Loading...

Sistem Tanam Pindah Pada Budidaya Jagung Manis di Kabupaten Takalar

Sistem Tanam Pindah Pada Budidaya Jagung Manis di Kabupaten Takalar
Jagung merupakan komoditas pangan sumber karbohidrat kedua setelah beras yang sangat penting untuk ketahanan pangan. Dalam kurun lima tahun terakhir, kebutuhan jagung nasional untuk bahan industri pakan, makanan dan minuman meningkat 10 % - 15 % per tahun. Pengembangan jagung di arahkan untuk mewujuidkan Indonesia menjadi produsen jagung yang tangguh dan mandiri pada tahun 2025 dengan produksi yang tinggi, efisien, berkualitas dan mempunyai nilai tambah yang berdaya saing. Kabupaten Takalar yang merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, selama 5 (lima) tahun terakhir telah berhasil menjadi pengembang jagung manis khususnya di kecamatan Galesong dan telah mensuplai kebutuhan jagung manis untuk di wilayah Sulawesi Selatan terutama wilayah Makassar dan Gowa bahkan telah sampai ke Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Keberhasilan para petani menanam jagung di lahan sawah tadah hujan dengan pola tanam padi, padi, palawija tidak terlepas dari peran Penyuluh pertanian yang setia mendampingi petani dalam adopsi tekmologi budidaya jagung. Ketika melakukan praktek kompetensi pelatihan dasar fungsional penyuluh pertanian di Kecamatan Galesong, Desa Bontoloe Kabupaten Takalar selama 4 (empat) hari 18 Juli 2018 – 20 Juli 2018, jagung manis yang di tanam oleh petani dilakukan dengan sistem tanam pindah, hal ini merupakan sesuatu yang unik dan baru karena penanaman jagung yang selama ini dilakukan yaitu dengan sistem tugal. Selama ini juga sistem tanam pindah hanya dilakukan di tanaman padi, cacao, kelapa dan beberapa komoditas tanaman perkebunan lainnya. Keuntungan sistem tanam pindah pada jagung manis yaitu pertumbuhan tanaman seragam, buah yang dihasilkan mempunyai ukuran yang besar dan bobot buah yang berat serta umur tanaman pendek. Benih jagung manis yang akan ditanam, terlebih dahulu di bibitkan di koker dengan menggunakan media tanam kompos. Koker yang digunakan dapat dibuat dari daun pisang atau daun kelapa, dimana setiap koker di isi 2 biji jagung. Setelah 1 (satu) minggu atau setelah muncul 3 (tiga) helai daun, tanaman jagung siap di pindahkan ke lubang tanaman dengan jarak tanam 40 x 60 cm. Pengolahan tanah perlu dilakukan sebelum, jagung dipindahkan ke lubang tanaman. Pemberian pupuk dasar NPK phonska dengan dosis 150 kg / Ha, setelah tanaman berumur 15 hari, pemberian pupuk urea sebanyak 375 kg /ha. Varietas benih jagung yang digunakan oleh masyarakat desa Bontoloe adalah varietas Bonanza dan Parago, jumlah benih yang digunakan 4 kg / ha. Penyiangan dilakukan 2 (dua) minggu sekali, pada umur 14 (empat belas) hari dan pada umur 6 (enam) minggu setelah tanam dengan pembubunan, mencangkul tanah diantara barisan lalu ditimbun kebagian barisan tanaman sehingga membentuk gludukan. Hama yang umumnya menyerang tanaman jagung manis di desa Bontoloe yaitu hama penggerek batang, pengendaliannya dapat dilakukan dengan pemberian insektisida dengan bahan aktif carbofuran baik dengan sistem tugal maupun disemprot dengan dosis yang ada pada kemasan. Pengairan pada musim kemarau dilakukan pada umur 15 hst, 30 hst, 45 hst, 60 hst. Pemanenan jagung dapt dilakukan ketika jagung berumur 75 hari dengan cara mematahkan tangkai buah jagung. Penulis :EDY SISWANTO, SP., MP SUMANTO PASALLY Alumni Peserta Diklat Dasar Ahli Angkatan V, Balai Besar Batangkaluku.