Loading...

Sekolah Lapang Tanaman Padi Di Kelompok Tani Ngudoyo Santoso Desa Babadan Lor Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun

Sekolah Lapang Tanaman Padi Di Kelompok Tani Ngudoyo Santoso Desa Babadan Lor Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun
Sekolah Lapang Komoditas Pangan Strategis Nasional Padi Kelompok Tani Ngudoyo Santoso Desa Babadan Lor Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus, 24 Agustus, 18 September dan 10 Nopember 2017. Sebelum pelaksanaan Sekolah Lapang dimulai terlebih dahulu diadakan pertemuan Rembug Tani pada tanggal 7 Juli 2017 untuk Mengidentifikasi permasalahan yang ada di kelompok tani " Ngudoyo Santoso", menentukan materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan petani yang disepakati bersama oleh semua calon peserta Sekolah Lapang, menyusun kebutuhan bahan dan alat untuk kegiatan Sekolah Lapang, menyusun jadwal pertemuan dan materi Sekolah Lapang sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan petani/ kelompok tani Calon Petani/Calon Lokasi (CP-CL) Sekolah Lapang dan menentukan lokasi lahan untuk LL (Laboratorium Lapang) sebagai tempat belajar. Dari hasil pelaksanaan sekolah lapang yang diikiuti oleh 20 orang petani dan didampingi oleh Penyuluh Pertanian setempat, Ibnu Hajar dan Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Balerejo, Ida Yulismawati, SP menghasilkan beberapa kesimpulan yang dapat dijadikan bahan acuan dalam usaha meningkatkan produksi dan produktivitas padi. Pengolahan tanah merupakan salah satu tahapan yang penting sebelum proses penanaman padi. Pengolahan bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap yaitu pembersihan, pencangkulan, pembajakan, penggaruan, dan perataan. Tahapan pengolahan tanah mulai dari perbaikan pematang/galengan sampai perataan memerlukan waktu ± 25 hari atau ± sama dengan umur bibit di persemaian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pengelolaan lahan sawah yang ramah lingkungan adalah :1. Proses pengolahan lahan sawah yang baik diawali dengan cara melakukan pemisahan jerami, sisa – sisa panen yang tidak terangkat, rumput dan tanaman gulma lainnya. 2. Apabila tanah setelah mengalami musim kemarau, sebelum diolah tanah sebaiknya digenangi air terlebih dulu beberapa hari agar pori-pori tanah membuka dan tekstur tanah menjadi lembek. 3. Setelah tanah menjadi lembek, artinya tanah siap untuk diolah.4. Pengolahan pertama dilakukan dengan cara dibajak, bisa menggunakan bajak/singkal dengan bantuan sapi atau kerbau atau bisa juga menggunakan bajak traktor tangan. 5. Selama proses tersebut sebaiknya ditambahkan bahan organik lainnya seperti pupuk kandang dan pupuk hijau6. Setelah proses pembalikan lapisan olah dan pemeraman bahan organik dalam tanah. 7. Kemudian dilakukan proses pengolahan kedua yaitu proses penggemburan atau proses pencampuran antara bahan organik dengan tanah8. Proses selanjutnya permukaan tanah diratakan dengan bantuan alat berupa papan kayu yang ditarik sapi atau kerbau, atau dengan menggunakan traktor tangan. Proses ini dimaksudkan agar lapisan olah tanah benar-benar siap untuk di tanami tanaman padi pada saat tandur dilaksanakan.9. Waktu yang dibutuhkan selama proses pengolahan tanah ini berkisar antara 16 – 18 hari. Sistem Tanam LEGOWO berasal dari bahasa jawa yaitu "Lego" yang berarti luas dan "Dowo" yang berarti Panjang. Sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen teknologi budidaya yang ditujukan untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman padi melalui pengaturan populasi. Jajar legowo yang diterapkan di Laboratorium Lapang adalah jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam adalah 20 cm antar barisan dan 20 cm antar tanaman x 40 cm (barisan kosong). Keuntungan sistem tanam jajar legowo: a. menambah jumlah tanaman padi; b. meningkatkan produksi tanaman padi; c. memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir; d. mengurangi serangan penyakit; e. mengurangi tingkat serangan hama; f. mempermudah dalam perawatan baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida; g. menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman. Dengan sistem jajar legowo efektivitas pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, aplikasi pupuk, serta penanggulangan hama dan penyakit lebih efektif. Pemupukan berimbang spesifik lokasi menjamin keseimbangan hara dalam tanah, selama belum terjadi penurunan C-organik yang dapat memicu degradasi tanah. Untuk memaksimumkan efisiensi serapan hara pupuk dan mengoptimalkan produktivitas, kandungan C-organik tanah sawah harus >1,5%Penentuan dosis pupuk untuk tanaman padi dapat dilakukan dengan berbagai cara, menggunakan BWD khusus untuk Nitrogen, menggunakan PUTS untuk menentukan dosis N, P dan K. Penggunaan Bagan Warna Daun. Bagan warna daun (BWD) adalah alat berbentuk persegi empat yang beguna untuk mengetahui status hara N tanaman padi. Pada alat ini terdapat empat kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua, yang mencerminkan tingkat kehijauan daun tanaman padi. Sebagai contoh, kalau daun tanaman berwarna hijau muda berarti tanaman kekurangan hara N sehingga perlu dipupuk. Sebaliknya, jika daun tanaman berwarna hijau tua atau tingkat kehijauan daun sama dengan warna di kotak skala 4 pada BWD berarti tanaman sudah memiliki hara N yang cukup sehingga tidak perlu lagi dipupuk. Hasil penelitian menunjukkan, pemakaian BWD dalam kegiatan pemupukan N dapat menghemat penggunaan pupuk urea sebanyak 15-20% dari takaran yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil. Cara pengukuran warna daun dengan BWD : (1) Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun. (2) Taruh bagian tengah daun diatas BWD dan bandingkan warnanya. Jika warna daun berada diantara 2 skala, gunakan nilai rata ratanya,misal, nilai 3,5 untuk warna antara 3 dan 4. (3) Sewaktu mengukur dengan BWD jangan menghadap sinar matahari. (4) Lakukan pengukuran pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama pula. (5) Jika lebih 5 dari 10 warna daun yang diamati berada dalam batas kritis, yaitu dibawah skala 4, maka tanaman perlu segera diberi pupuk N susulan sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai. Pada tingkat hasil yang ingin di capai sebesar 5 ton/ha (GKG), takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 50 kg/ha. Selanjutnya setiap peningkatan target hasil sebesar 1 ton/ha, diperlukan urea tambahan 25 kg urea /ha. Penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan alat untuk mengukur status hara P dan K serta pH tanah yang dapat dikerjakan oleh penyuluh lapangan atau petani secara langsung di lapangan. Hasil analisis Pdan K tanah dengan PUTS ini selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pupuk P dan K spesifik lokasi untuk tanaman padi sawah, terutama varietas unggul dengan produktivitas setara dengan IR-64 atau Ciherang. Prinsip kerja PUTS ini adalah mengukur hara P dan K tanah yang terdapat dalam bentuk tersedia, secara semi kuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Pengukuran status P dan K tanah dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T). Kelebihan metode pengendalian gulma, antara lain: (1) secara mekanis Tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia dan dapat dilakukan pada tempat tumbuhnya gulma yang mungkin tidak dapat jangkau dengan pengendalian secara kimia dengan herbisida. (2) secara kimia, Menghemat waktu pelaksanaan, tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Kekurangan metode pengendalian gulma, antara lain: (1) secara mekanis Memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak sehingga memerlukan biayadan waktu yang lebih banyak pula untuk pengendalian gulmanya. (2) secara kimia, dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan terutama terjadinya akumulasi bahan kimia dari herbisida dalam tanah yang mematikan mikroorganisme yang bermanfaat di dalam tanah, dapat menimbulkan persistensi atau sifat ketahanan gulma terhadap aplikasi herbisida yang berbahan aktif sama secara terus menerus dan tidak dapat dilakukan pada tempat tumbuhnya gulma yang sulit dijangkau dengan alat penyemprot herbisida. Dalam budidaya tanaman padi, maka kita tidak akan terlepas dari ancaman hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman padi. Wereng coklat merupakan hama tanaman padi yang paling berbahaya dibandingkan dengan hama lainnya. Hal itu disebabkan wereng coklat mempunyai sifat plastis, yaitu mudah beradaptasi pada keadaan atau kondisi lingkungan baru. Disamping itu wereng coklat juga merupakan vector (penular) virus penyakit kerdil rumput (grassy stunt) dan kerdil hampa (ragged stunt). Wereng Coklat berkembang biak secara seksual, siklus hidupnya relatif pendek. Penyakit Blas disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae, Gejala serangan bibit jamur ini berupa spora yang penyebarannya terbawa angin dan air serta terdapat di lahan sawah; Pertumbuhan dan perkembangan jamur ini ditentukan oleh banyak factor diantaranya : pemupukan nitrogen dosis tinggi, dengan kondisi yang lembab; Penyakit ini menyerang daun, batang dan malai terutama pada leher malai padi, dimulai dari bercak kecil tetapi melebar sampai beberapa centimeter panjangnya Hawar daun bakteri (bacterial leaf blight) Xanthomonas campestris pv. Oryzae, Gejala penyakit berupa bercak berwarna kuning sampai putih berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Bercak bisa mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak, dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Infeksi pada pembibitan menyebabkan bibit menjadi kering Organisme Pengganggu Tanaman ini terdiri atas : (a) Hama yang umumnya adalah dari golongan serangga, tikus, dan binatang lainnya; (b) Penyakit yaitu kerusakan yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, nematoda, tungau dan virus; (c) Gulma yaitu tumbuhan/ tanaman liar yang dapat menjadi pesaing dan mengganggu pertumbuhan tanaman pokok. Hama dan penyakit dikendalikan dengan pendekatan pengelolaan hama dan penyakit terpadu (PHT) yang diintegrasikan ke dalam model PTT.• Pra tanam (sebelum tanam): (1) Merencanakan tanam serempak sehamparan minimal 40 ha; (2) Memilih varietas tahan sesuai dengan biotipe dan strain hama dan penyakit, terutama pada musim hujan; (3) Pemberdayaan kelompok tani, minimal kelompok tani sehamparan untuk menerapkan PHT tikus, dimulai dari saat pra tanam. (4) Menyiapkan bahan pengendalian tikus dengan sistem perangkap bubu (SPB) atau sistem perangkap bubu linier (SPBL). (5) Meningkatkan koordinasi antar petani dan aparat terkait agar saran produksi untuk tanaman• Persemaian; (1) Memasang pagar plastik dan bubu perangkap tikus; (2) Mengamati ancaman tungro (populasi wereng hijau dan keberadaan penyakit) dan kelompok telur penggerek batang padi.• Fase Vegetatif; (1) Menerapkan sistem tanam jajar legowo dan pemupukan nitrogen berdasarkan kebutuhan tanaman menggunakan teknologi bagan warna daun (BWD); (2) Melindungi musuh alami, terutama laba-laba dengan mulsa jerami atau membiarkan pematang ditumbuhi rumput yang tidak menjadi inang penyakit (teki), sampai tanaman berumur 1 bulan; (3) Memantau perkembangan penyakit hama dan penyakit, terutama hama wereng coklat, penggerek batang, penhyakit tungro, dan hawar daun. Apabla populasi telah melebih ambang ekonomi , hama dan penyakit dikendalikan dengan pestisida yang tepat.• Fase generative; Memantau perkembangan hama dan penyakit, terutama hama walang sangit dan hawar daun bakteri. Apabla populasi telah melebih ambang ekonomi , hama dan penyakit dikendalikan dengan pestisida anjuran. Panen harus dilakukan bila bulir padi sudah cukup dianggap masak. Panen yang kurang tepat dapat menurunkan kualitas dari gabah maupun beras. Dalam rangka panen perlu diketahui fase-fase pemasakan bulir padi, penentuan saat panen dan alat untuk panen. Adapun Tanda-tanda padi siap panen adalah: (a) 95 % gabah sudah menguning dan daun bendera telah mongering; (b) Umur optimal malai 30 – 35 hari terhitung sejak hari sesudah berbunga (HSB); (c) Kadar air berkisar 21 – 26 %; (d) Kerontokan gabah sekitar 16 – 30 % (Cara mengukurnya dengan meremas malai dengan tangan). Tujuan pengeringan adalah agar gabah tidak mudah rusak sewaktu disimpan, rendeman giling dan mutu tetap baik. Untuk mencapai tujuan tersebut sebaiknya pengeringan dilakukan segera setelah pemanenan dan perontokan untuk mencegah butir kuning. (Admin; Yeni Supriati, SP)Sumber : Abdulrachman, Sarlan, dkk. 2013. SISTEM TANAM LEGOWO. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian; Jakarta. Al-Jabri, Muhammad. 2013. TEKNOLOGI UJI TANAH UNTUK PENYUSUNAN REKOMENDASI PEMUPUKAN BERIMBANG TANAMAN PADI SAWAH. Balai Penelitian Tanah; Bogor Anonim. 2013. PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN TANAMAN PADI. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi; Subang