Loading...

SEKOLAH LAPANG KAKAO

SEKOLAH LAPANG KAKAO
Sekolah Lapang atau biasa disebut SL adalah sekolah yang seluruh proses belajar mengajarnya dilakukan di lapangan. Lapangan yang dimaksud adalah lahan atau kebun milik petani. Sekolah Lapang bisa juga disebut laboratorium lapang. Sekolah lapang seolah-olah menjadikan petani peserta sebagai murid dan penyuluh pertanian/fasilitator/pemandu lapang sebagai guru. Namun pada sekolah lapang tidak dibedakan antara guru dan murid, karena aspek kekeluargaan lebih diutamakan, sehingga antara "guru dan murid" saling memberi pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. SL juga mempunyai kurikulum, evaluasi pra dan pasca kegiatan, dan sertifikat. Bahkan sebelum SL dimulai perlu dilakukan registrasi terhadap peserta yang mencakup nama dan luas lahan, pembukaan, dan studi banding atau kunjungan lapang (field trip). Ciri SL adalah sebagai berikut: 1) Peserta dan pemandu saling memberi dan menghargai; 2) Perencanaan dan pengambilan keputusan dilakukan bersama dengan kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan); 3) Komponen teknologi yang akan diterapkan berdasarkan hasil survei/PRA yang dilakukan oleh petani peserta; 4) Fasilitator tidak mengajari petani, tetapi petani belajar dengan inisiatif sendiri pemandu sebagai fasilitator memberikan bimbingan; 5) Materi latihan, praktek, dan sarana belajar ada dilapangan; 6) Kurikulum dapat dirancang untuk satu musim tanam, sehingga dalam periode tersebut diharapkan terdapat 10-14 kali pertemuan antara peserta dengan pemandu.Kegiatan SL Kakao adalah sekolah yang dilaksanakan dalam rangka pengembangan usaha pertanian budidaya kakao melalui peningkatan kapasitas petani dalam penerapan cara berkebun kakao yang baik (Good Agriculture Practice) untuk meningkatkan produktifitas lahan kakao dan mewujudkan usaha tani kakao lestari (sustainable cocoa) yang diharapkan dapat berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani kakao secara berkesinambungan. Salah satu keunggulan dari model SL adalah bahwa sistem pembelajaran tersebut mampu mengubah sasaran dari sikap ketergantungan ke arah kemandirian dan dari sikap saling ketergantungan ke arah kerja dalam kelompok, dari sikap kerja berdasarkan kebiasaan ke arah sikap kerja rasional, dari sekedar bisa bekerja kearah bekerja secara profesional. Proses belajar dirancang agar sasaran/petani dapat belajar dengan cara mengalami, menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri pada situasi nyata di tempat kerjanya. Selain itu melalui SL, materi belajar dapat diterima secara utuh dan cepat oleh sasaran, sedangkan penyuluh pertanian/fasilitator lebih berperan sebagai pemandu yang senantiasa memotivasi dan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada sasaran pelatihan untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri. Keuntungan bagi penyuluh pertanian/fasilitator/pemandu lapang yaitu dengan motto "memberi lebih baik dari menerima",mereka memberikan pengetahuan dan pengalamannya kepada petani sehingga mereka merasa bermanfaat bagi banyak orang, terutama petani. Dalam hal ini fasilitator dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik dan mampu pula menggerakkan petani untuk mengembangkan dan memajukan usahatani di wilayah kerjanya.Keuntungan bagi petani, Petani diberi kebebasan memformulasikan ide, rencana, dan keputusan bagi usahataninya sendiri. Mereka dilatih agar mampu membentuk dan menggerakkan kelompoktani dalam alih teknologi kepada petani lain. Melalui SL, petani peserta diharapkan terpanggil dan bertanggung jawab untuk bersama-sama meningkatkan produksi dan mutu kakao dalam upaya mewujudkan usaha tani kakao lestari (sustainable cocoa). Kebersamaan semua pihak yang terlibat dalam SL kakao merupakan faktor pendorong bagi petani dalam mengelola usahataninya.Beberapa azas SL yang perlu dipahami oleh fasilitator dan petani peserta SL adalah bahwa Lahan usaha dan tanaman kakaonya adalah sarana belajar. Dampak yang dituntut dari petani peserta sekolah lapang dalam menerapkan hasil belajar sejak dari pembibitan kakao sampai dengan pengolahan hasil adalah membawa keterampilan ke lahan usahataninya sendiri dan lahan petani yang lain. Oleh karena itu, petani peserta SL akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menerapkan teknologi di lapang dan hanya sebagian kecil waktu yang digunakan untuk membahas aspek yang terkait dengan usahatani, seperti pemasaran hasil, koperasi, gapoktan,dll. Belajar lewat pengalaman dan menemukan sendiri akan membawa petani peserta SL memiliki motto: "mendengar, saya lupa; melihat, saya ingat; melakukan, saya paham; menemukan sendiri, saya kuasai", maka setiap kegiatan yang dilakukan sendiri akan memberikan pengalaman yang berharga. Olehkarena itu, petani dituntut untuk mampu menganalisis kegiatan yang telah dilakukan, kemudian menyimpulkan dan menindaklanjutinya. Kesimpulan yang telah dibuat merupakan dasar dalam melakukan perubahan dan/atau pengembangan teknologi. Sumber: Petunjuk Pelaksanaan Program READ, Pusat Pelatihan Pertanian, BPPSDMP, 2014.. (Shalimar Andaya nia)