Loading...

PHSL, Rekomendasi Tepat Pemupukan Padi

PHSL, Rekomendasi Tepat Pemupukan Padi
Program peningkatan produksi pangan telah mendapat perhatian sejak awal kemerdekaan sejalan dengan permintaan akibat lajunya pertambahan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Oleh karena itu pemerintah melalui Kementerian Pertanian tidak henti-hentinya memberikan perhatian terhadap upaya peningkatan produksi pangan terutama padi. Sejarah mencatat bahwa pada periode 1945-1950 petani menanam varietas lokal atau unggul lama, berumur panjang, berdaya hasil rendah (2-3t/ha), dengan intensitas tanam hanya satu kali dalam satu tahun. Dengan kondisi tersebut anjuran pemupukan N juga rendah,(20-40 kg/ha), sedangkan unsur P dan K masih tersedia cukup di dalam tanah dan berasal dari air irigasi (Fagi et al. 200). Keadaan sudah berubah, keragaan paket teknologi usahatani padi sudah banyak dihasilkan, tidak mustahil peningkatan produksi padi dapat dicapai apa bila paket teknologi tersebut diterapkan dengan baik. Intensifikasi produksi padi dengan menerapkan intensitas tanam 2-3 kali dalam satu tahun disertai oleh pemupukan kimiawi dalam takaran tinggi secara terus menerus diduga telah menyebabkan perubahan fisiko-kimia tanah di lapisan perakaran tanaman. Menurunnya kandungan bahan organik tanah di banyak wilayah ditenggarai turut memberi andil dalam gejala pelandaian produksi padi yang menyebabkan kelelahan tanah. Ketidak- seimbangan hara dalam tanah dan turunnya produksi padi akibat penggunaan pupuk tidak tepat dosis, jenis dan tidak tepat waktu. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dikembangkanlah teknologi PHSL.PHSL (Pemupukan Hara Spesifik Lokasi) merupakan pendekatan yang dilandasi prinsip pengetahuan agar unsur hara penting yang dibutuhkan tanaman dapat diberikan secara optimal. PHSL adalah pendekatan dalam menentukan rekomendasi pemupukan padi dengan mempertimbangkan ketersediaan hara dalam tanah, masukan hara pertanian dari sumber bahan organik dan non-organik untuk meningkatkan efisiensi pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, kondisi setempat, dan tingkat hasil yang dapat dicapai. PHSL diperlukan agar para petani tidak salah dosis, jenis dan tidak salah waktu dalam memberikan pupuk pada tanaman. Dengan PHSL akan memberikan keuntungan bagi petani padi : 1. Mengatur waktu pemberian pupuk sesuai dengan stadia kritis pertumbuhan tanaman padi. Untuk varietas umur genjah pada masa pertumbuhan awal (0-10 hst), anakan aktif (20-25 hst), masa inisiasi malai (30-35 hst). Sedangkan untuk varietas umur sedang yaitu pada masa pertumbuhan awal (0-15 hst), masa anakan aktif (25-30 hst), dan masa inisiasi malai (35-40 hst).2. Memberikan takaran (dosis) sesuai dengan target hasil terbaik yang pernah dicapai di lokasi tersebut,3. Mengatur takaran pupuk P dan K berdasarkan informasi sisa tanaman dan pupuk organik yang diberikan.Diseminasi PHSL melalui 3 cara : (1) aplikasi Web ; petani mendatangi penyuluh yang memiliki akses internet atau penyuluh mendatangi petani menggunakan kuesioner, (2) aplikasi android melalui smartphone, cara ini cocok bagi penyuluh yang mewawancarai petani padi tanpa akses internet. Setelah wawancara, informasi dari petani tersimpan dalam Smartphone. Setelah ada akses ke internet, anjuran pemupukan dapat langsung dikirim melalui SMS ke hape petani, (3) aplikasi HP (melalui SMS). Tersedia dalam 5 (lima) bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda, Bugis, dan Bali), tidak perlu internet, kontak nomor bebas pulsa, perlu segera tersedia, dan ikuti petunjuk yang terdengar di HP. Contoh isi SMS : Untuk mendapatkan 3.700-3.900 kg GKP pada luas lahan 300 bata di musim kemarau, berikan 1,5 karung Phonska pada umur 0-14 HST, 1 karung Urea pada umur 24-28 HST, dan 1 karung Urea pada umur 35-39 HST. Anjuran pemupukan akan segera akan diterima dalam bentuk SMS. Untuk lebih jelasnya silahkan buka http://webapps.irri.org/nm/id.Hasil uji lapang yang telah dilakukan di 10 provinsi di Indonesia memberikan dampak menambah tambahan keuntungan yang diperoleh petani adalah US$ 100 per ha / MT. Bila teknologi ini diadopsi petani dapat meningkatkan hasil gabah sekitar 400 kg GKP per ha / MT tanpa ada biaya penambahan pupuk. Perbaikan manajemen pemberian pupuk dengan teknik budidaya yang baik pada luasan 5000 ha untuk setiap dua musim tanam padi akan memberikan nilai tambah kepada petani sebesar 1 juta US$.Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : IRRI & Badan Litbang Pertanian