Budidaya padi memerlukan banyak tenaga, yakni sekitar 25% dari seluruh kebutuhan tenaga kerja budidaya. Teknologi mekanisasi budidaya padi telah banyak diintroduksikan, namun sampai saat ini belum sepenuhnya dilaksanakan. Mekanisasi sebagai alternatif solusi tenaga tanam dilaksanakan dengan penggunaan alsin penanam bibit padi (rice transplanter). Saat ini hal yang sama sudah mulai dirasakan oleh petani kita, tenaga-tenaga petani muda sudah mulai beralih profesi mencari pekerjaan lain sehingga tenaga kerja dibidang pertanian mulai menurun. Alat rice transplanter ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kerja untuk mempercepat melakukan penanaman benih padi di lahan sawah. Dengan hadirnya teknologi ini diharapkan dapat mempercepat laju peningkatan produksi padi untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk yang kian meningkat, sehingga kebutuhan akan pangan dapat terpenuhi bagi masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Pada saat ini ada 2 (dua) jenis alat rice tranplanter yang di kenal dan sering di gunakan oleh petani di Provinsi Aceh yaitu jenis rice tranplanter Jajar legowo dan rice tranplanter Tegel. Untuk penanaman padi di lokasi IP 300 Kabupaten Aceh Besar, menggunakan 2 (dua) jenis alat yaitu Rice Transplanter Merk Yanmar dan Indo Jarwo di 11 desa. Dimana kedalaman sawahnya sesuai dengan kondisi alat yaitu di Desa Seuremo, Lam Ili Mesjid, Reukih Kupula, Lam Ili Teungoh, Lam Ili Ganto, Lampupok Raya, Meunara, Aneuk Glee dan Desa Lingom Kecamatan Indrapuri, sedangkan 1 (satu) Desa terletak di Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar. Adapun untuk penanaman dengan Rice Tranplanter Indo Jarwo dilakukan oleh kelompok tani Usaha Bersama yang diketuai oleh Bapak Bunaiya, dengan jumlah anggota sebanyak 89 orang. Kegiatan ini didampingi oleh Koordinator BPP Kecamatan Indrapuri dan penyuluh BPP Indrapuri Ibu Safrida, SP dan juga pendamping penyuluh pertanian dari Provinsi yaitu Bapak Safaruddin, SP. Pada lokasi IP 300 mengunakan 2 (dua) alat yang berbeda yaitu Tegel dan Jarwo, untuk tegel kita gunakan Merk Yanmar Tipe AP – 4 dengan kriteria alat : Mempunyai berat 145 kg kapasitas kerja 5 jam/ha, jumlah lajur 4 lajur dan jarak tanam 22, 17 dan 12, 15. Sedangkan untuk alat Rice transplanter Jajar legowo 2.1 dengan kriterianya : Mempunyai berat 178 Kg, jumlah lajur 4 lajur, dan jarak tanam 20, 10 dan 40, Sistem kerja alat ini hampir sama, hanya saja bila kita gunakan Rice Transplanter Jarwo 2.1 untuk lebih sempuna harus kita sisip secara manual di pinggir pematang dan teratur menurut lajur dan jurong. Cara operasional alat sangatlah mudah, yaitu dengan : kopling dinetralkan, tuas gas dinaikan secukupnya, tarik tuas engkol sebelah kanan, bibit diletakkan pada meja penanam, masing – masing satu tray untuk satu papan dalam satu baris dengan empat papan atau empat trey yang bisa mencapai jarak 50 s/d 70 meter, jumlah bibit bisa kita perkirakan sekitar 3 sampai 5 batang, setelah bibit diletakkan pada papan penanam geser tuas gigi tanam ke penanam satu atau penanam dua, biasanya digunakan tuas gigi penanam satu karena memiliki kecepatan sedangkan untuk penanam dua kecepatan akan lebih cepat. setelah tuas gigi digeser, lalu pelan pelan tuas jalan dinaikan ke atas dan rice tranplanter siap bekerja. Secara teknis teknologi rice transplanter dapat digunakan di Provinsi Aceh asalkan teknologi anjuran dan SOP untuk penyiapan lahan, penyiapan bibit, dan perawatan tanaman terpenuhi. Secara ekonomis terdapat peluang untuk digunakan sebagai substitusi/pengganti tenaga tanam (manusia) melalui sistem UPJA. Dengan berkembangnya teknologi rice transplanter di negara Taiwan, China dan Korea. Maka Indonesia untuk tahap awal dapat memanfaatkan teknologi tersebut, dan ke depan akan coba dikembangkan di Provinsi Aceh. Penulis : Safaruddin, SP (Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh)