Loading...

RUMPUT BENGGALA SEBAGAI PAKAN TERNAK

RUMPUT BENGGALA SEBAGAI PAKAN TERNAK
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua macam bentuk, yakni hijauan segar dan kering. Hijauan sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan sangat penting. Hal ini disebabkan hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan. Sebagian besar pakan ruminansia adalah bahan pakan yang berserat tinggi dengan kecernaan rendah, oleh karena itu harus diusahakan agar ternak sebanyak mungkin mengkonsumsi makanan untuk mencukupi kebutuhannya akan zat-zat makanan. Sebagaimana diketahui pada saat ini sebagian besar hijauan pakan yang diberikan kepada ternak ruminansia adalah rumput lokal yang berkualitas rendah, padahal keragaman hijauan pakan yang ada di Indonesia sangat besar, baik di daerah beriklim basah maupun daerah beriklim kering.Salah satu hijauan yang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki komposisi nutrisi yang baik adalah rumput Benggala. Rumput benggala digunakan sebagai salah satu spesies rumput yang paling baik untuk produktivitas sapi potong. Rumput benggala mempunyai genus Panicum dan species Panicum maximum. Rumput P.maximum yang dikenal dengan nama Guinea grass, buffalo grass, green panic (Inggris), Herbe de Guinee, panic eleve (Perancis), rumput benggala (Indonesia), suket londo (Jawa), rebha luh-buluhan (Madura), rumput kuda, rumput benggala (Malaysia), yakinni (Thailand) dan Co ke to (Vietnam). Rumput benggala berasal dari Afrika tropik dan subtropik. Rumput benggala telah tersebar di daerah tropis. Menurut pemaparan dari salah satu jurnal penelitian, rumput ini tidak diragukan lagi yang terbaik di Asia Tenggara sebagai rumput pastura atau diintegrasikan dengan karet dan lamtoro. Karakteristik rumput benggala adalah tanaman tumbuh tegak membentuk rumpun mirip padi. Rumput berdaun lebat, tinggi bervariasi menurut varietasnya, parenial, berkembang dengan potongan-potongan bulu akar dan tunas atau rhizoma. Termasuk rumput tahunan, kuat, berkembang biak yang berupa rumpun/pols yang sangat besar, dengan akar serabut menembus dalam tanah. Sebagai hijauan makan ternak rumput tidak kalah bagusnya dengan rumput gajah maupun rumput raja yang saat ini banyak dibudidayakan.Tinggi tanaman 1,00 – 1,50 m, dengan seludang-seludangnya berbulu panjang pada pangkalnya, lidah kadang-kadang berkembang biak. Daun bentuk pita yang sangat banyak jumlahnya itu terbangun garis, lancip bersembir kasar, berwarna hijau, panjang 40–105 cm dengan lebar 10–30 mm. Beberapa kultivar rumput benggala yang telah dikenal adalah: (1). Tipe besar dengan tinggi tanaman antara 3,6-4,2 m seperti kultivar Hammil; (2). Tipe sedang dengan tinggi tanaman 1,5-2,5 m seperti kultivar Gatton dan Common; (3). Tipe pendek dengan tinggi tanaman 1,0 m seperti pada kultivar Sabi dan Trichoglume. Secara karakteristik agronomi terdapat dua kelompok utama Panicum maximum, yang terdiri dari tipe besar atau sedang yang sesuai untuk silase dan grazing dan tipe kecil yang cocok untuk grazing. Penanaman rumput Panicum maximum, dapat menggunakan sobekan (vegetatif) atau menggunakan biji (generatif). Penggunaan asal bahan tanam yang berbeda, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Perbedaan bahan tanam yang digunakan biasanya akan mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman karena bahan tanam yang berbeda memiliki fase pertumbuhan yang berbeda.Rumput ini dapat tumbuh baik di semua jenis tanah dengan curah hujan lebih dari 760 mm/tahun. Rumput benggala mempunyai kecepatan pertumbuhan tertinggi dan menghasilkan hijauan 70 ton/ha pada siklus pertumbuhan selama 12 minggu. Pemotongan tiap 3 minggu memberikan produksi total minimum 50 ton/ha. Rumput ini tidak berbatang sehingga hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan secara maksimal, selain itu memiliki kandungan protein kasar 9,2–18,7% dan bahan kering per ha 4037 kg dengan kecernaan 58,6–66,3%. Dari pemaparan pada salah satu penelitian menyatakan bahwa semakin panjang interval pemotongan semakin meningkat produksi segar maupun bahan keringnya. Peningkatan produksi pada umur potong empat minggu sampai 8 minggu rata-rata 63,2%. Kenaikan produksi tertinggi pada pemotongan 8 minggu. Pada umumnya rumput benggala mempunyai kandungan protein kasar lebih tinggi dan serat kasar lebih rendah dibanding rumput gajah kultivar Taiwan. Berdasarkan hasil tersebut maka rumput benggala dapat menggantikan rumput gajah maupun rumput raja yang kurang tahan kekeringan maupun naungan. Kandungan nutrisinya dipengaruhi oleh umur pemotongan. Semakin tua umur pemotongan kandungan protein kasarnya semakin rendah (Tabel 5) sedangkan kandungan serat kasarnya semakin tinggi. Persentase protein kasar dalam bahan kering pada pemotongan 3 minggu sekali sebesar 11.6% dan menurun menjadi 6.4% bila rumput tersebut dipotong 12 minggu sekali. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Sumber : 1. A,Fanindi dan Sutedi E. 2014.Jurnal: Karakter Morfologi Rumput Benggala (Panicum maximum cv Gatton) yang Ditanam Menggunakan Jenis Benih Berbeda.. (http://medpub.litbang.pertanian.go.id/, diakses 18 Desember 2014)2. Bung Sanjaya. Rumput Benggala. (http://www.situs-peternakan.com , diakses 18 Desember 2014)3. Carolina Panjaitan, Ruth. 2010. Skripsi: Efek Perendaman Pols Dalam Urin Sapi Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Rumput Benggala (Panicum maximum) Dan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum). (http://repository.usu.ac.id/, diakses 18 Desember 2014)4. Sajimin et al. 2014.Jurna Balai Penelitian Ternak : Agronomi Rumput Benggala (Panicum maximum Jacq) Dan Pemanfaatannya Sebagai Rumput Potong. (http://peternakan.litbang.pertanian.go.id//, diakses 18 Desember 2014)