Sekolah lapangan adalah proses pembelajaran non formal bagi petani untuk meningkatkan Pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha, identifikasi dan mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahatani lebih efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan.Sekolah Lapangan dipandang sebagai salah satu metode dalam proses belajar mengajar yang cukup efektif, karena sangat cocok sebagai metode pembelajaran bagi orang dewasa (Andragogi) karena sifatnya yang tidak formal. Proses belajar dilakukan dilapangan dimana tersedia obyek nyata berupa tanaman jagung yang dijadikan materi pelajaran.Kegiatan sekolah lapang yang dilaksanakan di desa gumuksari kecamatan kalisat dilaksanakan sebanyak 4 kali yang dihadiri oleh Kepala UPTD wilayah II sumberjambe, danramil kecamatan kalisat, POPT Kecamatan Kalisat (Bpk. Didik Rohim) , PPL Desa Gumuksari (Totok Priyanto) serta 20 petani jagung dari kelompok tani Makmur. Sekolah lapang diawali dengan pertemuan di ruangan yang selanjutnya dilakukan pembelajaran di lahan milik petani sebagai demplot dan tempat belajar.Materi yang disampaikan pada pertemuan Sekolah lapang ini adalah perlakuan benih, penentuan jarak tanam, penanaman dan pemupukan dasar. Kecamatan Kalisat khususnya desa gumuksari termasuk sentra komoditas jagung. Hampir setiap tahun selalu ada serangan bulai pada pertanaman jagung. Untuk itu Bpk didik Rohim selaku POPT Kecamatan Kalisat memberikan materi bagaimana melakukan perlakuan benih jagung sebelum tanam untuk menghindari /mencegah serangan jamur bulai. Benih jagung sebelum di tanam direndam dulu dalam larutan fungisida yang dalam kesempatan ini menggunakan fungisida berbahan aktif demetomorf. Setelah benih direndam, kemudian diangin-anginkan baru kemudian di tanam di lahan.Untuk Materi penentuan jarak tanam dan pemupukan dasar disampaikan oleh ppl desa gumuksari. Jagung untuk bisa mendapatkan hasil optimal, minimal jumlah tanaman tiap ha adalah 66.000 tanaman. Agar mencapai jumlah tersebut maka jarak tanam yang disepakati oleh peserta SL adalah 20 X 75 cm dengan jumlah benih 1 biji tiap lubang sehingga kebutuhan benih hanya 15 kg/ha. Pemupukan dasar menggunakan pupuk NPK dan pupuk organik. Penanaman dilakukan dengan membuat 2 lubang dengan jarak 5 cm. lubang pertama untuk benih jagung yang kemudian ditutup dengan pupuk organic. Sedangkan lubang ke dua diisi pupuk NPK Ponska dengan jumlah 4-5 gram/lubang. Pertemuan SL selanjutnya dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan materi yang disesuaikan umur dan kondisi tanaman jagung. Ditulis: Lutfi halilullah,SPPenyuluh Pertanian Kabupaten Jember