Pepaya adalah salah satu buah yang sudah sangat dikenal di masyarakat. Rasanya manis, bisa langsung teksturnya lunak, bisa langsung dimakan daging buahnya atau dijadikan campuran bersama minuman es. Yang lebih penting lagi buah pepaya kaya vitamin c dan a yang baik bagi kesehatan.Ada banyak ragam buah pepaya. Salah satu yang saat ini ngetren adalah jenis pepaya kalifornia. Ini dikarenakan pepaya kalifornia memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan jenis pepaya biasa atau pepaya lain misalnya pepaya thailand.Ukuran Buahnya tidak terlalu besar sehingga praktis saat dikonsumsi. Berat buahnya antara 0,8 sampai 2 kilogram per buahnya, kulit tebal dan agak lonjong. Buah ini saat matang cenderung berwarna kuning dengan rasa yang manis, tekstur yang kenyal dan daging yang tebal. Selain itu, buah pepaya jenis California ini juga memiliki ciri batang yang dekat dengan tanah alias pendek sehingga memudahkan saat dipanen. Semua alasan ini membuat budidaya pepaya California semakin diminati untuk dibudidayakan.Salah satu tempat di Jombang yang kini banyak ditanamani pepaya kalifornia adalah Kecamatan Kabuh. Sebagian kita mungkin agak terkejut mendengar kabuh menjadi ramai ditanami pepaya kalifornia. Kabuh yang dikenal daerah panas tentu lebih akrab dengan budidaya tembakau, jagung atau tanaman yang sudah umum lainnya seperti padi. Namun sejak akhir 2013, tanaman pepaya mulai dikebunkan oleh petani Kabuh.Adalah Kuchan, petani yang merintis pepaya kalifornia di kecamatan kabuh tepatnya di Desa Sumbergondang. Berawal dari coba-coba di sebagian lahannnya yang berukuran 1400m2 ternyata pepaya kalifornia yang ditanamnya mampu tumbuh dan berbuah dengan baik. Nilai plus nya, Kuchan tidak hanya menanam dia juga sekaligus membangun komitmen dengan penyedia benih pepaya dalam pemasaran. Jadi tidak usah repot memikirkan penjualan saat panen. Karena langsung diambil oleh pihak penyedia benih pepaya. Inilah yang membuatnya bersemangat terus mengembangkan pepaya kalifornia.Kini banyak lahan yang sebelumnya ditanami tembakau beralih menjadi kebun pepaya kalifornia. Pekarangan dan halaman rumah warga di Sumbergondang juga banyak dijumpai tanaman pepaya kalifornia. "Perkiraan saat ini ada sekitar 2 hektar tanaman pepaya kalifornia di kecamatan Sumbergondang,"kata Kucan saat kumpul bersama beberapa petani yang membudidayakan pepaya kalifornia. Kalau lahan 1 hektar diperkirakan bisa ditanami sekitar 1600 pohon, maka diperkirakan ada 3200 pohon pepaya kalifornia di dusun Gondang.Apa yang diucapkan Kucan dibenarkan oleh Suwandi, Kepala Dusun Gondang yang juga menanam Pepaya Kalifornia di kebunnya. "Tidak sulit, asal diikuti saja petunjuk cara budidayanya. Kalau kita terlalu coba-coba misalnya dalam penggunaan pupuk dikhawatirkan hasilnya malah tidak bagus," kata Suwandi. Sementara itu Andik Cahyono, PPL setempat mengatakan, kalau di kelompoktani sudah dibahas ada rencana Pepaya kalifornia menjadi maskot dusun Gondang. "Karena para petani sudah merasakan manfaatnya. Kita maunya nanti begitu masuk Gondang orang langsung bisa melihat kalau disini pusatnya pepaya kalifornia, " ujarnya.Jayadi Ketua Poktan Dander membenarkan. "Kalau memang kedepan ide menjadikan sumbergondang dan dander sebagai sentra pepaya tentu saja peran Poktan dan gapoktan harus terlihat. Bagaimanapun kalau produknya sudah banyak pemasaran harus lebih baik. Tidak hanya mengandalkan 1 atau dua pengepul saja, "terang Jayadi.Apa yang disampaikan para tokoh petani Dander itu tentu saja masuk akal. Karena musim hujan ini sudah ada penanaman sekitar 7000 pohon pepaya baru di Desa Sumbergondang. Dengan tanaman yang sudah lebih dulu ada berarti keseluruhan ada sekitar 10.000 pohon pepaya. Kalau setiap pohon semusim mampu mebghasilkan 30 kg buah, bebarti ada sekitar 300.000 kg atau 300 ton buah pepaya dihasilkan dari Desa Sumbergondang. Kalau harga pepaya ditingkat petani rata-rata Rp 2000/ kg, maka secara keseluruhan terdapat uang senilai Rp 600 juta dari budidaya pepaya kalifornia. Nilai yang tidak bisa dianggap sepele dalam pembangunan pedesaan. Selamat dan semoga sukses buat Desa Sumbergondang. Penulis : Akhmad Jani M, SP (PPL Kab. Jombang)