Sekolah lapangan adalah proses pembelajaran non formal bagi petani untuk meningkat Pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha, identifikasi dan mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahatani lebih efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan. Sekolah lapang (SL) Juga disebut sebagai sekolah tanpa ruang kelas, dengan sawah dan tanaman padi yang menhijau sebagai media pembelajaran (Labolatorium Lapang) dimana dalam proses pembelaajrannya tidak ada murid dan guru tetapi yang ada hanyalah petugas sebagai pemandu lapangan yang selau mengedepankan sifat kekeluargaan antara petani dan petugas lapangan (Pemandu). Sekolah Lapang (SL) ini dilakukan sebagai Program tindak Lanjut dari Rembug Tani yang dilakukan di Kelompok Tani Sari Asih Madur ( Rumah Pak Tendi) Yang dihadiri oleh semua pengurus kelompok tani Tokoh Masyarakat dan Petugas lapangan dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Bojongasih Kabupaten Tasikmalaya. Peserta Sekolah Lapangan ( 20 orang Petani) hadir dan berkumpul satu kali seminggu selama satu musim tanam padi secara swadaya untuk mengikuti dan menganalisa perkembangan tanaman mereka, fase demi fase. Sekaligus mereka mendalami berbagai prinsip yang terkait dengan perkembangan tanaman seperti dinamika populasi Organisme Pengganggu Tanaman, Musuh Alami dan Serangga lain, yang mengedapankan keseimbangan alam dan fase tumbuh dan berkembangnya tanaman, pemeliharaan kesuburan tanah, pengaruh air dan cuaca, pemilihan varietas, dan lain-lain, melalui eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan sendiri. Selain kegiatan pokok, serangkaian kegiatan (topik khusus) dilakukan sesuai dengan masalah-masalah khusus yang dihadapi di setiap tempat. Yang selalu nampak pada Sekolah Lapangan adalah peran aktif petani sebagai pelaku, peneliti, dan pemandu.. Materi “Dinamika Kelompok” tidak kalah penting dengan ilmu pertanian dalam penyelenggaraan Sekolah Lapangan, sebagaimana tercermin dalam kegiatan perencanaan yang menyentuh semua pelaku pertanian untuk bisa merubah perilaku kita kearah yang lebih baik. Untuk menjamin proses pembelajaran yang efisien dan terarah kegiatan sekolah Lapangan dilakukan berpedoman pada beberapa hal sebagai berikut: Peserta Sekolah lapangan adalah petani atau kelompok tani yang berada di wilayah kegiatan demplot. Tempat belajar adalah di lahan kegiatan demplot tanaman padi seluas 1 Ha dengan mengamati perkembangan tanaman. Dari setiap fase tumbuh dan berkembang nya tanaman padi. Sekolah Lapangan dilaksanakan seminggu sekali dengan 12 kali pertemuan selama kegiatan (1 kali pertemuan dibiayayai oleh pemerintah) sedangkan pertemuan selanjutnya dilakukan secara swadaya. Materi pelajaran pada praktek/penerapan, pengamatan, diskusi dan tukar menukar informasi dan pengalaman. Materi Pelajaran benar-benar merupakan kebutuhan petani dan disepakati bersama petani. Proses pembelajaran di pandu oleh fasilitator yang berfungsi mengarahkan proses belajar sebagai penengah dalam melakukan diskusi. Petani selaku peserta belajar memiliki hak yang sama untuk bicara dan berpendapat dan merupakan tugas fasilitator untuk menciptakan suasana harmonis dan berimbang dalam proses belajar. Pada setiap akhir proses belajar diharapkan adanya kesepakatan tindak lanjut diantaranya; kesiapan untuk menerapkan teknologi yang sudah dipelajari oleh peserta , pemecahan masalah (bagaimana dan kapan ) prioritas materi pada pertemuan selanjutnya dan lain-lain. Untuk menjaga mutu, maka diskusi kelompok kecil membutuhkan waktu khusus, terpisah dengan proses penggambaran. Dalam setiap kelompok kecil salah seorang anggotanya berperan sebagai penanya (bergilir setiap minggu) dengan menggunakan gambar agro-ekosistem yang telah dibuat bersama. Anggota yang lain menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh penanya. Pertanyaan yang diajukan disesuaikan dengan fase tanaman pada saat itu. Secara umum diskusi kelompok kecil mencakup hal-hal sebagai berikut: APA: Apa yang ditemukan dalam pengamatan, baik berupa jenis dan jumlah serangga hama, musuh alami, organisme lain, kerusakan atau kelainan pertumbuhan tanaman, dan lain-lain. DIMANA: Dimana tempat ditemukan, atau di bagian mana saja hal-hal yang telah ditemukan dalam pengamatan tadi. MENGAPA: Mengapa ada aktivitas serangga hama, musuh alami, organisme lain saat ditemukan, mengapa jumlahnya sebanyak itu, mengapa kerusakan atau kelainan pertumbuhan tanaman itu terjadi, mengapa terdapat di bagian tanaman tertentu, dan lain-lain. BAGAIMANA: Bagaimana hubungan hama, musuh alami dan tanaman saat pengamatan, apa peran organisme lain, bagaimana cara pelaksanaan pengambilan keputusan, serta bagaimana prospeknya pada waktu mendatang. Dari proses pembelajaran Sekolah lapang (SL) ini diharapkan Petani bisa merobah perilakunya (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap ) sesuai dengan teknis dan prinsif Pengelolaan tanaman secara Terpadu pembudidayaan Tanaman Padi, sehingga peningkatan produksi dan produktifitas padi dapat tercapai serta swasembada pangan dapat tercapai. “Petani Sejahtra Pertanian pun Jaya” (Andriyana, S.ST)