Gandum (Triticum aestivum L) adalah salah satu serealia dari familia Graminac (Poaceae) merupakan salah satu bahan makanan pokok manusia selain beras. Gandum lebih popular dibandingkan bahan makanan lainnya sesama serealia karena adanya keistimewaan kandungan gluten dan protein yang cukup tinggi pada biji gandum. Gandum merupakan tanaman serealia yang relatif toleran terhadap kekeringan. Pada fase pertumbhan vegetatif sampai fase primordia (± 60 HST) tanaman gandum memerlukan cukup air. Pada fase pertumbuhan selanjutnya, kelembaban yang tinggi tanpa suplai air masih memungkin bagi tanaman gandum untuk tumbuh optimal dengan bantuan bulu-bulu malai yang mampu mengabsorpsi uap air di udara. Kebutuhan air untuk pertumbuhan gandum relatif ebih rendah dibanding tanaman serealia lainnya, berkisar 330 – 392 mm. Di Indonesia, potensi hasil gandum di daerah dataran tinggi (? 1000 mdpl) lebih tinggi dibanding dengan negara Asia lainnya. Hasil gandum didataran tinggi Indonesia dapat mencapai 5,4 ton/ha. Penggunaan input pada budi daya gandum relatif rendah dan tanaman ini rensponsif terhadap pemupukan, terutama nitrogen. Jenis organisme pengganggu tanaman gandum di Indonesia masih sedikit, sehingga aplikasi pestisida dapat ditekan atau bahkan ditiadakan. Badan litbang pertanian telah menghasilkan teknologi produksi dan pascapanen gandum. Ketersediaan teknologi pangan berbasis tepung memungkinkan bagi penanganan hasil gandum dengan lebih baik (Puslitbang Tanaman Pangan, 2008). Badan litbang pertanian telah menghasilkan teknologi produksi dan pascapanen gandum. Ketersediaan teknologi pangan berbasis tepung memungkinkan bagi penanganan hasil gandum dengan lebih baik (Puslitbang Tanaman Pangan, 2008). Indonesia mempunyai potensi lahan untuk mengembangkan gandum seluas 73.455 hektar yang tersebar di 15 provinsi, yang terluas di Provinsi Bengkulu seluas 30.800 hektar dan terkecil di Provinsi Sumatera Barat seluas 125 hektar. Sehingga peluang untuk mengembangkan gandum cukup terbuka (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,2010). Upaya mengembangkan tanaman gandum di Indonesia telah dilakukan Badan Litbang Pertanian dengan mengintroduksikan galur atau varietas gandum dari negara lain. Pengembangan gandum subtropis di Indonesia terkonsentrasi di dataran tinggi yang luasnya juga terbatas. Oleh karena itu, program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu beradaptasi di beberapa ketinggian tempat (Aqil,dkk,2011). Kendala Tanaman gandum berasal dari daerah subtropis, sehingga di Indonesia penanaman gandum lebih baik di daerah-daerah yang iklimnya mendekati kondisi daerah asal. Kendala yang sering dialami tanaman gandum di daerah tropis adalah temperatur udara, temperatur tanah dan kelembaban udara.Daerah-daerah dengan lingkungan yang memenuhi syarat tumbuh gandum terkonsentrasi pada dataran tinggi yang lebih didominasi oleh tanaman hortikultura dan ini akan menimbulkan kompetisi yang tinggi, apalagi petani relatif belum mengenal tanaman gandum (Puslitbang Tanaman Pangan, 2008). Peluang Konsumsi pangan berbasis tepung terigu semakin berkembang, seperti mie, roti, kue dan lain sebagainya. Dampak dari perubahan pola konsumsi dari masyarakat antara lain adalah meningkatnya permintaan terhadap produk olahan gandum. Selain untuk pangan, gandum dapat juga digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetik, sedangkan jerami gandum untuk pakan dan media tumbuh jamur konsumsi. Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui beberapa penelitian. Didataran tinggi (>800 mdpl) tanaman gandum diusahakan pada akhir musim hujan, dan akan dimungkinkan untuk di panen pada musim kemarau, sehingga indeks panen dapat ditingkatkan tanpa menggeser kedudukan tanaman sayuran. Di dataran rendah, gandum dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi iklim mikro yang sesuai untuk pertumbuhan (Puslitbang Tanaman Pangan,2008). Program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu beradaptasi di dataran rendah. Seleksi galur dan evaluasi keragaman genetik memberi peluang bagi perbaikan karakter dan pemilihan genotipe unggul. Untuk meningkatkan produktivitas gandum diperlukan varietas/galur yang secara genetik berdaya hasil tinggi yang didukung antara lain oleh faktor genetik dan lingkungan. Salah satu kriteria keberhasilan program pemuliaan gandum di Indonesia adalah kemampuan untuk merakit varietas unggul yang adaptif pada lokasi dengan ketinggian kurang dari 400 m dpl (Pabendon, dkk, 2009). Manfaat Gandum Food and Drug Administration, badan yang mengawasi makanan dan obat-obatan di Amerika, menyatakan bahwa gandum memiliki khasiat bagi kesehatan jantung. Menurut penelitian terakhir, gandum dapat menurunkan tingginya tekanan darah. Hasil penelitian itu dimuat oleh American Journal of Clinical Nutrition. Kandungan Gandum : 7 Sumber karbohidrat (74,1 %), protein (11,8 %), mineral (0,5%), lemak (1,2 %), serat (0,4 %), dan kadar air (12 %) Menurut dr. Prapti Utami, seorang herbalis, konsultan dan penulis buku Terapi dengan Tanaman Obat, gandum memiliki kandungan serat yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit jantung koroner. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com