Pertanaman padi biasanya menerima asupan energi berupa pupuk buatan dan pestisida. Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan populasi hama ternyata juga dapat membunuh atau mengusir musuh alami hama (predator). Dengan demikian maka akan terjadi pertukaran dari pengendalian menggunakan musuh alami ke pengendalian dengan insektisida kimia. Apabila tidak dilakukan pengendalian secara kimia maka populasi hama akan berkembang di lingkungan yang bebas dari musuh alaminya. Untuk itu perlu pengenalan terhadap predator sehingga keberadaannya dapat dipertahankan sehingga dapat mengendalikan hama secara alami. Salah satu dari jenis predator hama padi adalah laba-laba. Laba-laba pembunuh atau laba-laba serigalaLycosa pseudoannulata (boesenberg dan Strand)Araneae LycosidaeLycosa pseudoannulata mempunyai gambaran seperti garpu pada bagian punggung dan mempunyai gambaran berwarna putih pada abdomen. Laba-laba pemburu suka berpindah-pindah dan sudah berkoloni pada lahan padi sawah atau padi kering yang baru saja dipersiapkan . Laba-laba tersebut sangat membantu dalam pengendalian hama karena mereka sudah sejak awal sudah bearada di lahan peartanaman dan memangsa hama sebelum populasinya meningkat sampai dengan tingkatan merusak. Laba-laba betina dapat meletakkan telur sebanyak 200-4-dalam waktu 3-4 bulan (selama hidupnya). Selanjutnya dari jumlah telur tersebut 60-80 anak laba-laba akan menetas dan berada di punggung induknya. Lycosa banyak dijumpai di sekitar pangkal batang padi, kemudian akan menyebar menyebarangi permukaan air apabila diganggu. Mereka tidak membuat jala tetapi menyerang mangsanya secara langsung. Laba-laba dewasa makan berbagai jens serngga termasuk ngengat. Penggerek . Anak-laba-laba menyerang wereng batang dan nimfa wereng daun. Laba-laba pemburu mengkonsumsi 5-15 mangsa tiap hari. Laba-laba jantan mempunyai palpus yang membesar. Laba-laba bermata tajamOxyopes javanus ThorellOxyopes lineatipes (C.L.Koch)Araneae: OxyopidaeLaba-laba bermata tajam ini hidup di dalam tajuk daun padi dan lebih menyukai habitat kering dan mulai membuat koloni di lahan padi setelah tajuk daun padi terbentuk. Laba-laba ini menyembunyikan diri dari mangsanya, yang kebanyakan berupa ngengat sampai mangsa tersebut berada dalam jarak sambarannya. Laba-laba jenis ini tidak membuat jala, namun merupakan laba-laba pembunuh. Oxyopes javanus jenis betina mempunyai dua pasang gambaran putih diagonal pada sisi abdomen dan yang jantan mempunyai palpus membesar.O. lineatipes mempunyai dua garis coklat kemerahan dan dua garis putih memanjang pada abdomennya. Laba-laba betina menjaga kelompok telur yang menyerupai kokon yang terletak pada daun. Laba-laba ini menghasilkan 250-350 keturunan dan dapat hidup sampai 3-5 bulan. Laba-laba ini mempunyai peranan penting dalam pengendalian hama karena satu laba-laba dapat membunuh 2-3 ngengat setiap hari. Laba-laba LoncatPhidippus spAraneae: Salticidae.Laba-laba loncat mempunyai dua mata besar, tidak berpindah cepat bila diganggu. Phidippus mempunyai rambut berwarna coklat pada badannya. Telur-telurnya diletakkan dalam bentuk kelompok telur yang memanjang dan tertutup dengan sutera yang berada di dalam lipatan daun.Yang betina menjagai kelompok telur dan mengahasilkan 60-90 keturunan. Phidippus hidup 2-4 bulan. Mereka lebih menyukai lahan kering dan tinggal di daun padi. Biasanya laba-laba ini bersembunyi di dalam rongga kecil dalam lipatan daun. Mangsanya berupa wereng daun dan serangga kecil lainnya. Laba-laba dewasa dapat memakan 2-8 mangsa setiap hari. Laba-laba kerdilAtypena (=Callitrichia) formosana (Oi)Araneae: LinyplilidaeUkuran kecil,dapat dijumpai sampai 30-40 ekor pada pangkal rumput padi. Atypena dewasa mempunyai tiga pasang gambaran berwarna kelabu pada bagian belakang abdomen. Telu diletakkan dalam kelompok yang tertutup oleh lapisan sutera yang tipis pada kelopak daun yang kering dan tanpa perlindungan oleh induknya. Laba-laba betina menghasilkan 80-100 anak laba-laba. Habitat yang disukai yaitu habitat yang basah pada pangkal batang padi di atas batas air. Mereka berpindah dengan lambat dan sebagian besar menangkap mangsanya dengan jala dan dapat berburu mangsa secara langsung. Atypena dapat hidup sampai 1,5-2 bulan dan memangsa nimfa wereng daun dan wereng batang yang muda sebanyak 4-5 ekor setiap hari. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian) Sumber:1. Anonymous. 2004. Mitra Petani Padi. Serangga, Laba-laba dan Pathogen yang Membantu. Jakarta: Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian., International Rice Research Institute 2. https://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/