Loading...

PUPUK HIJAU SOLUSI TERBAIK DALAM MENEKAN BIAYA OPERASIONAL TANAMAN HORTIKULTURA

PUPUK HIJAU SOLUSI TERBAIK DALAM MENEKAN BIAYA OPERASIONAL  TANAMAN HORTIKULTURA
PUPUK HIJAU SOLUSI TERBAIK DALAM MENEKAN BIAYA OPERASIONAL TANAMAN HORTIKULTURA Oleh : Kasbullah, S.ST PUPUK HIJAU Pupuk Hijau adalah pupuk organik yang terbuat dari tanaman, sisa tanaman atau sampah hijauan yang diproses dengan bantuan bakteri. Manfaat pupuk hijau : Meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi. Hal ini sangat baik terutana digunakan dalam budidaya tanaman hortikultura, selain ramah lingkungan juga bisa menekan biaya produksi. Sumber pupuk hijau : Sumber pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) / sampah rumah tangga atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau atau berasal dari tanaman liar. Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi (terutama N) dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya, tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat. tanaman orok-orok Sisa tanaman / sampah rumah tangga Sisa tanaman (sisa panen) merupakan sumber BO yang paling ekonomis karena bahan ini merupakan hasil sampingan dari kegiatan usaha tani, sehingga tidak membutuhkan biaya untuk pengadaannya. Sisa tanaman walaupun kandungan haranya relatif rendah, namun karena total sisa tanaman yang dihasilkan setiap musim panen banyak, maka total unsur hara yang disumbangkan dari setiap musim panen tidak kalah dibandingkan jenis legume. Dan bisa juga kita dapatkan dari hasil sampah rumah tangga, kita pisahkan antara organic dan an organik Tanaman pagar Salah satu cara menyediakan sumber pupuk hijau adalah dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama. Tanaman pagar dapat menghasilkan tanaman secara periodik; pada musim hujan tanaman dapat dipangkas setiap 2 bulan. Aplikasi sistem pertanaman lorong pada lahan miring, dimana legume ditanam searah kontur sangat efektif untuk menekan erosi. Secara umum setiap legume dapat digunakan sebagai tanaman pagar, namun lebih efektif bila tanaman pagar memenuhi sifat-sifat sebagai berikut : Berakar dalam agar tidak menjadi pesaing bagi tanaman semusim Pertumbuhan cepat dan setelah pemangkasan cepat bertunas kembali Mampu menghasilkan bahan hijauan dalam jumlah banyak dan terus menerus yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau Mampu memperbaiki kandungan N dalam tanah dan kandungan hara lainnya. Tanaman legume yang dapat digunakan sebagai tanaman pagar : Tanaman penutup tanah Tanaman penutup tanah adalah tanaman yang ditanam sendiri yakni pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan. Tujuan penanaman tanaman penutup tanah : Melindungi tanah dari daya perusak butir-butir hujan Mempertahankan/memperbaiki kesuburan tanah Menyediakan BO Merupakan tindakan rehabilitasi lahan yang murah dan mudah diaplikasikan Azolla Azolla merupakan salah satu sumber N alternatif khususnya untuk padi sawah. Azolla merupakan paku air ukuran mini yang bersimbiosis dengan Cyanobacteria pemfiksasi N2. Sesbania rostrata Sesbania rostrata merupakan tanaman legume yang potensial sebagai sumber N pada lahan sawah. Tanaman ini dapat tumbuh pada keadaan tergenang, dan dapat membentuk bintil tidak hanya pada akar tetapi juga pada batang. Oleh karena itu tanaman ini mempunyai kemampuan menambat N yang relatif tinggi. Alat : Terpal Parang Ember Sekop Cangkul Bahan : 200 kg hijau daun atau sampah dedaunan dari dapur. 10 kg dedak halus. ¼ kg gula pasir/gula merah. ¼ liter bakteri. 200 liter air atau secukupnya. Proses Pembuatan : Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi. Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun. Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air. Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata. Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampairata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat. Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.