PGPR DARI PUTRI MALU Putri malu merupakan tanaman yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. 'Sang putri' ini merupakan tanaman liar yang cepat tumbuh dimana saja dan kapan saja tanpa mengenal musim. Tanaman ini banyak terdapat di pinggir jalan, tanah lapang, di ladang, perkebunan, perkarangan rumah, dan tempat lainnya disekitar kita tanpa membutuhkan perawatan khusus seperti pemupukan maupun penyiraman. Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/layu dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula. Seringkali kita tidak mengindahkan tanaman ini, karena banyak tumbuh secara liar dan belum mengetahui akan manfaat serta kegunaannya bagi manusia. Kadang kita merasa terganggu oleh keberadaanya karena duri-durinya yang tajam saat tidak sengaja menginjaknya. Tapi apakah selama ini kita menyadari bahwa 'sang putri' ini memiliki banyak manfaat? Selain mengandung zat tanin, asam pipekolinat, mimosin yang dapat digunakan menjaga kesehatan, pada bagian akarnya sangat bermanfaat bagi pertanian yaitu dapat mencegah terjadinya erosi dan digunakan untuk PGPR (Plant Growth Promoting Rizhobacteria) dalam terminologi bahasa Indonesia merupakan bakteri perakaran pemacu pertumbuhan tanaman. Putri malu mempunyai jenis akar pena yaitu salah satu akar yang tergolong sangat kuat. Berbeda dengan akar-akar tanaman lainnya, untuk mencabut akar tanaman putri malu, kita memerlukan suatu alat khusus agar semuanya tercabut. A. PGPR (Plant Grow Promoting Rhizobacteria), Rhizobakteri Pemacu Pertumbuhan TanamanPGPR merupakan bakteri yang hidup di daerah sekitar perakaran tanaman dan berkoloni menyelimuti akar tanaman. PGPR meningkatkan pertumbuhan tanaman secara langsung dan tidak langsung. Perlakuan PGPR pada tanaman akan memberikan pertumbuhan akar yang lebih sehat, panjang dan lebih banyak dibandingkan tanpa PGPR. Perakaran yang sehat dan lebih panjang menyebabkan penyerapan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman akan semakin banyak, sehingga pertumbuhan tanaman juga lebih bagus. Di samping itu, perakaran yang dikoloni oleh bakteri PGPR umumnya lebih tahan terhadap infeksi patogen tanaman. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan bakteri PGPR untuk menghasilkan siderofor dan antibiotik untuk mencegah perkembangan patogen tanaman. Berbagai literatur menyebutkan bahwa kandungan bakteri PGPR utamanya adalah dari kelompok Pseudomonas sp. Fungsi PGPR bagi tanaman yaitu memacu pertumbuhan (bertindak sebagai fitohormon) dan fisiologi akar serta mampu mengurangi penyakit maupun kerusakan akibat serangga atau sebagai bioprotectant/biokontrol. Selain itu PGPR juga meningkatkan ketersediaan nutrisi lain seperti phospat, belerang, besi dan tembaga. PGPR juga bisa memproduksi hormon tanaman, menambah bakteri dan cendawan yang menguntungkan serta mengontrol hama dan penyakit tanaman. 1. Cara pembuatan sederhana PGPR dari akar putri malua. Ambil satu genggam akar putri malu, kemudian potong kecil-kecilb. Masukkan ke dalam botol bersih berisi air steril sebanyak 1 liter. Lebih baik gunakan air sumur yang telah matang. Air sumur relatif tidak mengandung kaporit maupun cemaran bahan kimia.c. Gojog secara mendatar selama 10 menit, dengan maksud agar bakteri yang berada di sekitar perakaran maupun di dalam perakaran dapat tercampur pada air.d. Diamkan selama 2-3 hari. Adanya aktivitas bakteri nampak berupa gelembung udara yang menempel pada dinding botol.e. Larutan campuran ini dapat disebut sebagai biang/starter PGPR.Untuk mengetahui apakah biang PGPR yang dibuat merupakan bakteri yang berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman, dan justru tidak merugikan, maka dapat dilakukan test sederhana dengan cara menyiramkan larutan biang PGPR pada tanaman pot yang sehat. Setelah 3 (tiga) hari, diamati apakah ada pengaruh merugikan yang terjadi pada tanaman uji, seperti layu, atau menguning. Apabila tampak gejala tersebut, dimungkinkan bakteri yang berkembang bukanlah bakteri yang menguntungkan, sehingga tidak disarankan untuk dikembangkan. Namun apabila tanaman tidak menunjukkan gejala sakit, atau gangguan pertumbuhan, maka besar kemungkinan PGPR yang dibuat mengandung bakteri yang dapat berfungsi sebagai PGPR.2. Perbanyakan PGPRMeskipun biang/starter PGPR dapat langsung digunakan untuk aplikasi di lapangan, agar produksi PGPR tidak terlalu banyak menyita bahan baku berupa perakaran tanaman inang, maka perlu dilakukan perbanyakan, dengan menggunakan media pengembangan. Bahan umum yang diperlukan pada perbanyakan PGPR adalah:a. Air sumur 10 literb. Terasi 300 gramc. Gula pasir / gula jawa / molase 300 gramd. Injet 1 sendok tehe. Bekatul (opsional) 300 gramf. Biang PGPR 100 mlCara:a. Rebus 10 liter air sumur, tambahkan semua bahan kecuali biang PGPR, kemudian tutup rapat dan tunggu hingga mendidih.b. Setelah mendidih, matikan api dan dinginkan. Setelah dingin, saring dengan kain kasa dan masukkan ke dalam galon/jrigen steril.c. Setelah benar-benar dingin, masukkan biang PGPR kemudian tutup galon/jrigen.d. Apabila memungkinkan, pasang alat fermentor sederhana sebagai aerasi bagi bakteri dalam biakan. Namun apabila tidak mempunyai fermentor, maka biakan dapat diaduk selama ± 10 menit setiap hari. Pengaduk harus dalam keadaan steril.e. Setelah 10 (sepuluh) hari, PGPR siap digunakan. Gambar 3. Campuran perbanyakan PGPR Hasil biakan dikatakan baik apabila berbau asam segar akibat hasil fermentasi bakteri, tidak berbau busuk, tidak terlihat ada organisme lain seperti misalnya belatung. Namun apabila bau PGPR hasil biakan tersebut busuk, maka dapat dikatakan biakan tersebut mengalami kontaminasi, sehingga tidak layak untuk digunakan sebagai PGPR. Untuk meyakinkan, dapat dilakukan uji sederhana dengan menggunakan tanaman pot seperti halnya pada pembuatan biang/starter.3. Aplikasi PGPRPenggunaan PGPR disarankan sejak awal pertumbuhan tanaman. Bahkan dapat juga dilakukan pada media tanam, dengan tujuan untuk mendapatkan media tanam yang lebih sehat.a. Perlakuan benihCuci benih rendam dalam larutan PGPR dengan konsentrasi 10 ml per liter air selama 10 menit hingga 8 jam tergantung jenis benihnya. Kemudian kering anginkan ditemoat yang teduh sebelum dilakukan penanaman. Pada benih padi, dapat dilakukan dengan melarutkan 5 ml PGPR/liter air, digunakan untuk merendam benih padi yang sudah direndam air terlebih dahulu (biasanya 1 malam), sehingga sudah terlihat calon akar yang muncul. Perendaman dengan PGPR cukup dilakukan selama 15-20 menit.b. Solarisasi tanah / aplikasi pada tanah dan pupuk kandang.c. Perlakuan bibitJika untuk perlakuan bibit dan stek atau biakan vegetatif lain tinggal direndam beberapa saat saja lalu langsung ditanam. Konsentrasi 10 ml per liter air.d. Pengocoran tanaman di lapangan Caranya dengan melarutkan 10 ml PGPR/liter air, dan dikocorkan pada tanaman sebanyak 1 gelas untuk setiap tanaman. Perlakuan dapat diberikan pada saat tanam dan 2 minggu setelah tanam. Oleh : Vendy Novianto ( Penyuluh Pertanian Dinas pertanian dan Ketahanan Pangan Kecamatan Kedu )Daftar PustakaHerbie, Tandi. 2015. Kitab tanaman berkhasiat obat 226: Tumbuhan Obat untuk Penyembuhan Penyakit dan Kebugaran Tubuh. Yogyakarta: Octopus Publishing Househttp://bpp-batukliang.blogspot.co.id/2013/06/pgpr-plant-grow-promoting-rizobacteria.htmlhttp://duniapertaniaku.blogspot.co.id/2016/07/cara-pembuatan-dan-pemanfaatanpgpr_11.htmlhttps://agroteknologi.web.id/kandungan-dan-manfaat-tanaman-putri-malu/https://id.wikipedia.org/wiki/Putri_malu