Loading...

Petani Pintar Membuat Kompos

Petani Pintar Membuat Kompos
Kompos atau Pupuk Kompos adalah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik (tanaman maupun hewan). Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik dan anaerobik yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu. Proses ini disebut juga dekomposisi atau penguraian. Proses pembuatan kompos sebenarnya meniru proses terbentuknya humus di alam. Namun dengan cara merekayasa kondisi lingkungan, Kompos dapat dipercepat proses pembuatannya, yaitu hanya dalam jangka waktu 30-90 hari. Waktu ini melebihi kecepatan terbentuknya humus secara alami. Oleh karena tu, kompos selalu tersedia sewaktu-waktu diperlukan tanpa harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Pemberdayaan kelompok tani penting untuk selalu dibina dan dikembangkan dalam kelompok tani mampu mandiri dan berdaya saing untuk peningkatan produksi hasil pertanian. Langkah-langkah Pengomposan Pupuk Cair adalah sebagai berikut : Pilih sampah organik seperti sisa makanan, sisa sayuran, kulit buah, sisa ikan, dan daging segar agar terpisah dari sampah. Sampah berupa plastik, kardus bekas minyak, oli, beling, dan air sabun harus dipisahkan agar prosesnya berjalan cepat. Sampah yang berukuran besar seperti batang tanaman, sayuran daun, atau kulit buah yang keras sebaiknya dirajang terlebih dahulu agar pembusukannya sempurna. Selain itu, volume sampah yang terapung juga semakin banyak. Siapkan cairan bioaktivator biosca, yakni salah satu bioaktivator yang bisa digunakan untuk mempercepat proses pengomposan. Bioaktivator ini berfungsi untuk membantu mempercepat proses pembusukan. Tata cara penggunaan Bioaktivator sebagai berikut, Pertama, siapkan sprayer ukuran 1 liter. Kedua, isi sprayer dengan air. Sebaiknya gunakan air sumur karena tidak mengandung kaporit. Namun, jika ingin memakai air PAM, air tersebut harus diendapkan terlebih dahulu selama satu malam. Tujuannya agar kaporitnya menguap. Pasalnya, kaporit di dalam air bisa mematikan mikroba yang ada di dalam biosca. Ketiga, tambahkan boisca ke dalam sprayer dengan perbandingan 1 liter air ditambah dengan 1-2 tutup botol biosca. Dan, Keempat, kocok-kocok sampai merata. Setelah itu, cairan siap digunakan. Setelah sampahnya terkumpul dan dirajang, masukkan seluruhnya ke dalam komposter, lalu semprotkan biosca hingga merata ke seluruh sampah dan tutup rapat komposter. Anjungan Pupuk Cair Mandiri (APCM) merupakan kegiatan pemberdayaan petani dalam membangun perilaku dan sikap serta keterampilan. Petani dapat bekerja sama memanfaatkan fasilitas Anjungan Pupuk Cair Mandiri (APCM) pada tong komposter yang berisi berbagai bahan dasar pupuk cair yang ditempatkan di lokasi persawahan kelompok tani sehingga petani pada waktu akan berangkat ke sawah dapat memanen pupuk cair hasil komposter pada tong yang berisi pupuk cair, dengan catatan sebagai kas kelompok setiap anggota diatur dalam pengambilan pupuk cairnya agar kegiatan ini dapat berkembang selanjutnya. Pupuk cair ini mempunyai banyak manfaat, mulai dari fungsinya sebagai pupuk, hingga sebagai aktivator untuk membuat kompos. Untuk membuat kompos cair dibutuhkan alat atau wadah yang disebut komposter. Yakni sebuah tempat yang dibuat dari tong sampah plastik atau kotak semen yang dimodifikasi dan diletakkan di dalam atau di luar ruangan. Komposter ini bertujuan untuk mengolah semua jenis limbah organik rumah tangga menjadi bermanfaat. Pada awal pemakaian, komposter baru bisa menghasilkan lindi (air sampah) atau kompos cair setelah dua minggu. Selanjutnya, pemanenan lindi dilakukan setiap 1-2 hari sekali. Cara Pembuatan Bioaktivator Biosca Adapun bioaktivator biosca merupakan biang untuk proses dekomposisi bahan dalam pembuatan pupuk cair, caranya sebagai berikut : Cara Pertama yaitu siapkan bahan-bahan berupa: Terasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan. Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing. Ditutup rapat, setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung. Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri. Adapun cara kedua dengan pembiakan bakteri EM4 adalah sebagai berikut: Bahan dan Komposisi: 1 liter bakteri, 3 kg bekatul (minimal), ¼ kg gula merah/gula pasir/tetes tebu (pilih salah satu), ¼ kg terasi, 5 liter air. Alat dan Sarana: Ember, Pengaduk, Panci pemasak air, Botol penyimpan, Saringan (dari kain atau kawat kasa). Selanjutnya pembiakan ketiga yaitu panaskan 5 liter air sampai mendidih, masukkan terasi, bekatul dan tetes tebu/gula (jika memakai gula merah harus dihancurkan dulu), lalu aduk hingga rata. setelah campuran rata, dinginkan sampai betul-betul dingin! (karena kalau tidak betul-betul dingin, adonan justru dapat membunuh bakteri yang akan dibiakkan). Masukkan bakteri dan aduk sampai rata. Kemudian ditutup rapat selama 2 hari. Pada hari ketiga dan selanjutnya tutup jangan terlalu rapat dan diaduk setiap hari kurang lebih 10 menit.Setelah 3-4 hari bakteri sudah dapat diambil dengan disaring, kemudian disimpan dalam botol yang terbuka atau ditutup jangan terlalu rapat (agar bakteri tetap mendapatkan oksigen dari udara).Selanjutnya, botol-botol bakteri tersebut siap digunakan untuk membuat kompos, pupuk cair maupun pupuk hijau. Ampas hasil saringan dapat untuk membiakkan lagi dengan menyiapkan air kurang lebih 1 liter dan menambahkan air matang dingin dan gula saja. Prinsip pengomposan dalam pembuatan pupuk cair adalah proses merubah limbah organik menjadi pupuk cair secara biologis dibawah kondisi yang terkontrol. Tujuan pengomposan limbah sayuran dan limbah sisa pasar atau sampah yang ada di sekitar kita untuk pembuatan pupuk cair harus melalui kondisi yang terkontrol dengan membuat keseimbangan porses pembusukan bahan organik dalam limbah, mengurangi bau, membunuh biji-biji gulma dan organisme pathogen sehingga menjadi pupuk cair yang sesuai dengan lahan pertanian. Apabila kondisi tidak atau kurang terkontrol akan terjadi pembusukan sehingga timbul bau yang menyengat, timbul ulat dan insekta. Semoga bermanfaat. Haryani, SP Penyuluh Pertanian DTPHBUN Prov. Sulsel