Loading...

Saat Panen Padi Yang Tepat

Saat Panen Padi Yang Tepat
Pemanenan padi merupakan tahapan awal dalam penanganan pasca panen padi. Apabila pemanenan padi tidak sesuai dengan persyaratannya maka akan menentukan besarnya susut dan mutu gabah yang dihasilkan. Pemanenan harus dilakukan pada padi yang sudah mencapai umur panen optimum. Pemanenan dilakukan jika malai padi yang sudah 80 % menguning, dan jika dicek menggunakan moisture tester ( alat pengukur kadar air ) kadar airnya berkisar antara 20 – 25 % . Umur tanaman padi antara 30 – 35 hari setelah pembungaan. Menentukan saat panen juga dapat dilakukan jika kadar air bulir padi dapat juga dicek dengan menggigitnya, jika mudah patah saat digigit, maka padi siap dipanen.Pemanenan padi dapt dilakukan secara pemanenan tradisional dan pemanenan mekanis. Pemanenan tradisional dengan menggunakan sabit. Pemanenan seperti ini dilakukan dengan memotong sekaligus 10 – 15 batang padi dengan panjang potongan 15 – 25 cm untuk perontokan dengan mesin perontok Power Thresher. Potong bawah untuk perontokan tradisional dengan digebot atau menggunakan Pedal Thresher, tinggi pemotongan 8 – 12 cm dari pangkal. Pemanenan mekanis dengan menggunakan alat pemanen semi mekanis ( Reaper ) dengan alur agar pemotongan efektif dan efisien. Hadapkan pisau pemotong berada di depan alur tanaman padi dan dipotong dengan tingggi pemotongan antara 8 – 12 cm dari pangkal. Pada pemanenan mekanis perhatikan lokasi perontokan harus datar dan kering serta padi tidak roboh. Hal penting yang perlu diperhatikan kumpulkan padi yang sudah dipotong diatas terpal agar tidak tercecer. Jangan menunda perontokan. Harus secepatnya dillakukan perontokan untuk menghindari kerusakan gabah.Padi yang sudah dipotong dikumpulkan dilokasi perontokan dan pastikan lokasi perontokan datar dan kering . jangan lupa beri alas agar padi tidak tercecer karena kehilangan jumlah gabah dapat menurunkan produksi padi. Perontokan padi dapat dilakukan secara tradisional/manual dan perontokan mekanis. Untuk melakukan perontokan tradisional ambil segenggam padi dan gebot atau pukulkan secara kontinyu pada landasan perontok yang diletakkan diatas alas terpal sampai semua bulir bersih. Yang perlu diperhatikan ketika melakukan penggebotan segenggam padi jangan sampai melebihi bahu badan agar gabah tidak tercecer. Pada perontokan secara mekanis, pilih mesin perontok mekanis yang sesuai dan pastikan semua komponen mesin terpasang sesuai petunjuk. Perhatikan arah angin dan arahkan keluarnya hasil perontokan. Perontokan secara mekanis dengan mesin perontok power thresher dapat dioperasikan sesuai dengan kapasitas dan fungsinya agar tidak macet. Selalu gunakan alas terpal agar padi hasil perontokan tidak tercecer.Gabah hasil perontokan dikumpulkan dan dibersihkan dengan menggunakan ayakan / blower agar kotoran , gabah hampa dan benda asing terpisahkan. Gabah bersih dikemas dalam karung untuk dibawa. Gunakan karung yang tidak bocor untuk kemasan pengangkutan agar tidak ada gabah yang tercecer. Masukkan karung-karung gabah tersebut sesuai kapasitas kendaraan yang digunakan untuk mengangkut karung-karung gabah tersebut. Jangan menunda pengeringan atau penjemuran karena akan menurunkan mutu gabah.Selanjutnya lakukan pengeringan gabah-gabah padi tersebut. Pengeringan adalah penanganan pasca panen padi yang sangat penting, sehingga harus dilakukan dengan baik dan benar. Secara umum ada 2 (dua ) cara pengeringan , yaitu pengeringan secara tradisional dan pengeringan secara mekanis. Tujuan pengeringan untuk menurunkan kadar air gabah sampai 13 – 14 % untuk penyimpananan jangka panjang.Untuk melakukan pengeringan padi secara tradisional ,yaitu lakukan pengeringan atau penjemuran diatas lantai jemur dengan ketebalan tumpukan gabah 3 – 6 cm dilakukan pada siang hari yang cerah. Lakukan pembalikan gabah yang dijemur setiap 2( dua ) jam agar gabah kering merata sampai dihasilkan kadar air 14 %. Saat keadaan cuaca buruk, hamparkan gabah dengan ketebalan 10 cm dalam ruangan dan lakukan pembalikan setiap hari dan bila cuaca sudah cerah kembali , lakukan pengeringan atau penjemuran. Jika pengeringan gabah menggunakan alas plastik atau tikar pastikan tanah dibawahnya tidak basah, sehingga tidak terjadi kelembaban dibawahnya.Untuk melakukan pengeringan gabah secara mekanis yang sederhana dan massal adalah mesin pengering tipe bak. Sebelum dilakukan pengeringan, gabah harus dalam kondisi bersih dari kotoran. Masukkan gabah sesuai kapasitas alat pengering, atur sumber panas dan kecepatan aliran udara pengeringan melalui kipas dan atur tungku agar mencapai suhu 45 derajat Celcius. Tebal tumpukan gabah pada bak pengering jangan lebih dari 50 cm dan lakukan pengadukan serta pengecekan kadar air secara teratur selama pengeringan. Jika kadar air sudah mencapai 13 – 14 % matikan tungku dan keluarkan gabah kering melalui pintu pengeluaran . Sebelum gabah dimasukkan ke karung-karung pastikan gabah padi sudah dingin. Tindakan perbaikan yang perlu dilakukana pada saat pengeringan , yaitu pisahkan gabah untuk konsumsi dan gabah untuk benih karena cara pengeringannya berbeda. Hindari pengeringan dengan suhu terlalu panas dengan cara ditutup sementara atau buat tumpukan lebih tebal. Tutup hamparan gabah saat hujan dan segera lanjutkan pengeringan pada saat cuaca panas. Dengan melakukan pengeringan yang efektif , petani mendapatkan gabah yang aman untuk disimpan dan bermutu . SumardiSumber : Seri Penanganan Pasca Panen Padi Kerjsama FAO dan DITJEN PPHP. 2010.