Loading...

Prospek Agribisnis Krisan

Prospek Agribisnis Krisan
Tanaman bunga Krisan merupakan tanaman perdu dengan sebutan lain Seruni atau bungan emas (Golden Flower). Tanaman krisan berasal dari silangan Crysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink), dan C. Daisy (bulat, pompon). Bunga Krisan merupakan salah satu jenis bunga potong unggulan nasional yang populer di Indonesia. Produksi dan penggunaan bunga krisan cukup banyak. Krisan, terutama Krisan potong banyak diminati, baik para dekorator, floris, hotel, restoran maupun pengguna krisan untuk penghias interior rumah. Bunga krisan, juga digunakan untuk teh dan bahan pengobatan seperti influensa, demam, mengurangi rasa pusing kepala, mengurangi sesak nafas, mengurangi tekanan darah tinggi, dll. Menurut para dekorator dan floris di sekitar Jakarta dan kota-kota besar lainnya, bahwa penggunaan bunga krisan merupakan kebutuhan pokok dalam rangkaian maupun dekorasi bunga yang penggunaannya mencapai 30-65% dari total kebutuhan bunga dalam rangkaian/dekorasi bunga. Bunga Krisan potong memiliki daya tarik, antara lain memiliki keindahan bentuk dan warna sangat bervariasi dengan harga relatif terjangkau dan stabil, fase hidup bisa mencapai lebih dari 2 minggu. Krisan bisa ditanam setiap saat, disesuaikan kebutuhan pasar dengan masa produksi relatif pendek yaitu 80-115 hari dengan nilai keuntungan cukup tinggi. Hal demikian yang menyebabkan penggunaan krisan potong dalam rangkaian bunga dan dekorasi cukup tinggi serta banyak petani yang menekuni usaha krisan. Bunga Krisan yang dikenal sekarang merupakan hibrida yang kompleks berasal dari pemuliaan tanaman selama puluhan tahun. Bunga Krisan yang beredar di florist/dekorator sudah jauh berbeda dari tetuanya di masa lampau. Variasi bentuk dan warna krisan begitu menakjubkan, terus dikembangkan dan ditemukan sesuai selera konsumen seolah-olah tidak ada habisnya, dengan kultivar baru diperkenalkan setiap tahun. Salah satu arena pameran kultivar baru Krisan yang terkenal yaitu Aalsmeer Belanda. Setiap akhir tahun selalu mempromosikan kultivar-kultivar Krisan yang akan dijual pada tahun berikutnya. Sedikitnya sepuluh kultivar krisan baru diperkenalkan setiap tahun. Pada pameran tersebut, petani dan penggemar Krisan dapat memilki kultivar yang sesuai dengan seleranya dan dapat membeli benihnya. Benih Krisan yang diperjualbelikan harus berdasarkan kontrak tertulis. Isi kontrak tersebut antara lain pembeli benih hanya boleh membeli benih tersebut untuk ditanam sebagai produksi bunga potong saja. Benih yang ditanam tidak boleh dijadikan pohon induk untuk dibenihkan kembali. Bagi yang ingin membenihkan kembali harus membenihkan kembali harus menandatangani suatu perjanjian dan membayar royalti sekaligus di muka. Ketentuan ini berlaku secara universal melalui Plant Variety Protection (PVP) yaitu suatu perlindungan terhadap hak-hak pemulia yang menciptakannya. Di Indonesia, varietas-varietas baru Krisan dihasilkan oleh para peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI) di Cipanas Kabupaten Cianjur. Lebih dari 50 varietas Krisan telah dihasilkan BALITHI sebagai upaya mendorong pertumbuhan industri Krisan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan benih Krisan dari luar negeri. Sentra produksi Krisan terbesar yaitu Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Bandung, dan Bogor yang memasok sekitar 60% untuk Pasar Bunga Rawa Belong di DKI Jakarta. Sentra produksi Krisan lainnya yaitu di (1) Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Semarang dan Wonosobo), (2) Jawa Timur (Kabupten Pasuruan, Malang, dan Kota Batu), (3) Sulawesi Utara (Kota Tomohon). Beberapa daerah pengembangan baru untuk produksi Krisan yaitu di (1) Provinsi DIY (Kabupaten Kulon Progo), (2) Bali (Kabupaten Buleleng dan Tabanan), (3) Sulawesi Selatan (Kabupaten Bantaeng dan Gowa), (4) Sumatera Barat (Kabupaten Solok), (5) Sumatera Utara (Kabupaten Karo), (6) Sumatera Selatan (Kota Pagar Alam), dan (7) Lampung (Kabupaten Lampung Barat). Berdasarkan data perkembangan bunga potong dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa produksi bunga potong dari tahun ke tahun mengalami kenaikan rata-ratar sekitar 31,6 %. Dari total produksi 9 jenis bunga potong pada tahun 2012 menunjukkan bahwa produksi terbesar yaitu bunga Krisan mencapai 397.228.983 tangkai atau sekitar 64,79% dari total produksi 9 jenis bungan potong 613.132.191 tangkai. Produksi Krisan mengalami pertumbuhan rata-rata 43,2% per tahun, lebih besar dan terbesar dibanding rata-rata pertumbuhan bunga potong. Dari data tersebut menunjukkan bahwa dengan produksi 397.228.983 tangkai Krisan, jika harga rata-rata di tingkat produsen atau petani sekitar Rp.700 per tangkai, berarti memiliki nilai jual sekitar Rp. 238.337.389.800. Apabila harga rata-rata di tingkat pengecer sekitar Rp. 2.000 per tangkai pada tahun 2012 maka nilai jual per tahun mencapai sekitar Rp. 794.457.966.000, merupakan suatu nilai ekonomi yang cukup besar. Dengan pertumbuhan Krisan dan nilai ekonomi yang cukup tinggi akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dari berbagai sektor, antara lain penyerapan tenaga kerja dari hulu hingga hilir seperti penangkar benih, petani produsen Krisan, penyedia sarana dan prasarana produksi, panen, pasca panen, perdagangan, jasa floris/dekorator, jasa angkutan, dll. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat)Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan