Loading...

SERI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TOMAT BUNCIS: PEMUPUKAN

SERI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)  TOMAT BUNCIS:  PEMUPUKAN
Tanaman tomat dapat beradaptasi luas mulai dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi tergantung dari varietas yang digunakan. Di Indonesia, rata-rata produksi tomat di lapang baru mencapai 15,51 ton/ha atau 21,93 ton/ha untuk Pulau Jawa dan 11,80 ton/ha untuk luar Jawa. Potensi produksi dari hasil penelitian dapat mencapai 50 ton/ha dan hasil ini sudah sering dicapai oleh para petani maju di Jawa Barat. Target yang akan dicapai dalam kerangka penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) tomat, yaitu produksi optimal dari budidaya di lapangan dengan mutu produksi sesuai standar mutu yang telah ditetapkan (SNI 01-3162-1992 dan Draf Standar Codex) dan meningkatnya ekspor buah tomat.Sasaran produksi tomat di tingkat nasional dari tahun 2010 - 2014 terus mengalami peningkatan, yaitu mulai dari 891,616 ton (2010), menjadi 934,200 ton (2011), 978,800 ton (2012), 1.025,6 ton (2013) dan 1.074,6 ton (2014), dengan wilayah produksi utama di Provinsi Jawa Barat, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat. Untuk itu, diperlukan penanganan khusus meliputi perbaikan manajemen dan aplikasi budidaya pra panen dan pasca panen. sesuai dengan SOP berbasis Good Agriculture Practices (GAP) untuk dapat menghasilkan produksi yang optimal.Ruang lingkup SOP tomat memuat instruksi kerja yang meliputi: 1). penyediaan benih, 2) persiapan lahan, 3). penanaman, 4). pemasangan ajir, 5) perempelan/wiwil, 6) pengairan, 6) pengendalian OPT, 7) pemupukan, 8) pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), 9) panen, 10). pasca panen. Pemupukan merupakan penambahan unsur hara ke dalam tanah apabila apabila kandungan unsur hara dalam tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. TujuanMempertahankan status hara tanah untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman guna menjamin pertumbuhan tanaman yang optimal dan menghasilkan produksi dengan mutu yang optimal. SasaranTerpenuhinya kebutuhan hara tanaman guna menjamin pertumbuhan tanaman yang optimal dan dan menghasilkan produksi dengan mutu yang optimal.Ruang lingkup kegiatan pemupukan meliputi pemberian pupuk anorganik tunggal atau majemuk (unsur N, P, dan K) yang digunakan sebagai tambahan hara/nutrisi yang dibutuhkan tanaman; pembuatan tugal tempat pemberian pupuk; dan pemberian pupuk pelengkap cair dengan bantuan handsprayer, ember/gayung dan sorong untuk mengangkut bahan dan alat ke lokasi pemupukan. Prosedur pelaksanaanAdapun prosedur pelaksanaan penyediaan benih tomat, yaitu sebagai berikut:1. Gunakan pupuk berdasarkan dosis yang telah ditentukan sesuai dengan rekomendasi setempat;2. Jenis pupuk yang pada umumnya digunakan untuk menambah hara N, P, K dan S yaitu Urea, ZA, sumber Fosfor yang berasal dari SP18, dan sumber Kalium yang berasal dari KCl, ZK atau Kamas (K2MgSO4)3. Aplikasi pupuk Nitrogen dan Kalium sebaiknya dilakukan dua kali, yaitu pada saat tanam dan 30 hari setelah tanam., mengingat keduanya bersifat mobil, sehingga pemberian dua kali diharapkan dapat menghindari terjadinya pencucian hara terutama pada musim hujan;4. Aplikasi SP18 diberikan sekaligus pada saat tanam. Tanah di dataran rendah didominasi oleh tanah yang memiliki pH rendah (kurang dari 5). Pengapuran dengan Dolomit dapat meningkatkan pH tanah;5. Agar pupuk cepat lebih cepat bereaksi, sebaiknya sebelum dan sesudah pemberian pupuk, tanaman disiram dengan air sampai mendapatkan kapasitas lapang (penyiraman diberikan secukupnya dan hindari terjadinya genangan air pada permukaan tanah); 6. Catat setiap kegiatan pemupukan yang dilakukan. Penulis ; Diana Prasastyawati/Penyuluh Pusat Pertanian Sumber informasi:1. Anonim. 2010. Standar Operasional Prosedur (SOP) Tomat. Jakarta: Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian2. Anonim. 2011. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2010 - 2014, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian