Loading...

SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO (JARWO) PADA PADI

SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO (JARWO) PADA PADI
Hasil tanaman padi (ton GKG/ha) merupakan perkalian antara jumlah populasi atau rumpun per hektar dengan bobot gabah per rumpun. Untuk itu, cara tanam dan jarak tanam akan mempengaruhi hasil produksi padi, karena pengaturan jarak tanam akan menentukan jumlah rumpun per hektar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kepekaan antarvarietas terhadap jarak tanam. Sebagai contoh kerapatan tanaman 20 cm x 5 cm pada varietas HIPA 14 dan INPARA 4 menyebabkan penurunan jumlah malai dari kapasitasnya berkisar antara 0,18, sedangkan penurunan yang terjadi pada varietas Ciherang berkisar antara 0,28. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing varietas tersebut peka dan toleran terhadap jarak tanam rapat. Aspek fisiologis jarak tanamJarak tanam mempengaruhi penangkapan radiasi surya oleh tanaman untuk proses fotosintesis, proses penyerapan hara oleh akar tanaman yang menentukan pola perakaran, proses pemenuhan kebutuhan air tanaman untuk evapotranspirasi perakaran, serta proses sirkulasi CO2 dan O2 hasil fotosintesis dan respirasi tanaman. Selain itu, jarak tanam juga berpengaruh terhadap ketersediaan ruang untuk berkembangnya populasi gulma, serta terbentuknya iklim mikro di bawah kanopi yang menentukan perkembangan OPT.Jarak tanam lebar akan menyebabkan populasi tanaman per satuan luas berkurang, membuat tajuk tanaman menangkap radiasi surya dengan baik, memperlancar pergerakan gas CO2 ke tanaman (fotosintesis), meningkatkan pertumbuhan tanaman (jumlah anakan), mempengaruhi dan perakaran baik, dan meningkatkan bobot kering tanaman dan bobot gabah per rumpun. Jarak tanam rapat akan meningkatkan jumlah populasi, menurunkan jumlah malai per rumpun, tetapi jumlah malai per m2 secara nyata meningkat.Berkaitan dengan pengaturan cara tanam, kini berkembang variasi tanam sebagai berikut: (a) tanam benih langsung atau tanam pindah; (b) umur benih yang digunakan bervariasi mulai dari 7 Hari Setelah Sebar (HSS), 17 HSS, 21 HSS hingga 28 HSS yang memiliki pertimbangan keuntungan berbeda menurut lokasi; dan (c) jumlah benih per lubang tanam bervariasi dari 1, 3, 5, 10 bahkan 30 benih per lubang tanam. Dari tanam satu benih per lubang, akan berkembang anakan secara sempurna dan akhirnya sama atau lebih baik dibandingkan dengan penggunaan benih lebih dari satu per lubang. Selain itu, kebutuhan benih per hektar menjadi lebih sedikit (+ 10 kg/ha). Dengan cara tanam 30 benih per lubang (ekstrim banyak) hasil gabah tidak mengandalkan dari anakan, tetapi dari "indukan" dengan kualitas malai yang pada umumnya lebih baik dibandingkan dengan yang berasal dari anakan. Bila semua benih tumbuh menjadi "indukan", maka akan terbentuk minimal 30 indukan per rumpun, sehingga diharapkan akan mencapai hasil (ton/ha) yang tinggi. Sistem Teknologi Tanam Padi Jajar LegowoSistem tanam jajar legowo ini merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Sistem tanam ini terbukti mampu memberikan sirkulasi udara dan memanfaatkan sinar matahari lebih optimal untuk pertanaman padi sawah, menurunkan populasi organisme penganggu tanaman (OPT), mempermudah upaya penanggulangan gulma, pemupukan, perawatan dan pengamatan OPT. Intersepsi cahaya yang lebih optimal mampu meningkatkan aktivitas fotosintesis. Hasil penerapan inovasi jajar legowo dalam sistem budidaya padi berhasil meningkatkan provitas rata-rata 21 %. Dengan keunggulan tersebut, maka sistem tanam jajar legowo ini merupakan salah satu teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi yang direkomendasikan, selain pengembangan Varietas Unggul Baru (VUB) padi adaptif, penerapan pemupukan spesifik lokasi, penerapan pengelolaan irigasi, panen tepat waktu dan teknologi perontokan gabah. Di lahan beririgasi komponen teknologi tanam jajar legowo menjadi wajib diterapkan (baik 2:1 maupun 4:1) guna meningkatkan optimalisasi populasi tanaman per satuan luas. Selain alat tanam jajar legowo yang sederhana (caplak), untuk mempromosikan penerapan teknologi tanam jajar legowo secara luas, kini juga telah tersedia mesin tanam jajar legowo (jarwo transplanter) dan mesin panen jajar legowo (combine harvester). Sumber informasi:1. Anonymous. 2015. Prioritas Program Kerja Balitbangtan dan Dukungan Penyuluh/ Kelembagaan Penyuluhan: Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian2. Makarim Karim Abdul dan Suhartatik Endang. 2015. Setting Budidaya Padi Berbasis Sains. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian3. Anonymous. 2015. Dukungan Teknologi Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Di Provinsi Papua Tahun 2015. Jayapura: Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Provinsi PapuaPenulis: Diana Prasastyawati /Penyuluh Pertanian Pusat