A. Jenis-jenis pupuk Pupuk berbeda-beda jika dilihat dari bahan pembuatannya, kandungan yang dikandungnya dan bentuk fisiknya. 1. Berdasarkan bahan pembuatannya pupuk dibedakan menjadi 2 yaitu Organik dan Anorganik (atau Non Organik / Pupuk Kimia). Pupuk Organik terbuat dari bahan-bahan organik (bekas atau sisa tanaman dan atau khewan) berupa kotoran ternak, sersah/sampah organik, termasuk bangkai hewan. Pupuk organik biasanya kandungan zat yang terkandung cukup banyak namun jumlahnya serba sedikit, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak untuk setiap satuan luas lahan. Misalnya untuk 1 ha. lahan sawah dibutuhkan 2 ton pupuk organik padat. Sedangkan pupuk kimia kandungan haranya terukur secara pasti, lebih padat, dapat berupa pupuk tunggal maupun pupuk majemuk. Dibutuhkan dalam jumlah yang relatif sedikit dibandingkan pupuk organik. Misalnya untuk 1 ha sawah dibutuhkan 100—200 kg Urea saja tergantung tingkat kesuburan tanahnya. 2. Berdasarkan jumlah unsur yang dikandungnya, pupuk dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk compound (majemuk). Pupuk tunggal misalnya; Urea, TSP, SP-36, KCl dan sebagainya. Sedangkan pupuk majemuk misalnya; Gandasil, Pelangi, Phonska, Rustika dan semacamnya. 3. Bedasarkan jenis kandungan hara yang dikandungnya, disebut dengan pupuk N, pupuk Phosphat, pupuk K, pupuk NPK dan sebagainya 4. Berdasarkan bentuk fisiknya; disebut pupuk padat dan pupuk cair. Tanaman dapat tumbuh dengan sehat dan subur apabila mendapatkan cukup unsur hara di dalam tanah. Untuk dapat tumbuh dengan baik dan normal, tanaman membutuhkan asupan zat sebagaimana juga kita dan hewan dapat hidup dengan sehat apabila mendapatkan cukup makanan yang bergizi dan berimbang. Manusia membutuhkan zat energi berupa karbohidrat, zat pembangun berupa protein dan zat pengatur berupa vitamin dan mineral. Zat tenaga dan pembangun dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak sedangkan vitamin dan mineral dalam jumlah sedikit tetapi harus dicukupi, kalau tidak maka pertumbuhan dan pertahanan tubuh ini menjadi lemah. demikian juga halnya dengan tanaman; mereka membutuhkan zat untuk pertumbuhan vegetatif (N), pertumbuhan genertif (P) dan pertahanan tubuh (K) dalam jumlah yang cukup besar, sedangkan dibutuhkan unsur-unsur lain sebagai penyeimbang dalam jumlah sedikit, tetapi harus, seperti Ca, Mg, S, Cu, Zn, Mo, Cl, Fe, Mn dan sebagainya. Pada tanah hutan yang perawan, kandungan hara tersedia cukup di dalam tanah secara terus menerus karena adanya daur ulang alamiah dari berbagai flora dan fauna di dalamnya. Di lahan pertanian, petani mengambil hasil dari suatu lahan secara terus menerus diangkut keluar dari lahan itu, sehingga lambat laun tanahpun menjadi kurus. Karena itu, untuk mencukupi kebutuhan akan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman perlu ditambahkan bahan tambahan unsur ke dalam tanah dan atau kepada tanaman yang `umum` disebut dengan PUPUK. Jadi pupuk merupakan bahan / unsur yang ditambahkan kepada tanah untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman sehingga tanaman tumbuh dengan baik. JENIS PUPUK DAN MANFAATNYA Manfaat pupuk atau manfaat dari setiap unsur hara yang terkandung dalam pupuk bagi pertumbuhan tanaman adlah sebagai berikut: 1. N (Natrium) bermanfaat bagi pertumbuhan vegetatif bagi tanaman, seperti pembentukan pucuk daun dan tunas, memberikan warna hijau pada daun, pembentukan anakan pada tanaman jenis rumput. Pupuk N yang terkenal adalah Urea, mengandung 46% N. Unsur N juga terkandung cukup banyak dalam pupuk organik. 2. P (Phosphat) bermanfaat bagi tanaman untuk memperbanyak akar, pembungaan dan terutama pada pengisian buah dan pembentukan biji. Pupuk P yang terkenal adalah TSP, SP-36. Ada juga pupuk majemuk yang disebut pupuk buah oleh petani karena kandungan P-nya tinggi dan kandungan penguat lainnya seperti K dan Mg juga ada. 3. K (Kalium) bermanfaat bagi tanaman sebagai penguat batang, penguat ujung-ujung akar, tangkai daun dan tangkai buah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan kokoh dan tidak mudah diserang hama-penyakit. Ketiga jenis pupuk ini (pupuk N, P dan K) disebut juga dengan pupuk makro karena mengandung unsur makro, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah paling banyak bagi pertumbuhan tanaman. Ca (Kapur) bermanfaat bagi tanaman dalam jumlah kecil, tetapi dapat mengurangi keasaman tanah sehingga kapur biasanya digunakan untuk reklamasi tanah (memperbaiki keadaan tanah). Kapur pertanian yang terkenal adalah Dolomit, selain mengandung unsur 4. S (Belerang) bermanfaat bagi tanaman dalam jumlah sedikit (mikro), tetapi dapat dipergunakan untuk menetralkan tanah yang terlampau basa (alkalin / pH tinggi). Belerang reaksinya merupakan kebalikan dari zat Kapur. 5. Pupuk mikro lainnya. Selain Ca dan S banyak lagi unsur-unsur mikro yang dibutuhkan oleh tanaman yang pada umumnya masih tersedia secara alami di dalam tanah, seperti; Mg, Fe, Zn, Al, Mo, Cu, B dan sebagainya. Pupuk ini biasanya dikemas dalam pupuk majemuk dan biasanya juga dalam bentuk pupuk cair dalam berbagai nama dan bentuk promosi. Ada yang menamakan sebagai pupuk ajaib, trace element, mikro nutrient PPC (pupuk pelengkap cair) dan sebagainya, yang pada dasarnya memberikan unsur mikro yang mulai kahat / kekurangan di dalam tanah sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal. Dengan memberikan unsur mikro ini kemudian tumbuhan menjadi berkembang dengan normal. 6. Pupuk Organik. Pupuk organik juga mengandung unsur makro dan unsur mikro, akan tetapi komposisinya (pada umumnya) unsur makronya serba sedikit, akan tetapi di dalamnya sekaligus terkandung unsur mikro. Kandungan haranya seringkali tidak terukur atau komposisinya tidak stabil. Namun pupuk organik bersifat pro-biotik (merangsang perkembangan mikro organisme tanah, sehingga tanah menjadi semakin gembur, sebaliknya dengan pupuk kimia yang cenderung menyebabkan tanah semakin padat dan mikro organisme semakin tertekan. Dalam pertanian terkini disadari bahwa penggunaan pupuk kimia berlebihan cenderung akan merusak tanah dan mikro biologi tanah. Dewasa ini di negara-negara maju sedang berusaha untuk kembali pada pertanian Organik, karena selain ramah lingkungan juga produk yang dihasilkannya mempunyai keunggulan dan mutu kesehatan yang lebih tinggi. Seiring dengan program pemerintah Provinsi Bali menuju Bali Green, Bali Clean dan Bali Organik, maka sudah saatnya kita untuk bersungguh-sungguh mempelajari sistem pertanian organik ini dengan serius. Utamanya Lembaga Penelitian seperti BPTP, Perguruan Tinggi dan sebagainya sehingga petani mendapatkan teknologi organik yang dapat dihandalkan. Demikian sekilas mengenai pupuk dan manfaatnya; semoga informasi kecil ini bermanfat adanya bagi petani, penyuluh dan pihak lainnya. Drs I Ketut Sudirja,SPPP. BPP Susut