Loading...

PROSES PEMBUATAN KOMPOS

PROSES PEMBUATAN KOMPOS
PROSES PEMBUATAN KOMPOS Sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian nasioanal sebagai sumber pendapatan, peningkatan kesempatan kerja, pengentasan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan nasional. Peningkatan produktivitas padi merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan produksi padi dengan cara mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah tersedia. Dalam pelaksanaan kegiatan intensifikasi padi akan fokus pada upaya pananganan masalah terkait: pengelolaan tanah, penggunaan benih bermutu, penanaman, pemupukan, Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman, pemanenan dan kegiatan selama pascapanen. Dengan penerapan teknologi spesifik lokasi diharapkan masih dapat ditingkatkan produktivitasnya. Kecenderungan perilaku petani adalah menggunakan pupuk secara berlebihan untuk meningkatkan produksi padinya. Misalnya, pemupukan urea yang mencapai 250 kg per hektar bahkan bisa mencapai 2 kali lipat saat kekurangan air sehingga benih padi ditanam lebih tua. Menurut informasi, kadar C organik pada lahan sawah sangat rendah yaitu 1,2-1,9 persen (kurang dari 2 persen), maka penggunaan pupuk N secara intensif akan memicu mineralisasi bahan organic tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan kadar C-organik dalam tanah. Para petani beranggapan bahwa penggunaan pupuk anorganik yang banyak akan menjadi jaminan untuk menghasilkan produksi yang tinggi, selain itu masih rendahnya kesadaran para petani akan kelestarian fungsi lingkungan hidup menyebabkan penggunaan pupuk sintetis sangat tinggi. Pada akhirnya petani semakin lama semakin menunjukan ketergantungannya pada pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik sangat membantu upaya pemulihan kesuburan tanah,yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kualitas dan kuantitas produksi tanaman padi secara berkelanjutan. Pupuk Organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan/kotoran hewan yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair dan dapat diperkaya dengan bahan mineral alami dan/mikroba yang bermanfaat memperkaya hara, bahan organik tanah, dan memperbaiki sifat fisik kimia dan biologi Tanah (Permentan No. 28/2009) Kompos merupakan salah satu bentuk pupuk organik. kompos bukanlah hal baru, Nenek moyang kita sudah lama mengenalnya. Sejak berabad-abad silam, para leluhur sudah melakukan hal yang kurang lebih sama dengan praktek pengomposan modern. Kompos adalah bahan-bahan organik yang telah mengalami proses penguraian karena adanya interaksi antara mikroorganisme yang bekerja didalamnya. Bahan-bahan organik tersebut seperti dedaunan, rumput, jerami, sisa ranting dan dahan, kotoran ternak, rerontokan kembang, air kencing, sisa penggergajian dan lain-lain. Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun proses tersebut berlangsung lama sekali, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya, proses tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. Dengan teknologi dan cara yang baik, proses mempercepat pembuatan kompos berlangsung lebih cepat sehingga bisa diperoleh kompos yang berkualitas baik dalam waktu yang relative lebih cepat. Proses dekomposisi bahan organik di alam tidak dilakukan oleh satu mikroorganisme monokultur tetapi dilakukan oleh konsorsia mikroorganisme. Pemanfaatan Mikroorganisme perombak bahan organik yang sesuai dengan subtrat bahan organik, merupakan alternatif yg efektif untuk mempercepat dekomposisi bahan organic sekaligus sebagai suplementasi pemupukan. Mikroorganisme pengurai serat, lignin, dan senyawa organik yg mengandung Nitrogen dan Carbon Terdiri dari : Trichoderma reesei Trichoderma harzianum Trichoderma koningii Phaserochaeta Crysosporium Cellomonas Psodomonas Thermospora Aspergilus niger Aspergilus tereus Penicillium Streptomyses Jumlah dan jenis mikroorganisme turut menentukan keberhasilan proses dekomposisi, Fungi perombak bahan organik mempunyai kemampuan yg lebih baik dari bakteri dalam menguraikan selulosa, hemiselulosa dan lignin. Mikroorganisme perombak bahan organik merupakan aktivator biologis yang tumbuh alami atau sengaja diberikan untuk mempercepat pengomposan dan meningkatkan mutu kompos. Jumlah dan jenis mikroorganisme menentukan keberhasilan proses dekomposisi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kompos adalah: Bahan-bahan organik Mikroorganisme yang digunakan Kadar air Suhu Pengaturan udara Tempat Bahan organic yang mengandung selulosa tingi, lignin dan protein yang tinggi berbeda perombak dan waktu yang diperlukan untuk merombaknya, sehingga dalam bahan tertentu fungi yng lebih efektif. Begitu juga kadar air, bahan yang terlalu basah menyebabkan perombakan kurang afektif, bahan yang terlalu basah, atau terlalu padat akan menyebabkan kekurangan oksigen sehingga mikroorganisme tidak dapat bekerja secara optimal. Pada Suhu sedang beberapa mikroorganisme yang bekerja, seiiring peingkatan suhu, maka mikroorganisme yang bekerjanya juga berubah, apabila suhu terlalu tingi, maka mikroorganisme tidak dapat bekerja secara optimal. Pabila proses yang terjadi berlangsung, maka suhu akan meningkat dan perlu dilakukan proses pengadukan. Hal yang harus diingat bahwa tinggi timbunan kotoran pun akan mempengaruhi proses fermentasi, tinggi timbunan adalah 1-2 meter, apabila kurang dari 1 meter maka panas dalam kotoran akan mudah lepas sehingga menyebabkan fermentasi menjadi terlambat, sebaiknya apabila timbuna terlalu tinggi, maka celah antara kotoran akan terhimpit akibat banyaknya timbunan dan mengakibatkan udara tidak dapat disuplai dengan baik dan proses fermentasi pun akan terhambat. Selama proses fermentasi berlangsung, sebaiknya kita selalu mengecek suhu. Wilayah pengukuran suhu diukur di bagian dalam, yaitu 70 cm lebih dari lapisan permukaan luar. Suhu setelah penimbunan kotoran dan pada saat proses fermentasi harus lebih dari 60 ºC dan diusahakan supaya konstan selama 3 hari berturut-turut. Selanjutnya untuk mengetahui hasil kerja kita dalam pengolahan kotoran secara sederhana ini kita lakukan pengecekan kondisi kompos pada saat atau setelah proses fermentasi berlangsung. Proses fermentasi dikatakan berhasil apabila; warna kotoran yang asalnya hijau menjadi warna hitam tua, tekstur atau bentuk padatan akan pudar dan luluh seperti pasir, pada permukaan kompos akan terlihat bakteri warna bintik putih, tergantung dari bakteri actinomycetes dan bakteri yang bentuknya seperti benang, tidak tercium bau busuk. Sebaliknyaapabila proses fermentasi tidak berhasil akan terlihat dari warna kompos yang berwarna kuning tua karena terjadi proses fermentasi anaerobic selain itu akan tercium busuk yang menyengat. Sumber Pustaka: Pupuk Organik dan Pupuk Hayati, Saraswati, et al. dan sumber lainnya. Sumber Foto: Proses Pembuatan Kompos di Kelompok Tani Sri Rengas Desa Mundu Ke. Karangampel Kab. Indramayu Jawa barat. Penulis : Budi Kusmayadi, S.Pt. (Penyuluh Pertanian BPP Karangampel)