Loading...

Serangan Ulat Grayak pada Tanaman Kedelai dan Pengendaliannya

Serangan Ulat Grayak pada Tanaman Kedelai dan Pengendaliannya
Tidak kurang dari 100 jenis serangga dapat menyerang tanaman kedelai, 9 jenis diantaranya adalah pemakan daun. Hama ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu jenis hama daun kedelai yang sangat berbahaya karena akibat serangan hama ulat grayak ini bisa menyebabkan kehilangan hasil hingga mencapai 80%, bahkan puso jika tidak dikendalikan. Hama ini mempunyai banyak inang sehingga agak sulit dikendalikan. Ulat grayak dicirikan dengan adanya tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis punggung warna gelap memanjang. Pada umur 2 minggu, panjang ulat sekitar 5 cm. Ulat berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 - 60 hari (lama stadium telur 2 - 4 hari). Stadium larva terdiri dari 5 instar yang berlangsung selama 20 - 46 hari, lama stadium pupa 8 - 11 hari. Seekor ngengat betina dapat meletakkan 2000 - 3000 telur.Morfologi dan biologi: sayap ngengat bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam. Kemampuan terbang ngengat pada malam hari dapat mencapai 5 kilometer. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang-kadang tersusun 2 lapis), berwarna coklat kekuning-kuningan diletakkan berkelompok (masing-masing berisi 25 - 500 butir). Telur diletakkan pada bagian daun atau pada bagian tanaman lainnya baik pada tanaman inang maupun tanaman bukan inang. Bentuk telur bermacam-macam. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh. Bagian ujung ngengat betina berwarna kuning kecoklatan. Ulat grayak dicirikan dengan adanya tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis punggung warna gelap memanjang. Pada umur 2 minggu panjang ulat sekitar 5 cm. Ulat berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 - 60 hari (lama stadium telur 2 - 4 hari). Stadium larva terdiri dari 5 instar yang berlangsung selama 20 - 46 hari, lama stadium pupa 8 - 11 hari. Seekor ngengat betina dapat meletakkan 2000 - 3000 telur.Gejala serangannya, larva yang masih muda atau kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas/transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan kadang-kadang menyerang buah. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun menyerang secara serentak dan secara berkelompok. Pada serangan berat dapat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau, dapat menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat.Selain kedelai, tanaman inang lain yang bisa terserang oleh hama ini adalah tanaman cabai, kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk, tembakau, bawang merah, terung, kentang, kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah), kangkung, bayam, pisang, tanaman hias juga gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Clibadium sp. dan Trema sp.Hama ulat grayak tersebar luas di Asia, Pasifik, dan Australia. Sedangkan di Indonesia hama ini banyak dilaporkan dari Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Irian Jaya. Pengendalian hama dilakukan berdasarkan pemantauan secara rutin dan pemusnahan kelompok telur dan ulat atau tanam serempak, selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari. Selain itu bisa dilakukan Pengendalian hama secara kultur teknis, secara hayati (biologis).Pengendalian hama secara kultur teknis antara lain: penggunaan mulsa jerami, pengolahan tanah, pergiliran tanaman dan tanam serentak dalam satu hamparan penggunaan tanaman perangkap jagung dan kacang hijau.Pengendalian secara hayati (biologis) ) yaitu dengan menggunakan musuh alami : Parasitoid telur, Telenomus sp. (Hymenoptera: Scelionidae) Parasitoid larva, Microplitis manilae (Hymenoptera: Braconidae) dan Berbagai predator. Bisa juga pengendalian melakukan penyemprotan NPV (dari 25 ekor ulat sakit dilarutkan dalam 500 lt air untuk satu hektar), dapat juga dipakai feromoid sex sebanyak 6 perangkap per hektar, atau serbuk biji mimba 10 gram/lt. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat menekan pencemaran lingkungan. Namun demikian jika semuanya itu tidak dapat mengendalikan atau sudah mencapai ambang kendali maka alternative terakhir dengan menggunakan insektisida kimia.Pengendalian di tingkat petani terutama di daerah sentra produksi sering menggunakan insektisida secara berlebihan tanpa memperdulikan populasi hama.Penyunting: Yulia Tri Semail : yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber: 1. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi2. http://simple420.blogspot.co.id/2013/01/hama-yang-sering-menyerang-tanaman_13.html