Loading...

Sistem Pertanian Berintergrasi Merupakan Solusi Untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Sistem Pertanian Berintergrasi Merupakan Solusi  Untuk Menghadapi Perubahan Iklim
Sistem Pertanian Berintergrasi Merupakan Solusi Untuk Menghadapi Perubahan Iklim Pertanian bukan hanya merupakan aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja,tetapi pertanian adalah sebuah cara hidup bagi sebagian petani di Indonesia dan merupakan sumber penghasilan terbesar di Indonesia. Dalam proses yang dilakukan dalam pertanian,harus ada sistem yang berlaku di dalam pertanian agar pola pertanian dilakukan secara terukur dan mampu memajukan kesejahteraan petani. Beberapa tahun terakhir ini, keadaan iklim sangat tidak menentu. Kadang-kadang ketika panas terik, turun hujan deras. Tidak lama hujan berhenti, lalu terang lagi. Kondisi seperti ini sangat merugikan petani, karena banyak petani yang mengalami gagal panen Untuk mengantisipasi kondisi ini, sudah saatnya kita menerapkan model pertanian tekno-ekologis yang berupaya memadukan kekuatan pertanian ekologis dengan pertanian berteknologi maju yaitu Sistem Pertanian Berintregrasi. Pengembangan kegiatan pembangunan pertanian melalui kegiatan integrasi tanaman ternak juga telah menjadi pola usahatani yang banyak dikembangkan di berbagai daerah dan agroekosistem di Indonesia. Selain menjadi sumber pendapatan keluarga, pola ini dipandang dapat memberikan berbagai dampak pada proses integrasi dengan program pengembangan usaha lainnya yang lebih luas. Berbagai pola pengembangan integrasi tanaman-ternak baik yang berbasis komoditas maupun agroekosistem telah menjadi bagian dalam upaya mendukung usaha pembibitan sapi potong dalam negeri Model integrasi tanaman ternak yang dikembangkan di lokasi beberapa daerah dan negara berorientasi pada konsep sistem produksi tanpa limbah (zero waste production system), yaitu seluruh limbah dari ternak dan tanaman didaur ulang dan dimanfaatkan kembali ke dalam siklus produksi. Konsep terapan pertanian terintegrasi akan menghasilkan F4 yang sebenarnya adalah langkah pengamanan terhadap ketahanan dan ketersediaan pangan dan energi secara regional maupun nasional, terutama pada kawasan kawasan remote area dari jajaran kepulauan Indonesia. F1 [ FOOD; Pangan manusia (beras, jagung, kedelai, kacang-kacangan, jamur, sayuran, dll.), produk peternakan (daging, susu, telor, dll.), produk budi-daya ikan air tawar (lele, mujair, nila, gurame, dll.) dan hasil perkebunan (salak, kayumanis, sirsak, dll.) F2 [ FEED; Pakan ternak termasuk di dalamnya ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau, kelinci), ternak unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung dara, dll.), pakan ikan budidaya air tawar (ikan hias dan ikan konsumsi). Dari budidaya tanaman padi akan dihasilkan produk utama beras dan produk sampingan bekatul, sekam padi, jerami dan kawul, semua produk sampingan apabila diproses lanjut masih mempunyai kegunaan dan nilai ekonomis yang layak kelola. Jerami dan malai kosong (kawul) dapat disimpan sebagai hay (bahan pakan kering) untuk ternak ruminansia atau dibuat silage (makanan hijau terfermentasi), sedangkan bekatul sudah tidak asing lagi sebagai bahan pencampur pakan ternak (ruminansia, unggas dan ikan). Pakan ternak ini berupa pakan hijauan dari tanaman pagar, azolla, dan eceng gondok. F3 [ FUEL; Akan dihasilkan energi dalam berbagai bentuk mulai energi panas (bio gas) untuk kebutuhan domestik/masak memasak, energi panas untuk industri makanan di kawasan pedesaan juga untuk industri kecil. Hasil akhir dari bio gas adalah bio fertilizer berupa pupuk organik cair dan kompos. Pemakaian tenaga langsung lembu untuk penarik pedati, kerbau untuk meng-olah lahan pertanian sebenarnya adalah produk berbentuk fuel/energi. Sekam padi dapat dikonversi menjadi energi (pembakaran langsung maupun gasifikasi) dan masih akan menghasilkan abu maupun arang sekam yang dapat diimplementasikan sebagai pupuk organic, sementara apabila energi sekam padi digunakan untuk gas diesel engine akan didapatkan lagi hasil sampingan berupa asap cair (cuka kayu) yang dapat digunakan untuk pengewet makanan atau campuran pestisida organik. F4 [ FERTILIZER; Sisa produk pertanian melalui proses decomposer maupun pirolisis akan menghasilkan organic fertilizer dengan berbagai kandungan unsur hara dan C-organik yang relative tinggi. Bio/organic fertilizer bukan hanya sebagai penyubur tetapi juga sebagai perawat tanah (soil conditioner), yang dari sisi keekonomisan maupun karakter hasil produknya tidak kalah dengan pupuk buatan (anorganik fertilizer) bahkan pada kondisi tertentu akan dihasil-kan bio pestisida (dari asap cair yang dihasilkan pada proses pirolisis gasifikasi) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan yang tidak berbahaya (bio preservative). Penulis Yasir Harun, SP Penyuluh Pertanian Desa Galung, Kab Barru.