Sekolah Lapangan dipandang sebagai salah satu metode dalam proses belajar mengajar yang cukup efektif, karena sangat cocok sebagai metode pembelajaran bagi orang dewasa (Andragogi) karena sifatnya yang tidak formal. Proses belajar dilakukan dilapangan dimana tersedia obyek nyata berupa tanaman cabe merah yang dijadikan materi pelajaran. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Yosef Sengga, SST selaku Kepala BPP Kecamatan Paga Kabupaten Sikka, dalam laporan atau pengantar dalam rangkaian acara penutupan Sekolah lapang Cabai, di Kelompok Tani Ekowolo Dusun jukutu Desa Wolowiro Kecamatan Paga. Untuk tahun 2019, Wilayah Kerja BPP (WKBPP) Paga, mendapatkan alokasi kegiatan Sekolah Lapang Cabe, di 3 WKPP/Desa yakni Desa Wolowiro, Desa Paga dan Desa Masabewa. Peserta SL dari masing-masing desa sebayak 20 orang petani masing-masing dari Poktan Ekowolo Desa Wolowiro, Poktan Tiwu Uni II Desa Paga dan Poktan Duna Noe Desa Masebewa. Hal ini juga dipertegas oeh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ferdinandus Florianus, SP dalam rangkaian kegiatan Temu Lapang Petani/Penutupan SL sekaligus panen bersama komoditi cabai. Turut hadir dalam acara tersebut Camat Paga, Kepala Desa Wolowiro, Anggota BPD Desa Wolowiro, para Penyuluh se WKBPP Paga dan Kelompok pelaksana kegiatan SL. Temu Lapang serta panen bersama, dilaksanakan secara simbolis dalam akhir dari kegiatan SL di wilayah Kecamatan Paga, yang dilaksanakan di Dusun Ijukutu Desa Wolowiro, pada tanggal 12 Desember 2019. Dari komoditi yang dikembangkan di 3 kelompok pelaksana kegiatan, hasil yang sudah dipanen sebanyak ± 353 kg, dari sekitar 4,902 pohon. Output yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani secara khusus di kelompok pelaksana kegiatan SL, dan tentunya dapat dikembangan oleh masing-masing peserta SL/Petani di lahan pertaniannya. (Petrus Rosli-FUDinas Pertanian KabSikka)