Loading...

SERI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TOMAT: PENGENDALIAN ORGANISME PENGANGGUTANAMAN (OPT)

SERI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TOMAT:  PENGENDALIAN ORGANISME PENGANGGUTANAMAN (OPT)
Tomat (Lycopersiton esculentum Mill) berasal dari kawasan pegunungan Andes dari Meksiko sampai Peru. Semua varietas tomat, baik yang ditanam di Eropa maupun Asia berasal dari biji yang dibawa dari Amerika Latin oleh pedagang bangsa Spanyol dan Portugis pada abad ke 16. Tanaman tomat dapat beradaptasi luas mulai dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi tergantung dari varietas yang digunakan.Di Indonesia, rata-rata produksi tomat di lapang baru mencapai 15,51 ton/ha atau 21,93 ton/ha untuk Pulau Jawa dan 11,80 ton/ha untuk luar Jawa. Potensi produksi dari hasil penelitian dapat mencapai 50 ton/ha dan hasil ini sudah sering dicapai oleh para petani maju di Jawa Barat. Target yang akan dicapai dalam kerangka penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) tomat, yaitu produksi optimal dari budidaya di lapangan dengan mutu produksi sesuai standar mutu yang telah ditetapkan (SNI 01-3162-1992 dan Draf Standar Codex) dan meningkatnya ekspor buah tomat.Sasaran produksi tomat di tingkat nasional dari tahun 2010 - 2014 terus mengalami peningkatan, yaitu mulai dari 891,616 ton (2010), menjadi 934,200 ton (2011), 978,800 ton (2012), 1.025,6 ton (2013) dan 1.074,6 ton (2014), dengan wilayah produksi utama di Provinsi Jawa Barat, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat. Untuk itu, diperlukan penanganan khusus meliputi perbaikan manajemen dan aplikasi budidaya pra panen dan pasca panen sesuai dengan SOP berbasis Good Agriculture Practices (GAP) untuk dapat menghasilkan produksi yang optimal.Ruang lingkup SOP tomat memuat instruksi kerja yang meliputi: 1). penyediaan benih, 2) persiapan lahan, 3). penanaman, 4). pemasangan ajir, 5) perempelan/wiwil, 6) pengairan, 7) pemupukan, 8) pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), 9) panen, 10). pasca panen. Pengendalian OPT dilakukan dengan sistem terpadu untuk menurunkan populasi OPT atau intensitas serangan, sehingga tidak merugikan secara ekonomis dan aman bagi lingkungan. Tujuan 1. Menghindari kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk;2. Menjaga kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan hidup. Sasaran 1. Terhindarinya kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk;2. Terjaganya kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan hidup. Prosedur pelaksanaan1. Lakukan pengamatan OPT secara berkala (seminggu sekali) dengan mengambil contoh untuk mengetahui jenis hama dan populasinya;2. Kenali dan identifikasi gejala serangan, jenis OPT dan musuh alaminya;3. Perkiraan OPT yang perlu diwaspadai dan dikendalikan (hama dan penyakit);4. Konsultasikan kepada petugas PHP/POPT atau petugas dinas pertanian setempat;5. Catat setiap kegiatan pengendalian OPT yang dilaksanakan. Catatan1. Penggunaan fungisida sistemik maksimal tiga kali per musim untuk mencegah resistensi penyakit busuk daun terhadap fungisida;2. Bila sangat diperlukan, penyemprotan keempat dengan menggunakan fungsida sistemik dapat digunakan sebagai senjata pamungkas;3. Dosis penggunaan disesuaikan dengan rekomendasi pada label kemasan. Sumber informasi:1. Anonim. 2010. Standar Operasional Prosedur (SOP) Tomat. Jakarta: Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian2. Anonim. 2011. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2010 - 2014, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian