REMBUG TANI BUDIDAYA PADI LAHAN SAWAH LEBAK DI KECAMATAN RANTAU PANJANG Kecamatan Rantau Panjang dengan luas wilayah 4085 Ha mempunyai lahan sawah yang pada tahun 2018 lalu luas areal tanam padinya mencapai 3612 Ha yang tersebar di 12 Desa yang notabene termasuk daerah aliran sungai (DAS). Semua sawah yang ada sebagian besar dapat dikategerikan sebagai sawah lebak yang pada musim kemarau kekurangan air, sedangkan sebaliknya dimusim hujan kelebihan air, bahkan tidak jarang terjadi banjir yang membuat semua sawah yang ada seakan berubah menjadi danau besar. Dengan kondisi seperti tersebut diatas diperlukan kearifan lokal dalam mengelola dan memanfaatkan karunia Allah tersebut dengan berbagai macam cara sehingga sawah yang ada dapat dimanfaatkan. Untuk itu berdasarkan pengalaman petani selama ini dalam berusahatani padi di lahan sawah lebak di Kecamatan Rantau Panjang yang pada umumnya hanya dapat ditanami sekali dalam setahun yakni pada musim tanam april - september, dan sebagian kecil yang telah dimanfaatkan untuk ditanami 2 kali atau IP 200 yang dilakukan penanmannya pada musim tanam Oktober - Maret beberapa hal yang dapat dilakukan dalam berbudidaya padi adalah sebagai berikut : Penggunan Benih Unggul Benih unggul yang dimaksudkan disini adalah yang mempunyai daya tumbuh yang tinggi, kemurniannya dapat dijamin, anakan banyak, jumlah bulir per malai banyak, tahan hama/penyakit, berumur pendek, tahan kekeringan atau rendaman dan mampu berproduksi tinggi, diantaranya yang sudah dikenal petani seperti IR.42, IR.64, Ciherang dan lain-lain. Penyemaian Penyemaian dapat dilakukan baik dengan sistim semai biasa ataupun semai tugal. Yang perlu mendapat perhatian disini adalah keselarasan antara umur bibit dengan kondisi air dilahan ketika hendak ditanam, kalau umur bibit sudah lebih dari 25-30 hari sedangkan tinggi air dipermukaan sawah belum memungkinkan untuk ditanami padi, maka perlu dilakukan pecah bibit ke lahan sawah dibagian tepi, untuk memberikan waktu selama beberapa hari agar bibit sudah semakin besar/tinggi dan air di permukaan sawah sudah surut.. Pengolahan Tanah. Pengolahan tanah baik dengan menggunakan hand traktor atau cangkul, sebaiknya dilakukan tidak terlalu dalam (sesuai ukuran kedalaman akar padi) untuk menghindari agar lapisan pirit dibawah top soil tidak terangkat keatas. Pengeolahan tanah Ini hanya dapat dilakukan pada sawah lebak dangkal dengan kedalaman air sekitar 50 cm, sedangkan pada tipe sawah lebak lainnya hal ini tidak mungkin dilakukan mengingat kedalaman airnya lebih dari 50 cm dengan masa tergenang bervariasi, untuk itu cukup dengan cara TOT saja. Penanaman Penanaman dapat menggunakan sistim legowo maupun sistim tegel, sistim legowo diyakini dapat memberikan peningkatan produksi karena populasi tanamnya bertambah dibandingkan bila menggunakan sistim tegel. Disamping itu dengan menggunakan system legowo ini dapat mengurangi kelembaban juga meminimalisir serangan hama tikus yang sering meresahkan petani (Badan Litbang Pertanian dalam Juknis Lapang PTT Padi Sawah, 2007). Penyiangan Penyiangan adalah suatu hal yang mutlak harus dilakukan karena biasanya gulma akan cepat sekali tumbuh dan utama bagi tanaman padi untuk mendapatkan sinar matahari dan unsur hara, umumnya petani melakukan penyiangan ini 1 atau 2 kali tergantung kondisi gulmanya dengan cara manual atau dengan cara penyemprotan herbisida. Pemupukan Walaupun sering terkena banjir yang banyak membawa bahan organik, sawah lebak masih membutuhkan pupuk anorganik dan jumlahnya per hektar adalah Urea 100-150 kg, SP 36 sebanyak 50-75 kg dan KCL sebanyak 50 kg atau dapat dilakukan penambahan dengan pupuk organik baik padat maupun cair. Cara pemberiannya diatur sedemikian rupa yakni setelah pemberian pupuk dasar, dilakukan pemupukan susulan. Dalam pemberian pupuk susulan ini sering mengalami kendala yakni kesesuaian umur padi pada saat itu dan keadaan air di sawah untuk menjaga efektifitas dan efisiensi pemupukan. Pengendalian Hama Penyakit. Hama dan penyakit utama yang sering dijumpai dalam budidaya padi sawah lebak antara lain tikus, Ulat Grayak, hama wereng coklat, hama putih palsu, penggerek batang, keong mas, hama orong-orong, walang sangit dan penyakit blast. Upaya mengatasinya adalah dengan menggunakan system pengendalian hama terpadu (PHT) dengan mengkombinasikan berbagai cara yang tidak merusak alam, sedangkan penggunaan pestisida hanya dapat dilakukan apabila sudah sangat terpaksa. 8. Panen dan Pasca Panen. Sesuai dengan masing-masing tipe lahan lebak, panen biasanya dimulai pada bulan juli sampai dengan bulan September, sedangkan panen terbesar pada bulan Agustus untuk Musim tanam Asep dan untuk tanam Okmar biasanya pada bulan Desember – Pebruari. Panen dilakukan dengan cara penggunaan sabit bergerigi dengan perontokan secara disebat, pedal threser dan dengan penggunaan Power Threser . Sebagian besar produksi padi petani sebagian besar langsung di giling dan dijual, dan sebagian untuk dikonsumsi dan kebutuhan sosial oleh keluarga tani. (Sumber : Pertemuan Rembug Tani BPP Rantau Panjang) NOFRAN Admin SMIPP Kec. Rantau Panjang