang maksimal.Alat panen Combine harvester yang ada di pondidaha baik itu bantuan maupun milik pribadi petani hanya sekitar 7 unit sehingga tidak mampu memanen panen yang ada. Selain kesulitan memperoleh alat panen, petani juga kesulitan memperoleh tenaga kerja manusia untuk proses panen secara manual. Selain itu biaya yang dikeluarkan untuk panen secara manual juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan menggunakan mesin combine harvester.Proses panen padi sawah selama ini dapat teratasi jika ada alat panen dari provinsi sulawesi selatan. Dengan demikian diharapkan kepada pemerintah daerah untuk memberikan tambahan bantuan alat panen padi sawah berupa combine havester.Kesulitan memperoleh alat panen ini di rasakan petani di beberapa desa di pondidaha pada bulan Mei 2019 lalu untuk musim panen MT I. Dimana cuaca saat itu kurang mendukung, umumnya musim hujan. Selain itu padi yang berhasil di panen juga tidak ada pemgumpul yang mau membeli gabah petani. Harga gabah saat itu hanya berkisar Rp 3600-3800 /Kg. Akibat kondisi ini banyak gabah petani yang hitam dan busuk karena proses penjemuran yang kurang sempurna karena cuaca hujan yang terus menerus