Duku (Lansium domesticum corr) merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Indonesia dan sudah tersebar secara luas diseluruh pelosok nusantara. Jenis duku yang banyak ditanam di Indonesia adalah jenis duku unggul seperti duku komering, duku metesih dan duku condet. Manfaat utama tanaman duku sebagai makanan buah segar atau makanan olahan lainnya. Seiring dengan meningkat permintaan masyarakat tentang bibit duku, maka dalam pengelolaannya diharapkan dapat optimal dan maksimal. Memanfaatkan seluruh potensi yang ada, termasuk jasa lingkungan dengan mengedepankan aspek kelestarian. Salah satu upaya untuk mengwujudkan harapan tersebut adalah menanam tanaman duku melalui sambung pucuk yang memberikan keuntungan dari umur dan produksi hasil. Serta mengintegritaskan kegiatan tersebut kedalam bentuk usaha pembibitan. Produksi duku di kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan hasil dari warisan selama beberapa generasi, pohon - pohon duku sebagian besar berusia tua dengan tingkat permudaan / peremajaan yang kecil atau sedikit. Petani duku juga belum mengerti tentang cara pembuatan bibit duku yang unggul dengan umur yang singkat. Dimana pohon–pohon duku yang ada pada saat ini berasal dari biji dan telah berumur lebih dari 100 tahun. Pohon–pohon tersebut tinggi, sehingga menyulitkan upaya pemeliharaan. Ada kekewatiran pohon–pohon duku akan punah, sedangkan upaya peremajaan dengan bibit berkualitas belum dilakukan dengan baik. Duku dari sumatera selatan sudah tersohor dan punya “trade mark” di pasar nasional dengan sebutan Duku Palembang dan di pasar lokal dengan sebutan Duku Komering, dikarenakan duku tersebut berasal dari daerah komering terutama kabupaten Ogan Komering Ilir. Beberapa duku lokal dikenal dengan nama daerah asalnya duku tersebut, namun yang paling popular adalah duku Palembang dan duku Rasuan di mana keduanya telah di perkenalkan sebagai Varietas Duku Unggul Nasional pada tahun 1995 di beri nama Varietas Palembang dan Varietas Rasuan, Bahkan dengan mempertimbangkan “Duku Palembang” sudah popular dan mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat, maka pemerintah propinsi Sumatera Selatan menetapkan duku sebagai maskot flora propinsi ini. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tidak produktifnya tanaman duku (membutuhkan waktu antara 15-20 tahun) adalah dengan perbanyakan secara vegetative seperti sambung pucuk. Sambung pucuk pada dasarnya adalah menyambung bagian pucuk tanaman biji dengan entries pohon induk sehat dan telah berproduksi minimal 3 kali. Teknologi sambung pucuk ini terbukti mampu mempercepat masa awal berbuah duku (5-6 tahun) dengan kualitas mirip pohon induknya yaitu kulit buah tipis, berwarna kuning langsat, getah sedikit daging buah berwarna bening, biji jarang, dan rasanya manis. Pada umur 3 bulan sejak penyambungan, bibit duku ini juga sudah dapat ditanam di kebun. Perbanyakan dengan sambung pucuk mempunyai tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan teknik okulasi, karena pohon duku mempunyai kulit batang tipis dan bergetah banyak sehingga agak sulit mengambil mata okulasi (mata tunas suka sobek). Sedangkan melalui cangkokan, kurang efisien karena dari satu pohon hanya dapat diambil beberapa cangkokan saja dan bibit hasil cangkokan pada umumnya akarnya kurang kokoh. Teknologi perbanyakan dengan sambung pucuk ini sudah mulai berkembang dan diminati oleh penangkar bibit duku di Sumatera Selatan. Cara ini juga sangat baik untuk mendukung program pengembangan dan peremajaan tanaman duku (BPTP Sumatera Selatan 10 feb 2015). Persiapan Batang Bawah Bibit sudah disiapkan di dalam polybag yang berukuran 25x25 cm yang sudah berumur lebih kurang 2 tahun serta kondisi batang bawah dalam keadaan sehat dan perakaran kuat. Bibit tersebut dengan diameter yang tidak seragam karena bibit tersebut bibit sapuan, bukan langsung dari persemaian dari biji. Pemilihan Batang Atas (Entres) Memilih pohon induk yang rindang, buahnya besar, rasanya manis, kulit buahnya tipis dan biji kecil. Mengambil batang entres harus memanjat pohon induk tersebut setelah berada diatas pohon lalu mengambil entres harus kemiringan 45 derajat sampai dengan kemiringan 60 derajat yang paling ideal untuk entresnya. Mengambil batang entresnya sesuaikan dengan diameter batang bawah. Persiapan Sambung Pucuk Batang bawah dipotong sepanjang 15 cm dari dalam polybag setelah itu membuat sayatan celah yang berbentuk huruf V kearah bawah sepanjang 3 cm, setelah itu membuat sayatan pada batang atas berbentuk baji (lancip) sepanjang 3 cm. Kemudian menyisipkan batang atas kedalam celah batang bawah, setelah itu sambungan diikat dengan tali rafia/tali plastik mulai dari atas kebawah. Kemudian sambungan diletakan ditempat yang teduh selama 7 minggu didalam sungkup. Penggunaan batang bawah sepanjang 15 cm menurut pengamatan selama ini dianggap paling bagus untuk proses sambung pucuk. Namun dapat juga menggunakan batang bawah sepanjang 20 sampai 25 cm. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman ini dilakukan penyiraman satu kali perhari dengan takaran air perpolybag ½ liter. Keberhasilan sambung pucuk ditentukan oleh empat faktor: batang bawah, batang atas (entres), lingkungan dan keterampilan teknik penyambungan. Batang bawah yang harus siap sambung baik teknis maupun fisiologis siap sambung secara teknis adalah keadaan batang bawah yang diameter pangkal batang telah sama atau lebih besar dari pada diameter batang atas. Sedangkan siap sambung secara fisiologis adalah keadaan batang bawah yang kandungan cadangan makanan dan hormon pertumbuhan telah mampu mendukung keberhasilan batang atas (entres) yang akan di sambung. Kondisi lingkungan terutama temperatur, kelembaban udara, oksigen dan cahaya sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan sambungan. Disusun oleh: Munawir, SP, M.Si (Penyuluh Pertanian Madya) Parman (Penyuluh Pertanian Penyelia) Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. OKI, Sumsel.