Jerami padi mempunyai nilai ekonomis, tetapi, petani membiarkan siapa saja mengambil jerami padi dari sawahnya, seakan ia lebih senang apa bila sawahnya terbebas dari jerami. Bahkan para petani membakar jeraminya di tempat beberapa hari setelah panen. Tanpa disadari, tujuan membakar jerami di tempat adalah untuk mengembalikan hara jerami ke dalam tanah secara cepat, mematikan hama yang tertinggal pada jerami, mematikan pathogen penyakit dan memusnahkan gulma. Tetapi tujuan utama petani mebakar jerami adalah menyingkirkan jerami dari petakan sawah dengan cara praktis dan cepat sehingga tidak mengganggu dalam pengolahan tanah. Perhitungan untung-rugi atas tindakan pembakaran jerami belum diperhitungkan. Sumber Hara TanamanPemanfaatan jerami padi yang berlimpah di lahan sawah perlu diperhitungkan kembali sebagai altrnatif untuk substitusi penggunaan pupuk kimia seperti Urea, SP36, KCL, dan ZA yang semakin langka dan mahal. Selain itu perlunya konservasi hara tanah melalui pendauran ulang jerami padi yang berlimpah disawah setelah panen. Tanaman padi yang menghasilkan produksi 5 ton/ha gabah kering panen mengangkut hara dari tanah sekitar 150 kg N, 20 kg P, 150 kg K, dan 20 kg S. Pada saat panen jerami mengandung sekitar 1/3 jumlah hara N, P, dan S dari total hara tanaman padi, sedangkan kandungan K rata-rata 89% (Tirtoutamo et al.2001). Oleh karena itu jerami padi dapat dijadikan unsur hara makro tanaman. Pada tingkat hasil padi 5 ton/ha dihasilkan 2 ton C/ha yang secara tidak langsung merupakan sumber N. Kandungan hara jerami padi pada saat panen tergantung pada kesuburan tanah,kualitas dan kuantitas air irigasi, jumlah pupuk yang diberikan, dan musim/iklim. Kandungan hara jerami padi di Indonesia rata-rata adalah 0,4% N, 0,02% P, 1,4%K, dan 5,6% Si. Untuk setiap ton gabah kering panen dari pertanaman padi dihasilkan pula 1,5 ton jerami yang mengandung 9 kg N, 2 kg P, 25 kg, 2 kg S, 70 kg Si, 6 kg Ca, dan 2 kg Mg. Apabila konsentrasi hara tersebut mewakili nilai rata-rata jerami, msaks produksi jerami di Indonesia sebesar 78 ton/tahun setara dengan setara dengan 468.000 ton N (setara 1,04 juta ton urea), 78.000 ton P (setara 0,5 juta ton SP36, 1,17 juta ton K (setara 1,95 juta ton KCL), 78.000 ton S, dan 3,9 juta ton Si. Dengan demikian jumlah hara potensi yang berasal dari jerami sisa panen tersebut sangat besar. Sebagai bahan pupuk organik, jerami padi tidak efektif dan efesien bila diandalkan sebagai sumber hara N dan P, tetapi cukup efektif sebagai sumber K, Si, dan C. Sumbangan hara yang berasal dari jerami padi ke tanah bergantung pada bobot, komposisi hara jerami, pengelolaan, dan rejim air tanah (Ponamperuma 1984). Jumlah bobot jerami yang dihasilkan dari padi gogo jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan bobot jerami padi sawah irigasi, yaitu 2 ton/ha dari pertanaman padi gogo dan 4,9 ton/ha dari padi sawah. Sumber Bahan Organik dan Pembenah TanahJerami padi mengandung 40-43% C, senyawa C-N jerami merupakan subtract bagi metabolism mikoorganisme, meliputi gula, pati, selulosa, hemiselulosa, pectin, lignin, lemak dan protein. Jerami padi yang dibenamkan ke tanah sawah akan menstmulir fiksasi N secara heterotrofik maupun fototrofik (matsuguchi 1979). Kandungan bahan organik tanah sawah bergantung pada volume masukan bahan organik dan koefisien humifikasi. Pemberian jerami padi sebanyak 825 kg/ha dengan kadar C 43% dan humifikasi koefisien 0,23 akan menghasilkan 141 kg bahan organik/tahun.Jerami padi dapat memperbaiki sifat fisik tanah atau disebut sebagai pembenah tanah. Pembenaman jerami padi pada guludan tanaman ubi jalar dapat memperbaiki kondisi tanah, mengurangi kekerasan tanah, dan penetrasi lebih ringan dibannding tanpa jerami (Tuherkih et al. 1994). Selain itu apabila jerami padi dikeluarkan dari petakan sawah, kemampuan tanah menahan air menjadi menurun, dan sushu tanah menjadi tinggi. Akibatnya hasil tanaman berikutnya menjadi turun 26%. Sebaliknya apabila semua jerami digunakan sebagai sumber bahan organik pada pertanaman jagung, maka kemampuan tanah menahan air meningkat, sushu tanah relatif astabil, dan hasil jagung naik 22% (Riffin 1992). Jerami Sebagai Bahan KomposPengomposan jerami sudah banyak dilakukan dan dikenal di Indonesia. Tujuannya adalah menurunkan rasio C/N sehingga kualitas kompos meningkat. Salah satu syarat pengomposan adalah tersedianya nitrogen dalam jumlah yang cukup. Kebutuhan nitrogen dalam pengomposan satu ton jerami diperkirakan adalah 8 kg. Hasil percobaan menunjukan bahwa penggunaan kompos dalam budi daya padi ternyata tidak lebih baik dari pada penggunaan jerami padi yang langsung dibenamkan ke tanah sawah 9Ismunadji 1978). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembuatan kompos adalah pH, aerasi, suplai air, dan suhu. Kemasan yang tinggi, kondisi anaerob, prendaman atau kekeringan dapat menghambat aktivitas bakteri. Suhu 30-40°C merupakan kondisi yang ideal untuk penguarai dan pelapuk jerami. Untuk menghasilkan kompos yang bermutu dan efesien jerami yang akan digunakan dicelupkan atau perciki urea 10%, kemudian dihamparkan diatas lantai/tanah hingga ketinggian 30 cm. Setelah itu jerami dilapisi dengan kotoran ayam, kotoran sapi atau kotoran domba. Cara ini dilakukan hingga ketinggian jerami mencapai 180 cm. Bagian atas jerami ditutup plastic yang berfungsi untuk menahan panas. Setelah 2 minggu jerami dibalik, kemudian tumpukan jerami ditutup kembali dan setelah 1 bulan jerami telah menjadi kompos. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan