Loading...

sistem usaha tani integrasi tanaman pangan dengan ternak kerbau (bubalus bubalus) di nagari koto padang kecamatan koto baru kabupaten dharmasraya

sistem usaha tani integrasi tanaman pangan  dengan ternak kerbau (bubalus bubalus)  di nagari koto padang kecamatan koto baru  kabupaten dharmasraya
sistem usaha tani integrasi tanaman pangan dengan ternak kerbau (bubalus bubalus) di nagari koto padang, kecamatan koto baru, kabupaten dharmasraya agrosistem pada daerah dataran rendah beririgasi di tepi sungai yang terdapat di nagari koto padang kecamatan koto baru kabupaten dharmasraya berpotensi untuk pengembangan sektor tanaman pangan dan peternakan. tujuan dilakukannya survei ini adalah untuk mengetahui kontribusi ternak kerbau dalam sistem usahatani tanaman pangan pada agroekosistem dataran rendah. studi ini dilaksanakan dengan cara menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner). sampel diambil di setiap jorong yang menjadi sentra ternak kerbau pada nagari dimana populasi kerbau terbanyak. berdasarkan hasil wawancara terhadap responden diketahui usaha tani yang dilakukan petani adalah sebagian besar adalah padi dan ternak kerbau. nagari koto padang mempunyai luas panen lahan sawah 225 ha. daya dukung pakan berupa jerami padi terhadap ternak kerbau 3.802 ton bkc/st. hasil studi dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan kerbau dilakukan sebagai usaha sampingan ( untuk tabungan, untuk biaya pendidikan anak dan perbaikan rumah ) sehingga manajemen pemeliharaan masih bersifat tradisional. usaha utama adalah bertanam padi. usaha yang dilakukan petani masih layak untuk diusahakan karena nilai r/c yang dihasilkan lebih besar dari 1. ada tiga komponen utama dalam system usaha tani integrasi tanaman pangan dengan ternak kerbau : (1) budidaya ternak, (2) budidaya tanaman pangan dan (3) pemanfaatan jerami dan kompos. nagari koto padang mempunyai lahan pertanian dengan agroekosisten dataran rendah, beririgasi dan langsung mengalir ke sungai. populasi ternak kerbau sampai tahun 2018 di nagari koto padang mengalami penurunan, akan tetapi penurunan populasi di nagari koto padang ini tidak merata di setap jorong yang ada di kenagarian koto padang. ternak kerbau di nagari koto padang kecamatan koto baru kabupaten dharmasraya dipelihara secara tradisional, dengan mengandalkan padang rumput dan pakan jerami padi pada saat musim panen , kemudian digembalakan. kelemahan ternak kerbau yaitu mempunyai kemampuan terbatas untuk merubah kelebihan energy menjadi jaringan lemak dibandingkan dengan ternak sapi (moran, 1978), sehingga di duga daging kerbau berkolesterol rendah. sedangkan kelebihan ternak kerbau adalah kemampuan untuk mencerna pakan yang mengandung serat kasar tinggi. sehingga ternak kerbau mampu mencerna jerami padi yang tersedian pada saat musim panen dan dapat disimpan sebagai cadangan pakan pada musim kemarau. populasi ternak kerbau di nagari koto padang kecamatan koto baru kabupaten dharmasraya hanya 535 ekor, nagari koto padang termasuk populasi yang tinggi di kabupaten dharmasraya (data monografi koto padang 2018). tujuan dilakukan survey ini adalah untuk mengetahui konstribusi usaha ternak kerbau dalam system integrasi usahatani tanaman pangan terutama padi sawah di nagari koto padang kecamatan koto baru kabupaten dharmasraya. survey ini dilakukan di nagari koto padang kabupaten dharmasraya pada tahun 2019, dalam bentuk survey secara langsung di lapangan kepada petani / peternak dengan menggunakan kuisioner untuk mendapatkan data primer, sedangkan untuk data sekunder di dapatkan dari instansi terkait. pengambilan sampel dilakukan pada agroekosistem dataran rendah dengan nagari sentra ternak kerbau. berdasarkan hasil wawancara terhadap responden diketahui usaha tani yang dilakukan petani di nagari koto padang adalah tanaman padi sawah dan ternak kerbau. nagari koto padang mempunyai luas sawah 225 ha dan daya dukung berupa jerami padi mencapai 3.802 ton skc/st.(bahan kering tercerna). penampilan ternak di agroekosistem dataran rendah lebih baik, terutama yang berlokasi di sepanjang sungapengairan irigasi di nagari koto padang. ternak kerbau pada umumnya tidak digunakan untuk membajak sawah, hanya dipelihara dan diberi pakan jerami padi tanpa olahan dengan cara melepaskan ternak kerbau ke lahan sawah yang sudah panen dan dengan mengembalakan ternak mereka di padang rumput karena rumput lapang tersedia sepanjang waktu yang ada di pinggiran sungai dan jaringan irigasi. hal ini berdampak positif terhadap pertambahan bobot badan dimana ternak kerbau perlu melakukan aktifitas berkubang atau mandi sambil berendam dalam air. menurut kasim dan baharin (1979), kerbau berkubang pada siang hari selama 4.47-5.90 jam, akan tetapi dikemukakan oleh zulbardi. et.al (1982), dengan memberikan waktu berkubang 30 menit telah memberikan efek pertambahan bobot hidup lebih baik dibandingkan dengan kerbau yang tidak diberikan kesempatan yang berkubang. pada dasarnya peternak kerbau di dataran rendah masih bersifat sampingan karena sampai saat ini system pemeliharaannya masih secara tradisional. kepemilikan ternak hanya untuk tabungan, untuk pendidikan dan acara pernikahan anak serta untuk membangun dan memperbaiki rumah. harga jual ternak kerbau menurut patokan petani untuk kerbau betina umur besar dari 24 bulan rata-rata rp. 12.000.000,-/ekor, sedangkan kerbau jantan harga jualnya berkisar rp. 18.000.000,-/ekor. pada agroekosistem dataran rendah usaha tanaman padi dan ternak kerbau dengan pola tanam padi-padi-bera. sector tanaman pangan masih mendominasi sebagai usaha utama sedangkan ternak kerbau sebagai usaha sampingan. namun demikian pakan yang diberikan pada ternak kerbau porsi yang terbesar adalah jerami padi 70 % dan 30 % berasal dari rumput lapangan dengan cara digembalakan di pinggiran sungai atau di lahan kosong. petani yang menggunakan kotoran kerbau sebagai pupuk kandang di lahan adalah sebanyak 40 %. kotoran kerbau digunakan secara langsung di lahan tanpa proses pengomposan, demikian juga dengan jerami padi juga dijadikan sebagai pakan ternak kerbau secara langsung tanpa ada proses fermentasi atau amoniasi sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pakan. usahatani yang dilakukan petani masih layak untuk diusahakan karena nilai r/c yang dihasilkan dari masing-masing usahatani lebih besar dari 1. usahatani pada agroekosistem dataran rendah kontribusi terbesar adalah tanaman pangan padi sawah yaitu 75,78 %. penulis : m. haris can, sp sumber : kassim, m dan k. baharin. 1979. moran, j.b. 1978. perbandingan jenis sapi daging indonesia. bogor. zulbardi, m., andi djajanegara dan m. rangkuti. 1982. pengaruh pelepasan terhadap konsumsi jerami padi pada kerbau. bogor.