Loading...

Segmen Pasar Bunga Krisan

Segmen Pasar Bunga Krisan
Segmen PasarPenentuan segmen pasar merupakan salah satu strategi pemasaran yang sangat penting, sehingga akan lebih fokus dalam membidik pasar dan menentukan keberhasilan usaha. Sebelum menentukan segmen pasar Krisan, perlu dipahami bahwa permintaan Krisan potong sangat berfluktuasi, antara lain dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi unsur budidaya konsumen atau masyarakat, gaya hidup, warna, kualitas, dan vase life. Bahkan juga dipengaruhi oleh tingkat kematian orang-orang ternama. Bila ada tokoh masyarakat yang meninggal, para floris kebanjiran order pembuatan bunga papan sebagai ucapan belasungkawa dari para sahabat, kolega atau kerabat dekatnya. Selain itu, penggunaan bunga Krisan potong juga digunakan oleh-oleh hotel berbintang, restauran besar dan, kantor-kantor yang memberikan pelayanan lebih kepada pelanggan. Penggunaan rangkaian bunga Krisan sebagai bagian dari servis kepada pelanggan ataupun konsumen. Krisan antara lain disajikan dalam bentuk rangakaian bunga yang diposisikan di ruang-ruang utama hotel restauran dan ruang kantor utama. Segmen pasar Krisan menjadi penting dalam strategi pemasaran Krisan. Segmen pasar Krisan dapat dikelompokkan menurut wilayah geografis, etnis budaya, agama, business to business dan segmen menurut rantai pasar, seperti pedagang pengumpul, distributor, agen, pengecer, dan pengguna langsung. Masing-masing segmen pasar memiliki karakteristik yang berbeda. Segmen Pasar Menurut GeografisSegmen menurut geografis, meliputi kota-kota besar di wilayah pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi, pasar utama di pulau Jawa, meliputi kota Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Kemudian Provinsi Jawa Barat (Kota Bandung, Kota Bogor, dan Kota Cirebon), JawaTengah (Kota dan Kabupaten Semarang, dan Kota Solo), DIY (Kota Yogyakarta), Jawa Timur (Kota Surabaya dan Kota Malang), Wilayah luar Pulau Jawa, meliputi Bali (Denpasar), Sumatera (Lampung, Bengkulu, Jambi, Padang, Pekan Baru, Medan, Batam), Kalimantan (Kota Pontianak, Kota Balikpapan, Kota Banjarmasin), dan Sulawesi (Makassar dan Manado). Daerah luar Pulau Jawa, umumnya bukan sentra produksi Krisan dan sangat berpotensi sebagai pasar. Pasokan Krisan ke luar Jawa masih sangat terbatas sehingga tidak sedikit para floris dan dekorator menggunakan bunga plastik. Namun demikian, bila mau menggarap pasar di luar Jawa, para produsen Krisan harus meningkatkan kualitas produknya terutama memperpanjang vase lifenya, membangun jejaring secara intensif dengan para dekorator dan floris untuk meningkatkan permintaan dan efisiensi biaya pengiriman. Segmen Pasar Menurut Etnis BudayaMenurut beberapa orang petani dan pedagang Krisan di Kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Bogor bahwa segmen pasar bunga Krisan berdasarkan kelompok etnis budaya, sebaran prosentase penyerapan pasarnya, meliputi konsumen etnis Jawa (30%), Sunda (25%), Tionghoa (35%), Bali (5%) dan etnis lainnya. Etnis Jawa, mengenal bulan dan hari-hari yang menurut keyakinanannya sebagai hari baik atau dianjurkan/tidak dianjurkan atau hari tidak baik untuk kegiatan. Etnis Sunda relatif sama dengan etnis Jawa. Etnis Tionghoa, memerlukan banyak bunga Krisan warna merah untuk persembahyangan dua minggu sekali. Begitu juga hari raya imlek dan cap gomeh memerlukan banyak bunga. Etnis Bali banyak menggunakan bunga untuk persembahyangan ataupun upacara keagamaan lain pada hari-hari raya masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu ataupun untuk keperluan dekorasi wedding. Segmen Pasar Menurut Etnis Agama/KepercayaanSegmen pasar bunga Krisan menurut agama/kepercayaan dikelompokkan dalam konsumen menjadi konsumen penganut agama Islam, Kristiani, Konghucu, Budha, dan Hindu. Dalam segmen ini, yang perlu diperhatikan antara lain mencermati hari/bulan baik yang menurut kepercayaannya akan berpengaruh terhadap kehidupan. Hal ini cukup menentukan jumlah dan warna permintaan bunga Krisan.Terkait dengan budaya, terutama budaya Jawa yang menyelenggarakan pesta pernikahan cenderung di luar bulan Ramadhan, Apit, dan Sapar. Masyarakat Indonesia umumnya menyelenggarakan pesta pernikahan pada bulan-bulan yang dianggap baik, seperti bulan Besar/Haji, Maulud, Syawal, dan Sadran. Dalam pesta pernikahan tersebut, khususnya golongan ekonomi menengah ke atas cenderung menggunakan dekorasi bunga terutama Krisan. Misalnya bagi umat Islam, bulan puasa tidak baik untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, sehingga pada bulan ini cenderung sangat menurun untuk permintaan bunga Krisan. Sebaliknya, seperti pada bulan Besar/bulan Haji, Syawal atau Sadran merupakan bulan baik untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, sehingga pada bulan ini cenderung sangat menurun untuk permintaan bunga Krisan. Sebaliknya, misalkan pada bulan Besar/bulan Haji, Syawal atau Sadran merupakan bulan baik untuk menyelenggarakan pesta sehingga pada bulan ini banyak penyelenggaraan pesta pernikahan dan permintaan bunga Krisanpun meningkat. Namun hal ini di kota-kota besar mulai bergeser terutama untuk pesta pernikahan yang mulai kurang memperhitungkan hari/bulan baik, karena sulitnya mendapatkan gedung tempat resepsi. Masyarakat penganut Kristiani menilai bahwa hampir semua bulan baik, permintaan bunga akan meningkat pada hari-hari besar seperti Natal, Paskah, ataupun Jumat Agung. Penggunaan Krisan bagi kaum etnis Tionghoa penganut Konghucu, biasanya menggunakan bunga Krisan untuk ritual penghormatan para leluhurnya yang diselenggarakan minimal dua kali sebulan yaitu pada pertengahan bulan atau akhir bulan. Permintaan bunga Krisan untuk etnis Tionghoa cukup tinggi. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan