Loading...

Rice Transplanter sebagai Solusi Keterbatasan Tenaga Tanam Padi

Rice Transplanter sebagai Solusi Keterbatasan Tenaga Tanam Padi
Kegiatan pertanian mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dulu nenek moyang kita bercocok tanam dengan cara yang sangat sederhana, mereka mereka membuka lahan di hutan untuk ditanami dan kemudian setelah panen mereka pindah untuk mencari lokasi baru (nomaden). Waktu berjalan manusia mulai berpikir lebih kreatif dengan merawat lahan yang sudah ada, setelah itu mulai muncul ide untuk membuat peralatan-peralatan pertanian seperti cangkul dan sebagainya yang pada saat itu sebagian besar masih dikerjakan oleh tenaga manusia. Semakin berkembang lahirlah alat bajak dengan tenaga hewan. Teknologi terus berkembang sampai muncul traktor yang menggunakan mesin. Sampai di era sekarang dimana teknologi peralatan pertanian semakin maju dan melahirkan peralatan serba mesin dan serba guna seperti alat mesin tanam padi (rice transplanter) dan alat mesin panen (combine harvester). Teknologi alat mesin pertanian akan terus berkembang seiring dengan semakin terbatasnya tenaga kerja yang memicu tingginya biaya. Kita ketahui bahwa sebagian besar usia petani terutama tenaga tanam merupakan ibu-ibu usia lanjut, sedangkan pada saat ini para pemuda juga enggan untuk bekerja pada sektor pertanian. Bisa dibayangkan apabila ibu-ibu ini telah "purna" maka siapakah yang akan melanjutkan tugas mereka. Oleh karenanya, manusia mulai berpikir agar supaya kegiatan usaha tani dapat terus berlanjut, lebih efisien, efektif dan tepat guna. Penciptaan alat mesin pertanian itu sebenarnya bukanlah untuk menggantikan manusia namun sebagai pendamping untuk membantu pekerjaan petani demi untuk meningkatkan produksi hasil pertanian. Sejak tahun 2016 hingga saat ini pemerintah melalui kementerian pertanian telah memberikan bantuan 9 unit alat mesin tanam padi (rice transplanter) dan tidak kurang 5000 buah seeding tray di Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember. 9 unit rice transplanter ini di kelola oleh unit pelaksana jasa alsinta (UPJA) masing-masing desa. Masuknya teknologi baru seperti rice transplanter tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, karena pada awalnya mendapat penolakan dari petani utamanya tenaga tanam konvensional. Tenaga tanam beranggapan bahwa kehadiran rice transplanter akan mengurangi rezeki mereka. Sebenarnya apabila kita telisik lebih dalam bahwa kendala usaha tani pada daerah sentra produksi padi adalah kekurangan tenaga kerja utamanya tenaga tanam. Sebagian besar tenaga tanam adalah wanita pada usia lebih 50 tahun yang memerlukan regenerasi. Dampak dari keterbatasan tenaga tanam adalah mundurnya jadwal tanam dan tanam tidakserempak sehingga akan menurunkan IP padi dan rentan serangan OPT. Untuk itu kehadiran rice transplanter sebagai salah satu bentuk solusi dan adaptasi atas kondisi tersebut. Tenaga tanam juga tidak akan tersingkir karena jumlah rice transplanter ini pun masih sangat terbatas dan hanya bisa digunakan pada lahan-lahan tertentu misalnya pada lahan hamparan yang berkontur datar, sedangkan pada lahan sempit dan kontur miring atau terasering tentunya tenaga tanam masih sangat dibutuhkan. Alangkah indahnya bila tenaga tenam dan rice transplanter dapat berjalan beriringan bersama, petani dapat melaksanakan tanam serempak sesuai jadwal. Tentunya sudah ada bagiannya masing-masing,suka tidak suka teknologi akan terus berkembang, namun penulis pun yakin sisi kemanusiaan tidak akan pernah hilang dari sektor pertanian karena sejatinya manusia hidup dari pertanian dan pertanian pun tetap ada karena masih adanya sisi kemanusiaan. (diolah dari berbagai sumber)