Untuk memenuhi kebutuhan karet dalam dan luar negeri, pemerintah telah menetapkan sasaran produksi karet alam sebesar 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran tersebut dapat tercapai bila pertanaman kebun karet dikelola dengan baik diantaranya melalui pola usatani karet terpadu. Selain dapat ditanam secara monokultur, tanaman karet dapat ditanam secara tumpangsari (palawija seperti kedelai, kacang hijau atau kacang tanah). Atau dapat dilakukan secara terpadu antara karet, tanaman pangan dan ternak. Dengan pola usahatani terpadu diharapkan petani karet dapat meningkat pendapatannya tidak hanya dari karet tapi mendapat hasil sampingan dari tanaman pangan dan ternak. Pola usahatani tanaman panganTanaman sela pada perkebunan karet sangat bermanfaat terutama untuk menambah penghasilan petani sebelum tanaman menghasilkan. Jenis tanaman pangan yang dapat dijadikan tanaman sela dapat dilakukan dengan menggunakan pola tanam sebagai berikut: 1) Rotasi I (September-Oktober): jagung tumpangsari dengan padi; 2) Rotasi II (Februari) ditanami kedelai; dan 3) Rotasi III (Juni): ditanami kacang tunggak. Adapun varietas, jarak tanam, kebutuhan benih dan pupuk dapat diinformasikan sebagai berikut:1. Jagung dapat menggunakan varietas Bima, Arjuna, Hibrida (C-7 atau BISI 2), jarak tanam 200x25 cm, jarak tanam dari karet 100 cm, jumlah benih 12 kg/ha, waktu tanam awal musim hujan, dengan jumlah pupuk yang diperlukan urea 100 kg/ha, SP 36 75 kg/ha, KCl 50 kg/ha dan kapur 100 kg/ha;2. Padi gogo dapat menggunakan varietas way rarem, gajah mungkur, lampung kuning, sirendah, jarak tanam 40x10 cm, jarak tanam dari karet 140 cm, jumlah benih 25 kg/ha, waktu tanam awal musim hujan, dengan jumlah pupuk yang diperlukan urea 75 kg/ha, SP 36 150 kg/ha dan KCl 75 kg/ha.3. Kedele dapat menggunakan varietas wilis, orba, galunggung, jarak tanam 40x10 cm, jarak tanam dari karet 100cm, jumlah benih 25 kg/ha, waktu tanam pertengahan hujan, dengan jumlah pupuk yang diperlukan urea 50 kg/ha, SP 36 90 kg/ha, KCl 50 kg/ha dan kapur 200 kg/ha.4. Kacang tunggak dapat menggunakan varietas lokal, jarak tanam 40x20cm dari karet 100cm, jumlah benih 20 kg/ha, waktu tanam akhir musim hujan, dengan jumlah pupuk yang diperlukan urea 50 kg/ha, SP 36 50 kg/ha, KCl 50 kg/ha dan kapur 200 kg/ha.Hasil produksi tanaman pangan yang diperoleh sebagai tanaman sela tanaman karet sebagai berikut:1. Padi sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar 2.500 kg/ha, 2.000 kg/ha dan 1.800 kg/ha;2. Jagung sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar 2.250 kg/ha, 2.250 kg/ha dan 2.000 kg/ha;3. Kedelai sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar 1.800 kg/ha, 1.800 kg/ha dan 110 kg/ha;4. Kacang tunggak sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar 1.800 kg/ha, 1.800 kg/ha dan 900 kg/ha;Nilai ekonomis tanam pangan yang diperoleh sebagai tanaman sela tanaman karet sebagai berikut:1. Penerimaan sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar Rp. 13.775.000, Rp. 11.875.000 dan Rp. 9.700.000;2. Pengeluaran sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar Rp. 10.231.000, Rp. 9.831.000 dan Rp. 8.665.000;3. Pendapatan sebagai tanaman sela pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebesar Rp. 3.544.000, Rp. 2.044.000 dan Rp. 1.035.000;4. Tenaga kerja yang diperlukan dalam usahatani terpadu antara tanaman karet dengan tanaman pangan pada karet umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing sebanyak 420 HOK, 400 HOK dan 350 HOK.Pengaruh tanaman sela terhadap erosi dibandingkan dengan tanah terbuka dan tanaman ilalang dapat diinformasikan sebagai berikut:1. Tanah terbuka tanpa tanaman tingkat erosi 42,4 ton/ha atau setinggi 4,24 cm 2. Alang-alang tingkat erosi 18,3 ton/ha atau setinggi 0,18 cm3. Pola tanam pangan dengan teras tingkat erosi 4,7 ton/ha atau setinggi 0,05 cm4. Pola tanam pangan tanpa teras tingkat erosi 4,1 ton/ha atau setinggi 0,04 cm Ternak yang diusahakan bersama-sama tanaman karet dan tanaman pangan, secara ekonomis dapat menambah pendapatan petani karet. Adapun jenis ternak yang biasa diusahakan adalah sapi. Usaha ternak sapi dapat memberikan pendapatan petani sebesar Rp. 2,8 – Rp. 4,3 juta/tahun. Manfaat Manfaat pola usahatani terpadu antara karet dengan tanaman pangan dan ternak antara lain: 1) untuk meningkatkan pemeliharaan tanaman dan perawatan kebun; 2) memberikan pedapatan petani, pada saat tanaman karet belum menghasilkan; 3) tanaman pangan berfungsi sebagai penutup tanah yang bermanfaat untuk mencegah erosi dan pertumbuhan gulma; 4) meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara; dan 5) meningkatkan daya guna berbagai input produksi (tenaga kerja, pupuk dll) ketiga komoditi (karet, tanaman pangan dan ternak) Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/yayuk_edi@yahoo.com Sumber : 1) Anonim, 2009. Pola Usahatani Karet Terpadu. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.; 2) Ir. Nurhawaty Siagian, MS, 2006. Pembibitan dan Pengadaan Bahan Tanam Karet Unggul. Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Medan; 4) Dari berbagai sumber