Prospek Pengembangan Tanaman Bawang Merah Yang Mempunyai Nilai Ekonomis Di Kabupaten Buru
Penulis Sukoyo, SP Komoditi tanaman bawang merah merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis dan bisa dikembangkan di dataran waeapo kabupaten Buru. Pengembangan budidaya tananaman bawang merah dilaksanakan oleh salah satu petani Bapak Zunaidi berdasarkan pengalaman dan merupakan alah satu anggota kelompoktani yang tergabung dalam kelompok Karya Mukti A Desa Waelo, Kecamatan Waelata Kabupaten Buru. Dalam mencoba mengembangkan budidaya tanaman bawang merah maka harus melihat kondisi iklim yang ada, sehingga petani tidak mendapat kerugian dalam membudidayakanya. Penanaman yang dilakukan dimulai pada Minggu kedua bulan agustus 2019, Benih yang digunakan Varietas Lokal yang dibeli pasar tradisional sebanyak 17 Kg dengan harga Rp. 25.000/Kg. Pengolahan lahan dilaksanakan dengan sempurna dengan membuat bedengan lebar 1 meter dan panjang 40 meter dengan jarak tanam umbi 20 cm X 15 cm dengan pupuk yang digunakan adalah NPK, SP36, Dolomit serta menggunakan pupuk daun Gandasil D dan Sprint digunakan untuk perkembangan daun tanaman dengan cara disemprotkan pada daun bawang ketika umur 2 minggu dan dilakukan setiap satu minggu sekali pada pagi dan sore hari. Sistim pengairan dilakukan dengan sistem LEB (air dimasukan diantara bedengan tanaman) tiga hari sekali sehingga seluruh bedengan tanaman semua meresap air atau basah. Dalam pengendalian gulma dilakukan dengan menggunakan Herbisida Ronstar yang disemprotkan pada bedengan 4 hari sebelum tanam secara merata, agar bedengan tidak ditumbuhi oleh Gulma. Pengendalian hama danyakit : Pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit adalah Danke, Klenset dan Antracol. Cara pengendalian hama dilakukan penyemprotan dengan dosis 2 cc/liter air, waktu penyemprotan pagi atau sore hari dengan interval 3 hari satu kali. Panen dilakukan pada saat sudah berumur 65-70 hari setelah tanam dengan ciri daun tanaman sudah mulai mengering dan rebah ± 70%. Cara panen dengan cara dicabut langsung secara manual, setelah itu dilaksanakan penjemuran umbi secara berjajar dengan metode menutupi umbi dengan daun umbi agar umbi tidak terkena sinar matahari secara langsung. Lama penjemuran ± 4/5 hari sesuai dengan kondisi umbi setelah itu umbi diikat dan disimpan di para-Para ( dikering anginkan). Jumlah produksi yang diperoleh oleh bapak Zunaidi dari benih 17 Kg yang ditanam mendapatkan produksi 250 Kg bawang merah kering dengan nilai jual dipasaran 23.000/kg. Bila dihitung dari penghasilan budidaya tanam bawang merah maka 250 kg x Rp. 23.000 = Rp. 5. 750. 000. Dari hasil perhitungan hasil produksi diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa ujicoba pengembangan budidaya tanaman bawang merah tersebut berhasil dan dapat terus dikembangan di dataran waeapo, karena setiap 1 kg bibit bawang merah menghasilkan 10-14 Kg.