Kenaf merupakan salah satu komoditas perkebunan yang diperbanyak dengan benih. Untuk meningkatkan daya saing komoditas kenaf, diperlukan benih yang memiliki keunggulan tinggi, mutu sesuai permintaan pasar, efisien dalam produksi, terjangkau oleh petani pekebun, jumlah cukup banyak, serta penyediaannnya tepat waktu, tepat jenis dan tepat harga. Namun demikian, walaupun mutu benih yang dihasilkan baik, jika penanganannya kurang baik dapat menyebabkan mutu benih menurun. Mutu benih meliputi mutu genetik, fisiologik dan fisik. Mutu genetik adalah benih yang mempunyai identitas genetik yang murni dan mantap, dan apabila ditanam akan menghasilkan pertanaman yang homogen sesuai dengan yang dideskripsikan oleh pemulianya. Mutu fisiologi adalah mutu benih yang ditentukan oleh daya hidup (viabilitas) benih sehingga mampu menghasilkan tanaman yang normal. Sedangkan mutu fisik didasarkan pada penampilan fisik seperti kebersihan, kesegaran, butiran serta keutuhan keadaan kulit benih tanpa ada luka dan retak-retak. Waktu tanam dan cara budidaya kenaf untuk benih memerlukan perlakuan yang berbeda dengan budidaya untuk produksi serat. Syarat-syarat khusus untuk mendapatkan benih bermutu: (1) Mempunyai bulan basah 4 bulan dengan curah hujan 625-700 mm dengan batas yang jelas antara musim hujan dengan musim kemarau; (2) Tinggi tempat dari dataran rendah sampai ketingian maksimum 500 dpl. ;(3) Tanah lempung berpasir, cukup humus, drainase baik, pH 4,4-6,5 dan lahan beririgasi; (4) Waktu tanam Maret-April, dengan harapan pada saat panen sudah tidak terjadi hujan. Tahapan penangkaran/pembuatan kebun bibit. Pemilihan lokasi: mudah dijangkau, subur, dekat sumber air, drainase baik, mudah diairi, bebas OPT, terpisah dari varietas lain. Penyiapan benih. Kebutuhan benih per hektar penangkaran adalah ± 15 kg dengan sumber benih sebagai berikut: (a) benih penjenis (breeder seed )yang dihasilkan oleh pemulia tanaman; (b) benih dasar( foundation seed) adalah turunan benih penjenis, penangkarannya dalam pengawasan pemulia tanaman atau instansi yang ditunjuk oleh pemerintah. Benih dasar diperbanyak oleh Balittas, Malang. Benih dasar dapat digunakan untuk penangkaran benih pokok atau benih sebar maksimal 2 generasi; (c) Benih pokok(stock seed) adalah turunan dari benih dasar atau benih penjenis yang diproduksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga keaslian varietas dapat dipelihara. Benih pokok diperbanyak oleh penangkar/pengelola. Benih pokok dapat digunakan untuk penangkaran benih sebar maksimal 2 generasi; (d) Benih Sebar (extension seed) adalah turunan dari benih dasar atau benih pokok, diperbanyak oleh penangkar benih dan diawasi oleh instansi /badan hukum yang ditunjuk oleh pemerintah. Benih sebar dapat digunakan untuk penangkaran benih sebar berikutnya maksimal satu generasi atau digunakan untuk pertanaman serat. Spesifikasi persyaratan mutu benih.Spesifikasi benih dasar: Kadar air 6-8 %, kemurnian benih ?98%; Daya kecambah ? 80%; Kotoran benih? 2%; biji tanaman lain ?10 butir/kg; biji gulma ?10 butir/kg dan kesehatan benih?99%.Spesifikasi benih Pokok: Kadar air 6-8 %, kemurnian benih ?97%; Daya kecambah ? 80%; Kotoran benih? 3%; biji tanaman lain ?15 butir/kg; biji gulma ?10 butir/kg dan kesehatan benih?98,5%.Spesifikasi benih sebar: Kadar air 6-9 %, kemurnian benih ?97%; Daya kecambah ? 80%; Kotoran benih? 3%; biji tanaman lain ?20 butir/kg; biji gulma ?10 butir/kg dan kesehatan benih?98%.Penyiapan tanah: (a) Lahan dibersihkan dari alang-alang, jerami, semak dan tanaman lain dengan cara dibakar; (b) Tanah dicangkul/dibajak dengan kedalaman 15-25 cm. Pada tanah berat pembajakan/pencangkulan dilakukan dua kali diikuti penggaruan sedangkan pada tanah ringan pembajakan dilakukan sekali dan diikuti penggaruan; (c) Arah plot disusun agar baris tanaman dapat disusun arah timur-barat. Sekeliling plot dibuat saluran air dengan lebar 40 cm yang senantiasa akan membentuk dan membatasi plot-plot. Jarak tanam diatur menggunakan ajir/tali.Penanaman: (a) Jarak tanam 50 x 25 cm; (b) lubang tanam dibuat dengan ditugal sedalam ± 3 cm, diletakkan 25 cm dari pinggir lebar bedengan dan 12,5 cm daripinggir panjang bedengan (1/2 kali jarak tanam). Tiap lubang diisi 3-5 butir/. benih kenaf. Untuk menghindari gangguan pathogen, sebaiknya benih diperlakukan dengan fungisida mankozeb. Sebaiknya benih ditanam dalam kondisi tanah kering dan segera dilakukan pengairan setelah tanam.Pemeliharaan Tanaman: (a) Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan, dilakukan 1-2 kali dengan interval 3-4 minggu atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma; (b)Pemupukan dengan 300-400 kg urea + 100-200 kg TSP + 100 kg KCl diberikan dua kali, yaitu pemupukan I pada saat tanam atau setelah tumbuh (7-10 hari setelah tanam) dengan dosis 100-150 kg urea+100-200 kg TSP + 100 kg KCl dan pemupukan II umur 35-40 hari dengan dosis 200-250 kg urea; (b)Pemupukan dilakukan dengan membuat lubang di kiri-kanan tanaman selang satu baris dengan tugal. , pupuk dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup kembali dengan tanah; (c) Penyulaman dilakukan pada 5-7 hari saetelah tanam dengan menggunakan benih. Namun jika sudah 2-3 minggu, maka penyulaman dilakukan dengan tanaman muda hasil penjarangan; (d) Penjarangan dilakukan 1-2 kali, pada umur 10 hari dan pada umur 3-4 minggu, disisakan 1-2 tanaman/lubang; (e) Pengendalian Hama dan Penyakit dilakukan sesuai dengan hama dan pataogen yang menyerang.Seleksi Tanaman: (a) Tahap pertama pada fase vegetative (±45-60) hari saetelah tanam, untuk nmembuang tanaman yang berbea warna batang, tipe pertumbuhan dan bentuk daun. (b) Tahap kedua pada fase generative (6±60-120 hari setelah tanam atau saat tanaman berbunga, dengan membuang tanaman yang berbeda warna tipe bunga serta waktau berbunga pertama (terlalu cepat atau terlalu lambat); (c) Tahap ketiga pada saat fase buah kering (120-180 hari setelah Tanam) untuk membuang tanaman yang berbeda tipe buah dan waktu terbentuknya kapsul (terlalu cepat atau terlalau lambat).Panen: Untuk memperoleh benih yang bermutu tinggi dan seragam, penentuan saat panen perlu diperhatikan. Penentuan kemasakan dapat berdasar pada warna buah, kekerasan buah, rontoknya buah/ biji, pecahnya buah dan sebagainya, namun tolok ukur tersebut kurang obyektif. Tolok ukur yang obyektif untuk penentuan kemasakan buah antara lain adalah bobot kering benih maksimum yaitu benih yang dipanen pada saat masak fisiologis. Benih yang dipanen pada saat masak fisiologis akan memiliki bobot kering maksimun serta viabilitas dan vigor yang paling tinggi. Panen dilakukan dengan hati-hati pada saat mayoritas buah kering (75-90%), tidak menunggu seluruh buah kering karena kapsul yang pertama masak sering pecah di lapangan sebelum sempat dipanen. Kapsul yang pertama masak memiliki viabilitas benih yang lebih tinggi dibandingkan dengan kapsul yang masak belakangan karena nutrisi tanah telah terserap terlebih dahulu oleh kapsul yang yang masak terlebih dahulu ( Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber: KENAF (Hibiscus cannabinus L.). Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Balai PenelitianTanaman Tembakau dan serat. 2009.