Loading...

Setting Komponen Budidaya Padi

Setting Komponen Budidaya Padi
Peningkatan produksi padi untuk swasembada beras berkelanjutan melalui perluasan areal tanam memerlukan waktu dan biaya yang lebih tinggi, selain keterbatasan luas baku lahan yang tersedia untuk sawah, dibandingkan dengan peningkatan produktivitas/hasil (ton GKG/ha). Kondisi lingkungan pertanaman padi di Indonesia beragam, menyebabkan beragamnya permasalahan, penanganan dan tingkat hasil padi, serta teknologi yang dibutuhkan. Hal ini memerlukan interpretasi data karakteristik lokasi menjadi komponen teknologi yang diperlukan.Setting budidaya padi dilakukan menggunakan pendekatan system. Pemahaman dan aplikasi system, yang terdiri dari komponen-komponennya, lingkungan, dan proses yang terjadi dengan atau tanpa intervensi teknologi budidaya.Setting budidaya padi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan tiap komponen budidaya yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi, dan mempertimbangkan atau mencari adanya kombinasi terbaik antar komponen teknologi budidaya.Pemilihan VarietasDasar pemilihan varietas padi yang akan ditanam biasanya mempertimbangkan, antara lain: (1) "potensi" hasil tinggi; (2) umur tanaman hingga panen, (3) daya toleransi dan adaptasi terhadap cekaman lingkungan; (4) karakteristik gabah dan nasi (warna dan bentuk gabah, tekstur, bentuk, warna, aroma nasinya seperti pulen/pera, panjang/pendek/bulat, putih/kusam, dll); dan (5) sifat khusus lainnya (kandungan Fe, provit A, Zn, indeks glikemik, dll.). Namun pada kenyataannya dalam satu varietas tidak terdapat semua faktor yang diinginkan, sehingga diperlukan pertimbangan atau penilaian terhadap varietas yang akan dipilih. Untuk mempermudah pemilihan varietas di atas pernah dikembangkan Sistem Pakar Pemilihan Varietas yang disebut "SIPAVAR" (Makarim 2007). Perangkat lunak seperti ini perlu pengembangan lebih lanjut dengan memperkaya database varietas.Di lain pihak, pertumbuhan dan respon varietas tanaman terhadap komponen budidaya tanaman lainnya seperti pengaturan jarak tanam akan saling menentukan cara budidaya. Penyiapan Benih dan Bibit Benih yang berkualitas tinggi ditunjukkan dengan kemurnian benih, yaitu tidak tercampur atau terkontaminasi oleh benih dari varietas lain, gulma, terbebas dari kotoran dan jamur atau penyakit yang menempel di benih, serta berdaya kecambah tinggi. Pengujian daya kecambah diperlukan sebelum benih disemai pada persemaian.Pengolahan Tanah Pengolahan lahan dilakukan dengan maksud untuk pemerataan kesuburan tanah termasuk fisik dan biologi media tumbuh tanaman, dan sekaligus membuang gulma, sehingga akan diperoleh pertanaman yang relatif subur dan seragam. Media tumbuh tanaman yang subur dan seragam ini dapat diperoleh melalui berbagai upaya, seperti pembalikan dan pencampuran lapisan olah tanah secara mekanisasi atau manual. Peningkatan kesuburan lahan sewaktu pengolahan lahan dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang dan ameliorant lainnya (kapur, zeolit, batuan fosfat dsb.) bila diperlukan. Pengolahan lahan dapat dilakukan secara kering atau basah dengan mempertimbangkan kemudahan operasional alat dan sifat tanah terutama tipe liat (1:1 atau 2:1). Pengolahan tanah secara berlebih tidak dianjurkan, karena struktur tanah menjadi rusak, partikel tanah mudah terbawa air (tererosi). Pada tanah-tanah sulfat masam potensial yang memiliki lapisan pirit (FeS, FeS2) dangkal, pembalikan tanah akan mengekspose pirit dan teroksidasi menghasilkan asam sulfat yang sangat masam dan ion besi sehingga pertanaman menjadi keracunan besi dan Al, sehingga tumbuh kerdil. Pelumpuran untuk padi sawah umumnya baik untuk pemerataan kesuburan dan penghalusan media, sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman muda. Namun, pada tanah-tanah yang mengandung konkresi atau butiran kapur atau garam Na (umumnya tanah ber-pH >7,5), pelumpuran akan melarutkan konkresi tersebut, sehingga menambah konsentrasi garam dalam larutan tanah, sehingga pertumbuhan tanaman muda terhambat atau layu. Bila ini terjadi, maka upayakan pengeringan dan draenasi lahan. Cara Tanam dan Jarak TanamHasil tanaman padi (ton GKG/ha) merupakan perkalian antara jumlah populasi atau rumpun per hektar dikali bobot gabah per rumpun. Jumlah rumpun per ha bergantung pada pengaturan jarak tanam. Misalnya jarak tanam 20 cm x 20 cm memiliki populasi 250.000 rumpun/ha apabila lengkap, sedangkan jarak tanam 30 cm x 30 cm memiliki populasi 111.111 rumpun/ha. Oleh sebab itu, apabila hasil gabah per rumpun pada jarak tanam 20 cm x 20 cm sebesar 24 g GKG (setara hasil gabah 6 ton GKG/ha), maka hasil gabah per rumpun untuk jarak tanam 30 cm x 30 cm minimal 54 g GKG dan untuk jajar legowo 4:1 penuh (20 – 40) cm x 10 cm sebesar 15 g GKG. Ini menunjukkan bahwa hasil gabah per rumpun tidak dapat dibandingkan secara langsung antar jarak tanam yang berbeda, tetapi perlu ada faktor koreksi populasi. Pada pengaturan cara tanam, kini berkembang variasi tanam sbb: (a) tanam benih langsung atau tanam pindah; (b) umur bibit yang digunakan bervariasi 7 hss (hari setelah semai), 17 hss, 21 hss hingga 28 hss yang memiliki pertimbangan keuntungan berbeda menurut lokasi; dan (c) jumlah bibit per lubang bervariasi dari 1, 3, 5, 10 bahkan 30 bibit per lubang. Tanam 1 bibit per lubang, akan berkembang anakan secara sempurna dan akhirnya sama atau lebih baik dibandingkan yang menggunakan bibit lebih dari 1; selain itu kebutuhan benihnya menjadi sedikit (+ 10 kg/ha). Tanam 30 bibit per lubang,ekstrim banyak, tidak mengandalkan hasil gabah dari anakan, tetapi semuanya berasal dari "indukan", yang kualitas malainya umumnya lebih baik dibandingkan dari anakan. Bila semua bibit tumbuh menjadi "indukan" semua, maka per rumpunnya minimal terbentuk 30 indukan, yang diharapkan tentunya akan tercapai hasil (ton/ha) yang tinggi. Tentunya dalam perkembangan selanjutnya akan terjadi variasi jumlah bibit per lubang yang ditanam. Pemberian Bahan OrganikManfaat pemberian bahan organik dalam budidaya padi sudah lama diketahui dan dipraktek petani di P. Jawa meliputi pemanfaat pupuk hijau (crotalaria, sesbania, berbagai tumbuhan kacang-kacangan, dan sisa-sisa panen tanaman.), pupuk kandang (kotoran ternak). Berbagai manfaat bahan organik tersebut antara lain: (a). dapat memperbaiki sifat fisik tanah (tanah berpasir akan lebih terikat, tanah liat lengket menjadi kurang lengket sehingga memudahkan perkembangan akar tanaman; (b) meningkatkan kapasitas menahan air dan hara, (c). menambah hara tertentu seperti (N, P, K, dll), (d) dapat menon-aktifkan senyawa kimia yang bersifat racun bagi tanaman (Al, Fe, Na, dll.), serta (e) media tumbuh bagi berbagai mikroorganisme tanah (karbon dari bahan organik merupakan sumber energi bagi mikroba penambat nitrogen, mikroba perombak ikatan karbon dan pelepas hara N dan P. Hanya saja penggunaan bahan organik pada tanah-tanah sawah berdraenasi buruk jangan dilakukan, sebab dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi lebih anaerob, terbentuknya asam-asam organik, gas H2S, gas CH4, akumulasi ion Fero yang berpotensi meracuni akar tanaman, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.Kelemahan dari penggunaan bahan organik juga perlu dipertimbangkan, seperti (a) digunakan dalam jumlah banyak (>2 ton/ha); (b) adanya keragaman kualitas yang cukup besar (C/N rasio, %hara, dll); (c) pemberian bahan organik mentah (C/N tinggi) dapat menyerap N tanah untuk dekomposisi C, sehingga kebutuhan N meningkat atau tanaman akan kahat N, (d). melepas asam-asam organik berlebih sehingga pH menurun dan perkembangan akar tanaman akan terhambat, (e). meng-emisi gas-gas rumah kaca (GRK) terutama metan (CH4) dan N2O yang berdampak negatif terhadap lingkungan global (pemanasan bumi);Oleh sebab itu, dalam penggunaan input produksi dalam bentuk organik perlu mempertimbangkan karakteristik lokasi. Pemberian Pupuk Strategi pemberian pupuk untuk tanaman adalah memberikan kekurangan kebutuhan hara tanaman untuk mencapai tingkat hasil tertentu. Kebutuhan tanaman akan hara tertentu misalnya P, K, kadangkala dapat terpenuhi dari media tumbuhnya (tanah), terutama pada tanah subur namun tingkat hasil padinya rendah disebabkan oleh adanya faktor pembatas lain (misalnya Zn). Dalam hal ini pemberian pupuk P dan K tidak diperlukan, tetapi Zn diperlukan. Pemberian hara menjadi kurang efisien dan efektif untuk meningkatkan hasil tanaman, apabila ada kendala lain yang lebih besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan