Kegiatan Demplot Sekolah Lapang (SL) Tematik Budidaya Ramah Lingkungan baru saja menggelar aksi nyata melalui kegiatan "Gropyokan" massal untuk mengendalikan hama tikus. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap serangan hama yang mengancam produktivitas di lokasi demplot dan lahan persawahan sekitarnya. Gropyokan bukan sekadar tradisi berburu tikus, melainkan manifestasi semangat gotong royong petani dalam menjaga kedaulatan pangan dengan cara-cara yang terorganisir dan efektif.
Dalam momentum tersebut, para petani dibekali pemahaman mendalam mengenai metode fumigasi atau pengemposan menggunakan gas dan belerang. Metode ini menjadi pilihan utama karena kemampuannya menjangkau sasaran langsung di dalam sarang. Melalui alat pengempos sederhana, asap beracun hasil pembakaran belerang (sulfur) didorong masuk ke dalam lubang aktif. Tikus yang terperangkap di dalam liang akan menghirup asap tersebut, yang seketika merusak sistem pernapasan dan saraf mereka, sehingga populasi tikus dapat ditekan secara signifikan sebelum sempat berkembang biak lebih luas.
Efektivitas metode belerang ini terletak pada sifatnya yang sangat spesifik sasaran (target spesifik). Dibandingkan dengan menebar racun umpan secara terbuka di permukaan lahan, fumigasi di dalam liang meminimalisir risiko hewan non-target, seperti ternak atau burung predator, memakan racun tersebut. Selain itu, alat dan bahan yang digunakan relatif ekonomis dan mudah didapat oleh petani di pasar lokal, sehingga menjadikannya solusi praktis di tengah keterbatasan sarana produksi pertanian yang sering terjadi.
Namun, di balik efektivitasnya, dalam aplikasinya perlu ditekankan juga tentang pentingnya aspek keselamatan kerja bagi para petani. Asap belerang bersifat korosif dan beracun jika terhirup dalam konsentrasi tinggi oleh manusia, yang dapat memicu iritasi saluran pernapasan akut. Penggunaan gas bantuan seperti LPG dalam proses pembakaran juga menuntut kehati-hatian ekstra untuk mencegah kecelakaan api di lapangan. Oleh karena itu, pemahaman teknis yang benar menjadi syarat mutlak sebelum petani melakukan pengemposan secara mandiri.
Sebagai bagian dari transisi menuju budidaya ramah lingkungan, petani diperkenalkan pada alternatif fumigasi yang lebih aman, salah satunya adalah penggunaan Karbon Dioksida (CO2). Seperti pada masa lalu, di beberapa daerah petani melakukan pengemposan lubang tikus dengan membakar jerami dan sabut kelapa yang dihembuskan kedala lubang tikus. Gas CO2 memiliki massa jenis yang lebih berat dari udara, sehingga lebih efektif tenggelam ke dasar liang tikus tanpa meninggalkan residu beracun yang persisten di tanah. Metode ini jauh lebih aman bagi kesehatan petani (aplikator) karena sifatnya yang tidak mudah terbakar dan tidak sekeras asap belerang dalam merusak jaringan paru-paru.
Selain fumigasi, strategi pengendalian hama terpadu (PHT) menyarankan penguatan pada pengendalian hayati dan sanitasi lingkungan. Memelihara predator alami seperti burung hantu (Tyto alba) atau ular sawah merupakan investasi jangka panjang yang paling ramah lingkungan. Menjaga kebersihan pematang dari semak belukar juga sangat krusial, karena area yang bersih akan menghilangkan tempat persembunyian dan lokasi bersarang bagi tikus, sehingga menekan laju populasi secara alami tanpa biaya tambahan.
Kegiatan gropyokan dan edukasi ini diharapkan mampu mengubah pola pikir petani dari sekadar "membasmi" menjadi "mengelola" hama secara bijaksana. Sinergi antara kearifan lokal dalam gropyokan dengan pengetahuan ilmiah mengenai bahaya dan manfaat bahan kimia akan menciptakan sistem pertanian yang tangguh. Dengan menerapkan prinsip budidaya ramah lingkungan secara konsisten, produktivitas lahan dapat terjaga tanpa mengorbankan kesehatan petani maupun kelestarian alam untuk generasi mendatang.
Hilmi Hardimansyah,SP