Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Pengendalian hama menggunakan pestisida yang intensif akan diikuti oleh resurgensi hama dan perkembangan hama sekunder karena tidak ada lagi musuh alaminya, serta munculnya hama resisten terhadap insektisida. Musuh alami (predator) merupakan makhluk hidup yang sangat penting sebagai pengendali kehidupan organisme pada tanaman padi. Beberapa jenis predator seperti kumbang kubah, kumbang tanah dan jengkerik, mencari mangsa seperti wereng daun, wereng batang, ngengat dan larva penggerek batang serta ulat pemakan daun yang merupakan hama di pertanaman padi. Beberapa karakteristik predator yang diinginkan untuk keberhasilan pengendalian hayati adalah sebagai berikut: 1) memiliki kemampuan mencari yang baik; 2) memiliki kekhususan mangsa/inang; 3) memiliki laju reproduksi yang tinggi; 4) memiliki kemampuan adaptasi yang baik di habitat mangsa/inang; 5) memiliki daur hidup yang sinkron dengan mangsa/inang, 6) memiliki kemudahan untuk diperbanyak.Predator-Kumbang kubah atau kumbang CoccinelidMicraspis sp.Micraspis crocea (Muisant)Coleoptera: CoccinelidaeMicraspis sp. Adalah suatu kumbang kubah yang mempunyai bentuk seperti kubah dan berwarna cerah kemerahan. Kumbang kubah ini aktif sepanjang hari di setengah bagian atas tajuk daun padi pada habitat padi kering maupun padi basah. Baik Micrapis sp. dewasa maupun larvanya yang berwarna gelap memakan wereng batang yang kecil, memangsa baik pada larva kecil maupun telur yang tersembunyi. M. crocea dewasa berwarrna kuning dengan berbagai bercak di belakang kepala. Predator Kumbang KubahHarmonia octomaculata (Fabricius)Menochilus sexmaculatus (Fabricius)Coleoptera: CoccinelidaeHarmonia octomaculata dan Menochilus sexmaculatus adalah kumbang predator yang mempunyai bercak hitam dan hanya menangkap mangsa yang bergerak lambat. Kumbang dewasa menjatuhkan diri dari tanaman dengan cepat atau terbang bila terganggu. Kumbang predator ini membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk berkembang dari telur menjadi dewasa dan menghasilkan 150-200 turunan dalam 6-10 minggu. Larva kumbang memakan 5-10 mangsa (telur nimfa, larva, dewasa) setiap hari. Predator kumbang tanah Ophionea nigrofasciata (Schmidt-Goebel)Coleoptera CarabidaeKumbang tanah adalah serangga yang berbadan keras dan aktif. Baik larva yang berwarna kehitaman dan kumbang dewasa yang berwarna coklat kemerahan aktif mencari larva penggulung daun di tajuk daun padi. Ophionea negrofasciata dapat ditemukan di dalam rongga lipatan daun yang dibuat oleh larva penggulung daun. Larva pemangsa menjadi kepompong di dalam tanah pematang sawah atau di lahan yang kering. Tiap predator dengan rakus memakan 3-5 larva mangsa per hari, hanya tudung kepalanya yang ditinggalkan. Kumbang tanah yang dewasa juga memangsa wereng batang.Predator JengkerikMetioche vittaticolis (Stal)Anaxipha longipennis (servile)Orthoptera GrllidaeJengkerik berekor pedang terdapat pada habitat basah maupun kering. Jengkerik ini bila diganggu akan melomcat dari satu tanaman ke tanaman lain. Pada umumnya jengkerik dewasa akan kehilangan sayap belakang setelah menetap di lingkungan sawah. Nimfa yang lebih tua mempunyai bantalan sayap.Metioche vittaticolis dewasa berwarna hitam dan nimfanya berwarna kekuningan pucat dengan garis-garis kecoklatan . Anaxipha longipennis dewasa dan nimfa berwarna coklat. Keduanya pemangsa telur.Ovipositor M. vittaticolis bentuknya menyerupai pedang yang berguna untuk menyelipkan telur ke dalam kelopak daun padi dan rumput-rumputan. Siklus hidup dari telur hingga dewasa memerlukan 60-80 hari dan satu induk akan menghasilkan 40-80 serangga muda. Jengkerik dewasa dan nimfa merupakan predator telur tetapi juga memakan larva kecil dan wereng. Mereka memangsa telur pengerek batang bergaris, penggerek batang berkepala gelap, penggulung daun, ulat grayak, lalat daun, nimfa wereng batang dan wereng daun. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian).Sumber:1. Anonymous. 2004. Mitra Petani Padi. Serangga, Laba-laba dan Pathogen yang Membantu. Jakarta: Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian., International Rice Research Institute 2. https://massofa.wordpress.com/2008/01/31/menggunakan-serangga-pemangsa-dan-parasitoid-sebagai-pengendalian-hama/