Lada di Kecamatan Sinjai Tengah merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang dapat menunjang perekonomian dan kehidupan masyarakat daerah ini. Hal ini dapat kita pada potensi poktan yang memang tidak memiliki lahan selain perkebunan. Akan tetapi beberapa petani lada kembali merasakan kerugian yang besar akibat serangan penyakit busuk pangkal batang bawah yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Penyakit ini merupakan organisme pengganggu tumbuhan paling berbahaya dan paling merugikan bagi petani lada. Serangan paling mematikan apabila Phytophthora menyerang pangkal batang dan akar tanaman. Penyakit BPB juga dapat menyerang bagian pucuk daun yang menyebabkan terjadi bercak pada bagian ujung, tengah atau tepi daun. Tanaman muda sampai tanaman yang telah berumur lebih dari dua tahun dapat terserang penyakit BPB.KENALI EKOBIOLOGI PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG LADAPenyakit busuk pangkal batang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Lampung Selatan tahun 1885. Jamur P. capsici dapat menyerang semua umur/stadia tanaman, mulai dari pembibitan sampai tanaman produksi. Serangan yang membahayakan apabila terjadi pada pangkal batang atau akar karena menyebabkan kematian tanaman dengan cepat. Gejala serangan dini sulit diketahui, gejala yang nampak yaitu kelayuan tanaman menunjukkan serangan telah lanjut. Pangkal batang yang terserang menjadi berwarna hitam; pada keadaan lembab akan nampak lendir yang berwarna kebiruan di permukaannya dan akhirnya kematian tanaman.Diskripsi dan GejalaSebenarnya pada tanaman lada dikenal dua penyakit utama yang menyebabkan layu diantaranya layu cepat dan layu lambat. Namun, justru penyakit layu cepat atau yang dikenal BPBL ini yang lebih banyak merusak tanaman lada. Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada ini disebabkan oleh jamur patogen Phytophthora capsici. Kadang, petani seringkali terkecoh dan sulit membedakan gejala antara penyakit layu lambat dengan layu cepat tersebut. Padahal identifikasi gejala ini merupakan bagian penting dalam menentukan penyakit yang menyerang tanaman lada. Dan hal ini sangat mempengaruhi bagaimana cara dan strategi pengendaliannya. Gejala layu akibat serangan patogen busuk pangkal batang biasanya nampak seperti tanaman kekeringan, sedangkan akibat penyakit kuning, ditunjukkan dengan daun menggantung kaku dan makin lama makin mengarah ke batang tanaman.Penyakit P. Capsici biasanya menyerang tanaman bagian pangkal batang dan akar. Namun dalam keadaan tertentu dapat juga menyerang bagian daun, cabang dan buah. Infeksi pada bagian pangkal batang biasanya terjadi kurang lebih setinggi 30 – 35 cm dari permukaan tanah. Serangan terbesar biasanya terjadi pada saat musim hujan. Karena pada saat itu, cuaca yang ada sangat mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan patogen pada tanaman. Penampakannya bisa kita lihat apabila pangkal batang diiris secara membujur terlihat garis-garis yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan kemudian membusuk. Gejala serangan dini pada bagian batang maupun akar sulit diketahui. Gejala yang khas dari penyakit ini adalah kelayuan tanaman. Infeksi pada pangkal batang menyebabkan terjadinya perubahan wana kulit menjadi hitam. Pada keadaan lembab, gejala hitam tersebut nampak seperti berlendir berwarna agak biru. Kulit pangkal batang tersebut kadang-kadang terlepas dan tinggal jaringan pembuluh yang berwarna coklat. Daun-daun yang layu seringkali tetap tergantung dan berubah warna coklat sampai hitam.Pada tingkat serangan yang berat, seluruh bagian dari batang dan akar yang terserang akan mengalami pembusukan, dimulai dari daun menjadi layu, kemudian daunnya gugur dan berakhir dengan kematian. Berdasarkan proses kelayuannya, serangan BPBL membuat daun menjadi menguning dan diikuti dengan gugurnya daun-daun. Gugurnya daun berangsur-angsur dari bagian tengah berwarna abu-abu. Daun yang terserang kemudian menjadi keriput dan akhirnya gugur. PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG LADAPaket teknologi pengendalian penyakit busuk pangkal batang lada (BPB) yang telah direkomendasikan oleh Balittro Bogor dan dapat dilakukan oleh petani lada di areal pertanamannya yang secara bertahap adalah sebagai berikut:• Membuat rorak secara diagonal diantara 3-5 baris tanaman lada. Adanya rorak akan menghambat penyebaran spora P. capsici. Dalam rorak tersebut dimasukkan bekas pangkasan, tajar dan pengkasan tanaman penutup tanah dan ditaburi dengan jamur Trichoderma harzianum untuk mempercepat pelapukan sehingga nantinya dapat digunakan sebagai pupuk organik.• Membuat parit drainase di sekeliling kebun agar tidak ada air yang tergenang di dalam kebun• Pemangkasan/pembuangan sulur liar (sulur cacing dan sulur gantung), kalau dibiarkan akan merugikan tanaman lada karena sulur tersebut tidak akan menghasilkan buah tetapi tetapi ikut memanfaatkan hara yang ada di tanah• Pemangkasan tajar dilakukan setiap seminggu sebelum pemupukan (pupuk buatan)• Aplikasi agen hayati Trichoderma harzianum untuk semua tanaman lada di area pertanaman• Pemupukan N,P,K,Mg dengan perbandingan unsur K lebih tinggi dari N. Unsur K yang relatif tinggi akan memperkuat jaringan tanaman sehingga lebih tahan terhadap infeksi pathogen• Penanaman Arachis pintoi. Bunga-bunga yang diproduksi oleh tanaman penutup tanah ini merupakan sumber nutrisi bagi berbagai jenis musuh alami OPT lada. Arachis sp juga dapat menahan penyebaran spora patogen BPB sekaligus dapat digunakan sebagai campuran pakan ternak (kambing)• Penyiangan terbatas/bobokor. Penyiangan terbatas dilakukan dibawah kanopi tanaman lada dengan tujuan agar tanaman penutup tanah dengan tanaman lada tidak bersaing dalam mendapatkan nutrisi.• Pemeliharaan ternak (kambing) dan penanaman rumput gajah di sekeliling kebun lada. Ternak harus dikandangkan, kotoran ternak dapat dijadikan pupuk organik yang diperlukan untuk tanaman lada.• Selain tindakan-tindakan tersebut, kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan pengamatan dan sanitasi lahan yang dilakukan secara intensif dan periodik seminggu sekali agar pengendalian dan identifikasi penyakit dapat diketahui lebih dini. Bila saat dilakukan pengamatan ditemukan gejala serangan pada satu tanaman, maka tindakan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan membuang/memusnahkan tanaman tersebut sesegera mungkin agar tidak menular kepada tanaman lain.(Mujahidn, SP/Penyuluh Pertanian Kec. Sinjai Tengah)