Sistem kandang kelompok tingkatkan produktivitas sapi PO
Sapi potong lokal merupakan aset nasional yang berpotensi untuk dipertahankan keberadaannya sebagai plasma nutfah Indonesia. Salah satu jenis/ bangsa sapi potong lokal yang secara genetik memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis adalah sapi Peranakan Ongole (PO) dan hasil persilangannya. Pasokan daging sampai dengan 78-85% berasal dari sapi potong lokal sehingga pemotongan tak terkendali dapat mengakibatkan pengurasan sapi potong Upaya perbaikan produktivitas sapi potong lokal dapat dilakukan dengan perbaikan pola pemeliharaan. Pola pemeliharaan secara efektif (individu atau kelompok) dapat meningkatkan Berat Badan Harian pemeliharaan secara kelompok dapat dilakukan apabila areal yang tersedia untuk pemeliharan cukup luas. Pemeliharaan secara individu dapat dilakukan apabila areal yang tersedia terbatas. Hasil penelitian Komarudin-Ma'sum dkk(1992) menunjukkan bahwa pola pemeliharaan dengan. menggunakan kandang (individu atau kelompok) dengan bahan atap genteng lebih nyaman untuk mencapai produksi (berat badan, ukuran Hnier tubuh) yang optimal Berdasarkan hasil beberapa penelitian pertumbuhan sapi PO di peternakan rakyat Sumatera Barat, berat lahir PO murni hanya 19,8 kg. Umur satu tahun rata-rata berat badan sapi induk PO di peternak bisa mencapai 162,9 kg - 180,2 kg. Sedangkan pada satu setengah tahun dapat mencapai berat rata-rata antara 192,7 kg - 225,0 kg. Dengan Average Daily Gain (ADG) 0,240 kg/hari. Hal ini menunjukkan bahwa secara genetik sapi potong lokal yang ada memiliki keragaman yang cukup luas, dengan demikian cukup memiliki potensi genetik yang unggul. Upaya memperbaiki perkembangan sapi potong ini, perlu diimbangi dengan tindakan awal melalui seleksi yang ketat sampai membentuk keturunan yang mantap tampilan fenotipiknya dan menjadi sapi potong yang produktivitasnya tinggi dan ekonomis. Potensi biologik meliputi kemampuan reproduksi dan laju pertumbuhan. Potensi biologik sapi potong ini dapat dikembangkan secara optimal apabila sapi potong yang dipelihara mendapatkan ransum yang baik untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan. Selain itu, faktor genetik juga sangat mempengaruhi pertumbuhannya. Apabila sapi yang dipelihara mempunyai tetua yang baik, dalam artian sesuai dengan fungsinya sebagai sapi potong, maka pertumbuhan yang dihasilkan juga akan baik. Untuk mengetahui perbedaan pola pemeliharan sapi induk Peranakan Ongole (PO) secara individu dan kelompok terhadap pertambahan berat badan harian dalam upaya menyediakan sapi potong konsumsi yang memiliki produktivitas tinggi. Penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan : • Laju pertumbuhan (PBBH) sapi induk di foundation stock dengan pemeliharaan kelompok lebih baik dari pada pemeliharaan individu. • Pengelolaan di foundation stock secara individu dan kelompok dengan manajemen perbaikan pakan yang berasal dari limbah agroindustri pertanian (tumpi plus, tumpi, dedak dan rumput gajah) untuk sapi induk kelompok PBBHnya lebih tinggi dibandingan dengan sapi induk individu Ditulis Kembali : R. Dani Medionovianto,S.Pt Sumber : Puslitbangnak/Balitbangtan