Loading...

PILIHAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI BERDASARKAN KONDISI LAHAN

PILIHAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI BERDASARKAN KONDISI LAHAN
seiring terus meningkatnya pertumbuhan penduduk, kebutuhan bahan pangan pun terus meningkat, komoditas kedelai misalnya. Pada tahun 2007 saja, kebutuhan kedelai telah mencapai angka 2 juta ton. Namun disisi lain, tingginya kebutuhan belum diikuti meningkatnya produksi. Varietas unggul merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kedelai. Pada kondisi lahan yang berbeda, pilihan varietas pun harus disesuaikan. Berikut ini deskripsi beberapa varietas unggul kedelai yang sesuai pada beberapa kondisi lahan, yang dapat menjadi bahan pertimbangan pelaku utama dalam melakukan usahatani kedelai.1. Lahan Sawah dan Lahan KeringSetidaknya ada 15 varietas kedelai yang dapat ditanam pada lahan sawah dan lahan kering. Kelima belas varietas kedelai ini dilepas pada periode waktu 2001 hingga 2008. Varietas-varietas tersebut adalah: Kaba, Sinabung, Anjasmoro, Mahameru, Baluran, Merubetiri, Ijen, Panderman, Gumitir, Argopuro, Arjasari, Gorobogan, Kipas Merah, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo. Umur panen semua varietas tersebut berkisar antara 73 sampai 100 hari. Berikut beberapa deskripsi varietas yang cocok untuk lahan sawah dan lahan kering. Varietas AnjasmoroKedelai Varietas Anjasmoro dilepas pada 22 Oktober tahun 2001, melalui SK Menteri Pertanian Nomor 537/Kpts/TP.240/10/2001. Daya hasil Varietas Anjasmoro mencapai 2,03 – 2,25 toh/ha. Ukuran biji termasuk kategori besar, berat 100 bijinya mencapai 14,8 -15,3 gram. Salah satu keunggulan variatas Anjasmoro adalah ketahanannya pada rebah, serta moderat pada penyakit karat daun. Selain itu, varietas ini memiliki sifat polong yang tidak mudah pecah. PandermanVarietas Panderman merupakan salah satu varietas introduksi. Adalah negara Taiwan, varietas ini berasal. Dilepas pada 3 Agustus 2003, melalui SK Menteri Pertanian Nomor 395/Kpts/SR.120/8/2003. Umur polong masak varietas ini adalah 85 hari. Bentuk biji agak bulat, dengan warna kulit biji kuning muda. Bobot 100 bijinya mencapai 18-19 gram, yang berarti termasuk kategori biji besar. Potensi hasil yang dapat dicapai Varietas Panderman adalah 2,37 ton/ha, atau rata-rata hasil 2,11 ton/ha. Varietas Panderman juga memiliki ketahanan terhadap rebah, dan agak tahan terhadap serangan ulat grayak. KabaVarietas Kaba memiliki keunggulan pada ketahanan terhadap rebah, agak tahan terhdap karat daun, serta polong tidak mudah rebah. Dilepas pada 22 Oktober tahun 2001. Memiliki bentuk biji lonjong, dengan ukuran biji termasuk kategori sedang (bobot 100 bijinya 10,37 gram). Rata-rata hasil Varietas ini mencapai 2,13 ton/ha, dan umur panen 85 hari. GroboganVarietas Grobogan berasal dari pemurnian populasi lokal Malabar Grobongan. Tahun 2008 lah varietas ini dilepas, melalui SK Menteri Pertanian Nomor 238/Kpts/SR. 20/3/2008. Pengusul varietas ini adalah Pemerintah daerah Kabupaten Grobogan, BPSB Jawa Tengah, serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Varietas Grobogan memiliki potensi hasil yang sangat tinggi, yaitu mencapai 3,40 ton/ha, dengan rata-rata hasil 2,77 ton/ha. Ukuran bijinya termasuk kategori besar, dengan berat 100 bijinya 18 gram, warna kulit biji kuning muda. Varietas Grobogan dapat tumbuh dengan baik pada beberapa kondisi lingkungan tumbuh yang berbeda, pada musim hujan dan daerah beririgasi baik. Sifat lainnya adalah polong masak tidak mudah pecah, dan pada saat panen daun luruh 95-100%, serta saat panen lebih dari 95% daunnya telah luruh. 2. Lahan Kering MasamSetidaknya ada enam varietas kedelai yang sesuai pada lahan kering masam. Varietas tersebut adalah Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai, Seulawah, dan Rajabasa. Kisaran umur panen ke enam varietas tersebut adalah 84 sampai 93 hari. Hampir semua ukuran bijinya termasuk kategori kecil hingga besar, dengan berat 100 bijinya berkisar di nagka 9,5-15, 0 gram. Dan kesemuanya memiliki ketahanan terhadap penyakit karat daun. 3. Lahan Pasang SurutVarietas yang sesuai untuk ditanam pada lahan pasang surut adalah, Varietas Menyapa. Vareitas Menyapa dilepas pada tahun 2001. Rata-rata hasil pada lahan surut mencapai 2,03 ton/ha, sedang pada lahan sawah 1,98 ton/ha. Warna kulit bijinya kuning kehijauan, dengan bentuk lonjong, dan ukurannya termsuk kecil (bobot 100 bijinya 9,1 gram). Polong masak pada umur 85 hari. Wilayah adaptasinya adalah lahan pasang surut tipe B (terluapi oleh pasang), dan tipe C (tidak terluapi walaupun terjadi pasang besar) serta lahan sawah.Varietas lain yang sesuai untuk lahan pasang surut adalah varietas Lawit. Pada lahan pasang surut, potensi hasilnya lebih lebih sedikit dibanding Varietas Menyapa, yaitu hanya 1,93 ton/ha, sedangkan pada lahan sawah rata-rata hasilnya mencapai 2,07 ton/ha. Sumber: Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2009. Deskripsi Varietas Unggul Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 1918 – 2008. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2010. Sosialisasi Varietas Unggul Baru dan Pemeliharaan Kemurnian Varietas Kedelai. [Bahan presentasi, yang disampaikan pada acara Pelatihan Pemandu Lapang SL-PTT Padi, Jagung dan Kedelai, yang dilaksanakan BPTP Banten pada 29 April – 1 Mei 2010, di Hotel Mahadria, Serang Banten]Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com