Banjir yang terjadi sejak 7 Juni 2019 ini di akibatkan oleh curah hujan yang tinggi sejak beberapa minggu terakhir sehingga mengakibatkan kerugian terhadap petani. Sekitar 1204 Ha tanaman padi sawah siap panen di kecamatan pondidaha gagal panen terkena banjir. Luas lahan ini tersebar di beberapa desa yang terkena banjir tersebut diantaranya desa Puumbinisi, Hongoa, Wonua Mandara, Lalodangge, Kel Pondidaha, Amesiu, Mumundowu, Wonua Monapa, Lalonggotomi, Ahuawatu, Laloika, Belatu, Sulemnadara dan Ambuulanu. Banjir kali ini merupakan banjir yang terbesar di bandingkan banjir yang terjadi pada tahun 2013 lalu dengan kedalaman 1-3 meter ini . Bukan hanya tanaman padi sawah saja yang mengalami kerugian akan tetapi petani sayuran, peternak, perikanan, dan alat-alat pertanian juga mengalami kerusakan. Akibat kejadian ini petani harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di rumah keluarga, posko pengungsian dan panggung darurat yang mereka buat sendiri di depan rumah mereka untuk menjaga harta benda mereka yang sempat diselamatkan. Selain gagal panen, harta benda yang mereka miliki juga banyak yang hilang dan rusak terrendam banjir karena tidak sempat diselamatkan. Selama banjir terjadi juga tidak ada penerangan lampu listrik. Jalur transportasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan perahu dan rakit sederhana yang dibuat sendiri oleh petani. Untuk menggunakan transportasi perahu petani harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah bahkan jutaan.