Loading...

Sistem Integrasi Palawija-Padi sebagai Teknologi PHT

Sistem Integrasi Palawija-Padi  sebagai Teknologi PHT
Sistem integrasi palawija dalam pertanaman padi (SIPALAPA) sebagai metode baru dalam pengendalian hama terpadu (PHT) dalam kawasan intercropping palawija di pematang sawah dan surjan untuk menurunkan komunitas hama dengan pengkayaan musuh alami. Pada saat hama memperlihatkan kemampuannya berubah ke biotipe yang lebih ganas dan dapat menetralisir insektisida yang sebelumnya ampuh, maka dicetuskan konsep pengendalian hama terpadu. PHT dirumuskaan sebagai sistem pengelolaan hama berdasarkan pemahaman hubungan dinamika populasi hama dan lingkungan dengan memanfaatkan teknik pengendalian yang kompetibel antara yang satu dengan yang lainnya agar populasi hama dapat terjaga berada di bawah ambang yang tidak menyebabkan kerusakan secara ekonomis. Karena itu strategi dan taktik pengendalian hama seharusnya tidak didasarkan pada satu hama saja, tetapi berdasarkan komunitas antrhopoda dalam satu agroekosistem.Pola tanam padi-padi-palawija (kedelai), pertanaman kedelai atau vegetasi lain dapat berperan sebagai jembatan predator diantara dua musim tanam padi. Oleh karena itu pengembangan kedelai pada lahan yang biasanya bera merupakan hal yang positif, tidak hanya dari segi ekonomi tetapi juga dari segi ekologi bila mengikuti kaidah PHT (Herlina 2000).Untuk meningkatkan peran agen hayati dalam PHT diperlukan pergiliran varietas antar musim dan dalam musim, pertanaman varietas mosaik, perumahan musuh alami, tanaman polikutur, perbaikan lingkungan ekologi, perbaikan penampilan morfologi tanaman, tanaman dengan antibiotik, pemberian makanan tambahan dan manipulasi musuh alami (Baehaki 2001). Invasi kolonisasi predator pada tanaman kedelai lebih cepat dengan kelimpahan predator cukup tinggi bila lokasi pertanaman kedelai berdekatan dengan pertanaman padi. Karena tingginya pemencaran predator dari pertanaman padi menuju pertanaman kedelai.Penambahan bahan organik akan meningkatkan populasi serangga detritivora, pemakan plankton, dan meningkatkan populasi predator. Oleh karena itu pemberian bahan organik akan meningkatkan musuh alami yang hidup di bawah dan diatas permukaan tanah dan air. Kedelai yang ditanam di pematang mempunyai beberapa keuntungan, antaralain menjadi tempat bernaung (shelter) musuh alami, tempat bersembunyi predator, dan sebagai tanaman perangkap hama double crop (Baehaki et al. 2003). Pada areal polikultur berbasis padi yang diikuti oleh tanaman palawija di pematang memberikan keuntungan bagi petani. Sudah banyak dijumpai dibeberapa daerah tanaman palawija diusahakan di pematang, seperti jagung, kacang tanduk, dan kacang panjang. Oleh karena itu, kedelai dan palawija lainnya penting untuk diusahakan sebagai tanaman yang diintercropping di areal pertanaman sawah, sebagai shelter dari hama dan musuh alami,dan tanaman perangkap hama yang menyerang tanaman padi dan palawija (double pest crops). Fungsi lain dari tanaman palawija juga sebagai pelengkap dalam agribisnis dalam meningkatkan hasil setara padi.Padi-Palawija di PematangVarietas padi yang ditanam adalah Ciherang dan pada pematang ditanami kedelai varietas Tanggamus dengan jarak tanam 12,5 cm. Dengan dipilihnya varietas tanggamus karena pertumbuhannya cukup tinggi sehingga tidak akan ternaungi tanaman padi. Tanaman kedelai dipupuk dengan NPK (17:13:14) dengan dosis 275 kg/ha, atau disesuaikan kebutuhan hara tanah. Pemupukan diberikan tiga tahap, pertama pupuk dasar diberikan 1/4 bagian, kedua 15 HST, ketiga pada saat tanaman berbunga diberikan 3/8 bagian.Dengan penerapan teknologi ini hasil padi varietas Ciherang pada sistem integrasi padi-kedelai mencapai 9,81t/ha meningkat 15% dari pertanaman monokulotur padi. Sedangkan hasil kedelai mencapai 4,15t/ha.Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Iptek Berbasis Ketahanan Pangan Berkelanjutan-Puslitbang Tanaman Pangan 2011