Sesuai dengan perubahan zaman, kemajuan teknologi yang makin berkembang ditambah dengan era globalisasi informasi, pasar bebas, dan kesadaran akan pelestarian lingkungan hidup atau yang dikenal kembali ke alam atau lebih sering disebut pertanian organik. Pendekatan penyuluhan model yang diterapkan selama ini sudah tidak dapat lagi dipertahankan. Salah satu upaya pendekatan penyuluhan pertanian yang dilakukan dewasa ini adalah pendekatan penyuluhan melalui SL. Sekolah Lapangan adalah suatu cara belajar memadukan teori dan praktek melalui pengalaman petani dan atau kelompoktani yang ada dalam usahatani dengan kurikulum yang rinci dalam satu siklus tertentu yang dipandu oleh pemandu lapangan dengan prinsip kerjasama kelompok. Sekolah Lapangan ini mengandung filosofi petani selain sebagai manusia warga Indonesia yang beradab, kreatif, berbudaya, sosial, cerdas, tanggap, taat, dan bertanggung jawab, juga dapat dijadikan sebagai mitra usaha dalam perekonomian. Melalui Kegiatan Pemantapan sistem penyuluhan Pertanian tahun 2019, di Subak Margaya Kecamatan Denpasar Barat dilaksanakan SL dalam upaya untuk mendukung Upsus Pajale (upaya khusus padi, jagung, dan kedelai). SL ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Proses SL diawali dari kemauan petani untuk melakukan pembelajaran secara langsung di areal persawahan mereka. Demplot (demonstrasi plot) SL ini dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Nopember 2019 dimulai dengan melaksanakan rembug tani untuk mengidentifikasi permasalahan dalam usahatani padi yang dilaksanakan. Dari hasil rembug tani diperoleh permasalahan yang paling mendasar adalah belum diaplikasikannya pupuk berimbang sesuai dengan rekomendasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan masih belum maksimalnya jumlah rumpun per ha yang berakibat pada berkurangnya populasi dan produktivitas tanaman padi. Dengan dasar hal tersebut berdasarkan keputusan pada saat rembug tani disepakati bahwa dilakukan beberapa penerapan teknologi. Teknologi pertama yang diterapkan yaitu penggunaan varietas baru yang bisa dipakai untuk pergiliran varietas oleh petani yaitu Varietas Cibogo. Teknologi selanjutnya yaitu penerapan pupuk berimbang dengan komposisi pupuk Urea 200kg/ha, pupuk ponska 200kg/ha dan pupuk organik 300kg/ha dengan sistem Tanam Jajar Legowo 4:1, serta penanaman tanaman Refugia yang berfungsi sebagai tempat berlindungnya musuh alami sehingga akan mampu memangsa hama yang menyerang tanaman padi. Adapun beberapa jenis tanaman Refugia yang ditanam yaitu Kenikir, Kacang Panjang dan terong. Luas demplot Sekolah Lapang (SL) ini 1 ha dan dilaksanakan oleh 15 orang petani. Cukup banyaknya petani yang bekerja di lahan yang hanya seluas 1 ha disebabkan luas kepemilikan ataupun garapan petani yang ada di lokasi demplot berkisar antara 0.05 – 0,10 ha per petani. Walaupun luas garapan masing – masing petani tidak terlalu luas, tetapi lokasi demplot Sekolah Lapang ini berada dalam 1(satu) hamparan, sehingga penerapan teknologi yang disepakati dapat dilakukan secara bersama – sama oleh petani. Pengamatan rutin terhadap tanaman padi dilakukan oleh petani pelaksana seperti terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan serangan hama dan penyakit yang menyerang pada lokasi demplot. Dari pengamatan yang secara rutin dilaksanakan pada lokasi Sekolah Lapang memperlihatkan pertumbuhan tanaman melalui indikator tinggi tanaman berkembang dengan sempurna. Anakan produktif juga cukup tinggi dan sangat kecil sekali terjadi serangan hama dan penyakit pada lahan pertanaman yang berarti bahwa tanaman Refugia berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada Kegiatan Temu Lapang/FFD (farm field day) yang melibatkan petani pelaksana dan kelompoktani yang terdampak dilakukan pengambilan ubinan untuk mengetahui produktivitas yang dicapai pada lokasi demplot. Dari hasil ubinan didapatkan bahwa rata – rata produktivitas yang dicapai adalah yaitu 115, 35 kw/ha GKP (gabah kering panen). Hal ini lebih tinggi dari produktivitas sebelum dilaksanakan sekolah lapang yaitu 98,70 kw/ha GKP pada musim tanam yang sama. Dari kajian yang dilakukan melalui demplot sekolah lapang (SL) dengan penerapan teknologi Pupuk berimbang, sistem tanam jajar legowo 4:1 dan penanaman tanaman tanaman Refugia dapat direkomendasikan untuk diterapkan oleh petani yang ada di subak Margaya ataupun petani di Kecamatan Denpasar Barat, untuk musim tanam berikutnya. Dengan adanya Sekolah Lapang ini diharapkan memberikan pengaruh yang positif terhadap petani pelaksana dan lingkungannya dan dan dapat diaplikasikan oleh petani dalam melaksanakan usahataninya. Ditulis Oleh : Luh Ketut Ayu Sukarmi, SP (Penyuluh Pertanian Madya) Diedit oleh : Marcella Wayan K.R., SP (PP Muda)