Tantangan utama petani adalah menghadapi ketidakpastian dalam setiap musim tanam. Serangan hama, kekeringan dan bencana alam adalah sekian dari ancaman yang dapat memupus harapan mereka untuk panen. Pada jaman sekarang pestisida juga bisa menjadi harapan sekaligus ancaman bagi petani. Salah satu ancaman pestisida adalah melalui salah satu merk herbisida yakni dicamba. Di Amerika serikat dicamba merupakan herbisida yang populer dan banyak digunakan. Sangat mematikan gulma daun lebar, sehingga begitu disukai oleh petani. Dicamba mengakhiri era Round Up dengan bahan aktif Glifosat. Glisofat sudah dianggap tidak mangkus lagi. Langkah memilih dicamba sebagai herbisida untuk membunuh gulma berdaun lebar ternyata berdampak luar biasa. Penggunaannya yang meluas tidak hanya membunuh gulma saja. Sifatnya sangat mudah hanyut merusak tidak hanya tanaman berdaun lebar seperti kedelai tapi juga sayuran dan bunga. Herbisida ini menghancurkan bunga dan gulma yang juga sebagai makanan lebah. Dengan demikian mengakibatkan penurunan dramatis populasi lebah. Pengaruh dicamba juga membuat hubungan yang tegang dalam komunitas pertanian di seluruh negeri, karena antar petani saling menyalahkan atas kerugian panen ribuan dolar. Alih-alih mengurangi penggunaan dicamba, petani kedelai disana lebih memilih memakai benih kedelai yang tahan terhadap dicamba. Sebenarnya ada pelarangan penggunaan dicamba atas tanggung jawabnya terhadap kerusakan panen. Namun demikian pihak produsen pestisida meyakinkan kembali tentang instruksi penggunaan. Dicamba masih boleh hidup 2 tahun lagi. Kisah dicamba adalah contoh siklus beracun di mana industri kimia telah menjebak para petani. Salah satu alasan mengapa kedelai yang tahan terhadap dicamba menjadi pilihan bagi petani adalah karena kegagalan glifosat saat ini untuk mengendalikan gulma. Ketergantungan sistem ini pada pestisida seperti glifosat telah menghasilkan jenis baru gulma tahan yang jauh lebih sulit untuk dibunuh dengan herbisida biasa. Untuk mengatasi gulma generasi baru ini, petani harus beralih ke pestisida lain yang lebih beracun, termasuk dicamba. Inilah saatnya untuk menghadapi siklus penggunaan pestisida pertanian. Tanaman tahan pestisida pasti akan mengarah pada penggunaan pestisida yang lebih tinggi, gulma dan serangga akan mengembangkan ketahanan terhadap bahan kimia, maka tanaman tahan pestisida dan pestisida baru perlu dikembangkan, dan siklus akan berlanjut, merusak tanaman, tanah, air dan kesehatan kita. Dalam hal dicamba, roda ini mungkin sudah mulai berputar. Beberapa peneliti mengatakan mereka telah melihat bukti gulma yang mendapatkan resistensi terhadap herbisida. Menjelang musim tanam baru, beberapa petani tradisional bahkan terpaksa membeli benih kedelai yang tahan dicamba untuk menjaga tanaman mereka karena efek penggunaan dicamba dari ladang petani lainnya. Ketika investasi telah dilakukan, maka lebih mudah bagi para petani ini untuk menyemprot dicamba di ladang mereka sendiri - melanggengkan siklus dan meninggalkan petani lain dalam situasi yang sama. Ada alternatif untuk sistem pertanian yang kecanduan pestisida. Banyak petani dan peneliti pertanian telah mengembangkan teknik yang dapat menciptakan sistem pangan yang lebih kuat, aman dan berkelanjutan. Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa petani telah mulai mengadopsi praktik agroekologi, penggunaan pestisida nabati, termasuk rotasi tanaman, menanam tanaman refugia dan pertanian tanpa olah tanah. Jika diimplementasikan bersama, teknik-teknik ini secara alami dapat mengendalikan hama, memerangi erosi, dan membantu meningkatkan penyerapan karbon di tanah. Namun, upaya ini kalau dilaksanakan sebagian kecil petani saja, hanya memiliki sedikit peluang untuk mencapai transformasi sistem pangan kita. Dan akhirnya siklus beracun pada pertanian terus berlanjut, didorong dan didukung oleh pemerintah yang gagal melindungi para petani yang berupaya menghasilkan makanan dengan cara yang berkelanjutan. Sumber : https://frontiergroup.org/blogs/blog/fg/breaking-pesticide-cycle