Pesawat terbang tanpa awak atau lebih umum disebut UAV, quadcopters atau drone lainnya. Pesawat ini biasanya dilengkapi dengan perangkat flight control autopilot menggunakan GPS dan kamera standar yang dikendalikan oleh perangkat autopilot itu sendiri menggunakan waypoint yg sudah di tetapkan melalui ground controll dari darat bisa membuat foto udara untuk peta kontur atau gambar dengan resolusi yang tinggi. Sedangkan pesawat yang dikendalikan radio controll perlu diterbangkan oleh pilot dari darat /GCS. Teknologi Drone adalah inovasi fenomenal yang terus memiliki efek luas di masyarakat saat ini, yang mampu mengubah cara hidup manusia dan cara melakukan bisnis. Industri pertanian tampaknya telah merangkul teknologi drone dengan tangan terbuka, menggunakan alat canggih ini untuk mengubah pertanian modern. Drone berteknologi tinggi memungkinkan petani dan pilot drone yang mengoperasikannya untuk meningkatkan efisiensi dalam aspek-aspek tertentu dari proses pertanian. Dari pemantauan tanaman hingga penanaman, pengelolaan ternak, penyemprotan tanaman, pemetaan irigasi, dan banyak manfaat lainnya. Ada beberapa kegunaan teknologi drone untuk pertanian, antara lain: Mengamati keadaan tanah dan tanaman, Memeriksa gulma dan merawat tanaman, Memantau kesehatan tanaman secara keseluruhan, Penyiraman tanaman yang lebih efisien, Penyebaran pupuk, pestisida, herbisida, dan lain-lain. Penggunaan Drone Drone banyak digunakan untuk memonitor sumber daya alam. Kemudahan drone diantaranya, ketersediannya, dilengkapi perlengkapan sensor relatif kecil, GPS, dan perangkat keras sesuai kebutuhan lainnya, drone dapat melakukan pengindraan jauh dengan jangkauan area yang luas. Teknologi pemetaan dengan drone menjadi pilihan alternatif disamping teknologi pemetaan lainnya seperti pemotretan udara baik skala besar dan kecil berawak serta pemetaan berbasis satelit. Sejauh ini drone telah digunakan untuk mendapatkan citra penginderaan jauh seperti pemantauan kebakaran dan bencana alam, pengamatan satwa liar, dan pengukuran vegetasi dalam kebun anggur, tanaman, hutan, dan “rangeland”. 1. Pemetahan lahan dan tanaman Memetakan lahan dan mengidentifikasi jumlah dan umur tanaman. Kemampuan drone pertanian untuk survei tanaman dan pemetaan meliputi penggambilan gambar secara otomatis dengan menggunakan sensor dan kamera, dan penggunaan GPS untuk menentukan titik-titik pengambilan gambar. Pemetaan lahan dan tanaman dengan menggunakan drone dapat lebih tepat, atau presisi dan dan cepat. Penggunaan drone secara komersial di Indonesia banyak bermula dari munculnya kebutuhan akan data aktual dan faktual dari industri perkebunan kelapa sawit. Sebelumnya, data tersebut didapatkan oleh perusahaan melalui citra satelit. Sayangnya, masih banyak keterbatasan yang dimiliki citra satelit, antara lain: data citra satelit terbagi dua jenis: terkini dan arsip. Harga citra terkini umumnya lebih mahal, sedangkan harga citra arsip lebih murah namun bukanlah data aktual (biasanya diambil beberapa bulan sebelum). Penggunaan Drone untuk kebutuhan pemetaan akhir – akhir ini semakin banyak diminati, mengingat besarnya kebutuhan masyarakat terkait data yang relevan dan akurat, dan dengan DJI Phantom, proses untuk mengambil foto udara menjadi lebih mudah. Meski sebenarnya proses pemetaan menggunakan drone ini tidak pernah segampang yang dikatakan, proses yang cukup panjang dan berbelit – belit, harus instal aplikasi ini itu, sehingga yang biasa mengatakan bahwa pemetaan menggunakan droen ini gampang adalah karena pemetaan menggunankan GPS lebih sulit dibandingkan dengan drone. Dengan kemajuan teknologi, banyak innovasi baru yang berusaha mempermudah semua urusan manusia, termasuk dalam hal pemetaan. Jika Dulu untuk melakukan pemetaan pada sebuah lahan, kita harus berkeliling, saat ini sudah ada teknologi drone yang bisa membantu kita dalam melakukan pemetaan, kita tinggal duduk manis saja, gambar lahan sudah didapat dan tinggal dilakukan digitasi. 2. Penyiraman dan penyemprotan Dorne dapat melakukan penyemprotan secara lebih merata dan tertakar dibanding penyemprotan dengan menggunakan traktor dan sekaligus juga mengurangi biaya. Yamaha RMAX menjadi drone pertama yang mengantongi ijin standar penggunaan dalam penyerbukan atau penyeprotan dengan membawa beban angkut 24,94 kg pupuk atau obat. 3. Monitoring kesehatan tanaman Teknologi Drone pertanian memungkinkan secara konstan memonitor tanaman dan ternak melalui citra udara untuk mengidentifikasi kendala/permasalahan yang tidak bisa dilihat langsung di ladang, tingkat kandungan air pada tanaman, identifikasi hama yang melekat pada tanaman, dan tingkat kesehatan tanaman yang dilihat dari tingkat kehijauan daun, dengan menggunakan teknologi sensor infra merah. Peluang drone pertanian di Indonesia sangat besar. Tentunya diperlukan penyesuaian model bisnis dan feature-feature khusus agar dapat menjangkau dan diterima petani maju. Dengan tingkat fleksibilitas dan independensinya, perusahaan rintisan drone pertanian berpotensi untuk mengeksplorasi dan menjangkau budidaya pertanian umum yang modern.