Air sebagai sumber kehidupan sangat vital bagi makhluk hidup, terutama tumbuhan. Dalam proses fisiologi tumbuhan, air merupakan hal yang sangat penting, sehingga menjadi hal utama yang perlu diperhatikan pada budidaya pertanian. Air merupakan salah satu komponen fisik yang sangat dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena sebanyak 85-90% dari bobot segar sel-sel dan jaringan tanaman adalah air. Dalam kegiatan budidaya tanaman, keberadaan air harus diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan tanaman. Lahan pertanaman yang kekurangan air akan menyebabkab aerasi udara menjadi terganggu dan suplai oksigen dalam tanah tidak lancar. Akibatnya fungsi dan pertumbuhan akar sebagai bagian yang penting bagi tanaman akan berhenti, sehingga perkembangan tanaman menjadi tertunda, kualitas dan kuantitas produksi menurun, rentang terhadap serangan hama dan penyakit, serta menyebabkan layu hingga kematian bagi tanaman. Padi, sebagai komoditas utama yang dibudidayakan oleh petani di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan bergantung pada ketersediaan air untuk hidupnya. Padi bukan tanaman air yang memerlukan air sepanjang hidupnya, namun kebutuhan air disesuaikan dengan fase pertumbuhannya. Pada fase tanam, kebutuhan air bagi tanaman padi akan berbeda dengan fase anakan, fase vegetatif maupun fase generatif. Hingga saat ini dalam memenuhi kebutahan air, petani di Deasa Kutuk mengandalkan sumber air dari Sistem Irigasi Waduk Kedung Ombo. Sistem Irigasi Waduk Kedung Ombo merupakan sistem irigasi teknis. Agar sistem irigasi teknis ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat memenuhi kebutuhan tanaman, maka diperlukan sarana irigasi yang baik dan memadai. Namun pada kenyataannya, sarana irigasi yang ada di Kelompok Tani Sri Bangun pada khususnya dan Desa Kutuk secara umum dalam keadaan rusak dan kurang memadai, sehingga diperlukan perbaikan/rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang rusak. Keluhan petani tersebut, oleh Kementerian Pertanian melalui Dirjen Sarana dan Prasarana ditanggapi dengan memberikan bantuan berupa Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier. Program ini merupakan bantuan swakelola yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani penerima bantuan untuk membangun/merhabilitasi jaringan irigasi tersier yang rusak. Bantuan rehabilitasi jaringan irigasi tersier ini mendapat sambutan yang sangat positif bagi kelompok tani. Dengan adanya kegiatan bantuan ini dapat terbangun jaringan irigasi tersir yang baik, memadai dan dapat mencukupi kebutuhan air pada lahan sawah. Sudono, Ketua Poktan Sri Bangun, yang mendapatkan bantuan rehabilitasi jaringan ini mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat yang luar biasa bagi petani. Ia berharap bahwa prrogam bantuan rehabilitasi jaringan tersier ini dapat bergulir setiap tahun, mengingat di Desa Kutuk terdapat jaringan irigasi tersier yang rusak sepanjang 3.300 meter. Oleh : Alfian Eo Ardiyanto, SP NIP. 19860618 201001 1 014 PP Muda