Visi misi pembangunan 2020-2024 adalaha terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong-royong, ditempuh melalui agenda Prioritas Pembangunan Nasional, salah satunya adalah memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan. Pertanian merupakan sektor strategis prioritas nasional yang berperan dalam ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan yang dijabarkan ke dalam program prioritas peningkatan ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi pangan serta peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, dan investasi. Permasalahan substantif yang dihadapi dalam prcepatan pencapaian swasembada pangan antara lain : 1) alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian, 2) rusaknya infrastruktur/jaringan irigasi, 3) semakin berkurangnya dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian, 4) masih tingginya susut hasil (losses), 5) berlum terpenuhinya kebutuhan pupuk dan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi, 6) lemahnya permodalan petani, 7) fluktuasi harga pada saat panen raya. Sesuai dengan slogam Kementerian Pertanian yaitu Maju, Mandiri, Modern merefleksikan bahwa kita bisa maju dengan adanya peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pertanian. Mandiri merefleksikan upaya dan tekad yang kuat untuk memaksimalkan potensi sumberdaya pertanian sehingga ketergantungan kepada pihak luat secara bertahap dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Modern merefleksikan menjadi pendorong loncatan pertumbuhan sektor pertanian. tanpa penerapan teknologi modern, sektro pertanian tidak akan maju dan tumbuh. Dalam upaya percepatan pembangunan pertanian, maka perlu dilakukan sinergi dan koordinasi pelaksanaan program/kegiatan di lapangan. Strategi pembangunan pertanian dilakukan untuk mewujudkn ketahanan pangan, salah satunya dimulai dari perolehan data pertanian melalui Balai Penyuluh Pertanian (BPP). BPP dalam memperoleh data pertanian melalui pemenuhan prasarana dan sarana, serta peningkatan pelaksanaan tugas dan fungsi penyuluhan berbasis teknologi. Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) adalah gerakan pembaharuan pembangunan pertanian nasional berbasis teknologi informasi melui optimasi tugas, fungsi, dan peran Balai Penyuluh Pertanian dalam mewujudkn keberhasilan pembangunan pertanian. Salah satu kegiatan dalam mendukung kegiatan Kostratani di UPTD BP4 Wilayah II Godean, Sleman adalah sinergi penyuluh pertanian, POPT, dan peneliti dari BPTP Yogyakarta melaksanakan kegiatan pendampingan dan pengawalan kegiatan mulai dari tanam sehingga hingga panen serempak. Kegiatan gerakan panen padi mendukung kedaulatan pangan berkelanjutan dilaksanakan bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Kepala BPTP Yogyakarta, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Kepala UPTD BP4 Wilayah II Godean, Muspika Kecamatan Godean, PPL dan juga petani di wilayah desa Sidoluhur, kecamatan Godean, Sleman yang berlangsung pada hari Jum’at (7 Agustus 2020). Kegiatan pola tanam padi serempak dalam kawasan desa ini memiliki tujuan utama untuk pengendalian hama tikus dan upaya peningkatan produksi padi. Penerapan teknologi yang dilaksanakan antara lain: Pola tanam padi serempak Tanam dan panen dilakukan secara serempak dalam satu hamparan dengan selisih waktu tanam tidak lebih dari 2 minggu dengan tujuan untuk membatasi ketersediaan pakan bagi tikus sehingga tidak terjadi perkembangbiakan secara terus-menerus. Gropyokan tikus saat fase olah tanah Groyokan dilaksanakan untuk menekan populasi tikus seawal mungkin saat persiapan tanam. Fumigasi/emposan lubang aktif tikus Fumigasi atau pengemposan dilakukan menggunakan asap belerang. Dilakukan selama masih dijumpai sarang tikus, terutama pada stadia generatif padi. Agar tikus lebih cepat mati, lubang tikus ditutup dengan lumpur setelah fumigasi, dan sarng tidak perlu dibongkar. TBS (Trap Barrier System) dan sanitasi lingkungan TBS adalah teknologi perangkap tikus dengan menggunakan perangkap bubu dan tanaman pemikat. Teknologi ini terbukti efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus menerus sejak awal tanam hingga panen. TBS terdiri dari tanaman perangkap yaitu padi yang ditanam 3 minggu lebih awal dengan pagar plastik atau terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu dan bagian bawahnya harus terendam air, agar tikus tidak mampu menerobosnya. Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam TBS (menghadap keluar) dibuat dari ram kawat dengan ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm. Sanitasi Lingkungan Membersihkan gulma atau semak-semak di habitat utama tikus yaitu tanggul irigasi, perbatasan dengan kampung, pematang, parit, dan saluran irigasi. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan produksi padi dair 5,9 T/Ha menjadi 6,75 T/Ha sampai 8 T/Ha dan hasil tangkapan tikus melalui gropyokan maupun TBS Sebanyak 1.334 ekor tikus. Harapannya setelah kegiatan desiminasi ini, kegiatan gerakan pola tanam serempak terus dilaksanakan oleh petani agar produksi padai bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi untuk mendukung kedaulatan pangan yang berkelanjutan. ———————————————– Daftar Pustaka : Pustika, Arlyna Budi, dkk. Buku Panduan Gerakan Panen Padi. BPTP Yogyakarta. 2020 Kontributor: Mytha Sugara, SP