Keberadaan air berperan sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di lahan sawah. Produksi padi sawah akan menurun jika tanaman padi menderita cekaman air. Gejala umum akibat kekurangan air, daun padi akan menggulung dan terbakar, tanaman kerdil, anakan berkurang, pembungaan tertunda dan biji hampa. Volume kebutuhan air berbeda pada setiap fase pertumbuhan dan tergantung pada varietas yang digunakan serta sistem pengelolaan lahannya. Kebutuhan air untuk sistem mina padi sangat berbeda dengan sistem tanam padi tanpa ikan. Ini berarti sistem pengelolaan air di sawah tidak hanya menyangkut sistem irigasi, tetapi sistem drainase pada saat-saat tertentu dibutuhkan, baik untuk mengurangi kuantitas air maupun mengganti air yang lama dengan air yang baru sehingga memberikan peluang sirkulasi oksigen dan hara. Dengan demikian teknik pengelolaan air perlu secara spesifik disesuaikan dengan sistem produksi padi sawah dan pola tanam.Di Indonesia sawah dikatagorikan menjadi tiga, yaitu (a) sawah irigasi, (b) sawah tadah hujan, dan (c) sawah rawa (lebak dan pasang surut). Sistem pengelolaan air pada tiga macam sawah tersebut sangat berbeda, karena perbedaan hidrologi dan kebutuhan air. Untuk pengembangan tanaman padi dalam kaitannya dengan efisiensi pemanfaatan air telah ditemukan teknologi irigasi yang dikenal dengan irigasi "macak-macak" (Abas dan Abdurahman 1981) dimana lahan sawah tidak digenangi tetapi cukup hanya dijenuhi. Pengolahan tanah dengan cara dilumpurkan, semakin intensif pelumpuran dilakukan semakin kecil kehilangan air.Mengingat lahan sawah pada umumnya tidak digunakan untuk tanam padi secara terus-menerus, kecuali di daerah yang pola tanamnya selalu padi-padi-padi, maka pengelolaan air harus spesifik tanaman. Kebutuhan AirWilayah Indonesia sekitar 83% mempunyai curah hujan tahunan > 2.000 mm, namun terdistribusi sebagian besar pada saat musim hujan. Dengan hanya menerapkan sistem pengelolaan air konvensional yang sangat tergantung pada curah hujan, maka deraan kekeringan dimusim kemarau tidak dapat terhindarkan. Akibatnya tanaman dapat mengalami cekaman air sehingga produksinya dapat menurun drastis.Tanaman pangan utama yang dibudidayakan di lahan sawah selain padi antara lain adalah jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.Pada pertanaman padi terdapat tiga fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif (0-60 hari), fase generatif (60-90 hari), dan fase pemasakan (90-120 hari)Kebutuhan air pada ke tiga fase tersebut tentu akan bervariasi :Pada fase vegetatif (0-60 hari) mulai tanam umur 0-20 hari kebutuhan air sangat penting karena terjadi masa anakan aktif, umur 20-30 hari kebutuhan air penting karena sedang terjadi fase anakan maksimum, umur 35-50 pengairan menjadi tidak penting. Sedangkan pada fase reproduktif umur 60-75 hari terjadi fase inisiasi pembentukan malai dan bunting kebutuhan air menjadi sangat penting kembali (kritis). Fase pembungaan (75-90) keberadaan air penting, 90-100 hari masa pemasakan keberadaan air cukup penting, sedangkan umur 100-120 hari fase menjelang panen keberadaan air menjadi tidak penting. Volume kebutuhan air dalam setiap fase pertumbuhan tanaman padi sawah adalah sbb:Pada fase pembentukan tunas dibutuhkan 50 mm air selama 10 hari, vegetatif 320 mm selama 60 hari, pembungaan 80 mm selama 15 hari, pengisian polong 85 mm selama 20 hari, dan masa pematangan 65 mm selama 15 hari.Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam memenuhi kebutuhan air adalah deret hari kering, yaitu jumlah hari berturut-turut tanpa kejadian hujan. Kejadian hari kering merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk mengukur tingkat kerawanan wilayah terhadap kekeringan. Dari hasil penelitian dikatakan bahwa untuk daerah tropis terjadinya deret kering selama 7 hari atau lebih mempunyai dampak yang sangat serius terhadap hasil tanaman (McCaskill and Kariada, 1992). Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan, Puslit Tanah